Kamis, 12 Agustus 2010

Ajaran2 Ki Ronggi Warsito

Pendahuluan

Tulisan ini ditujukan untuk mengenal salah satu Pujangga Besar di Tanah Jawa ini, Raden Ngabehi Ranggawarsita, seseorang yang dengan karyanya dapat member warna tersendiri dalam kehidupan masyarakat dan komunitas Jawa serta orang-orang Jawa yang masih mau menjadi Jawa. Tulisan ini akan sedikit membahas siapa, apa karyanya, apa pemikian (filosofi) yang beliau ingin sampaikan, dan nilai-nilai apa yang ingin beliau sampikan pada kita. Tulisan ini disadur , disarikan, diadaptasi dan diterjemahkan dari 2 (dua) tulisan yang ditulis di MajalahPanjebar Semangat, No 14 dan 15, 14 dan 21 Juni 2008. Banyak kekurangan, kelengkapan karya, pemaknaan dan berbagai kekurangan lain yang ada dalam tulisan ini, hal ini dikarenakan keterbatasan saya mengenai Sang Pujangga Besar Tanah Jawa, semoga sedikit memberikan cahaya bagi pembaca. Pengayaan bacaan dan sumber sebaiknya dilakukan oleh siapapun pembaca yang tertarik untuk belajar dan ngangsu kawruh mengenai nilai-nilai dan filosofi Jawa, khususnya yang untuk karya-karya Sang Pujangga.

Riwayat Hidup

Raden Ngabehi Ranggawarsita

Lahir pada 10 Dulkaidah 1728 atau 15 Maret 1802.

Nama kecilnya adalah Bagus Burhan.

Meninggal pada 5 Dulkaidah 1802 atau 24 Desember 1873.

Di makamkan di Dusun Dalar, Desa Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Gelar yang disandang oleh beliau adalah Abdi Dalem Kaliwon Nem Kadipaten Anom Pujangga ing Kraton Surakarta Hadiningrat.

Karya-karya beliau mencapai lebih dari 60 karya.

Thema-thema karya beliau meliputi (1) pengetahuan bahasa dan sastra, (2) dongeng, (3)roman klasik, (4) kesenian, (5) cerita pewayangan, (6) ramalan, (7) filsafat, dan lain-lainnya.

Mahakarya

1. Kitab Sabdajati

Berupa tembang macapat megatruh (sapupuh), terdiri dari 19 pada.

Berisi nasehat2 untuk :

Berlaku baik untuk menuju keselamatan, berhati2 dan tidak berbuat salah, melakukan kesalahan akan menjadi tempat (sarang) iblis.

Memintalah (berdoa) dengan sungguh pada Illahi, karena akan terjadi jaman binggung (pakewuh). Jaman yang membinggungkan, kesengsaraan dan keributan, tiap orang mencari benarnya sendiri, dan tidak ada kesetiaan. (setan mono nggawa kendhi isi dhuwit emas).

2. Kitab Kalatida

Tembang Sinom (sapupuh), 12 pada. Negara yang sepi dengan tata Negara yang ruwet, tidak ada teladan yang baik dan meninggalkan sifat2 terpuji. Pra cendikiawan terseret ombak katatida, kehidupan menjadi susah. Banyak orang baik tetapi tidak memapu mencegah kalabendu, malah semakin ruwet.

Jaman edan, melu edan ora tahan, yen ora nglakoni edan ora kebagian wusana keluwen. Keadilaning Gusti Allah, sak beja-bejane wong kang lali iso beja wong kang eling lan waspada.

3. Kitab Sabdapranawa

Tembang Dandang Gula, 12 pada.

Jaman Edan, merupakan kehendak Gusti, jaman dengan kwkawatiran, jaman dengan aturan yang acak2an, hidup menjadi sangat susah.

Kurangilah nafsu jahat, memikirkan y ang baik, mengayomi sesame dan memerangi kejahatan, hendaknya berterus terang untuk menciptakan kebaikan bersama.

Munculnya aji mumpung, korupsi dan keserakahan merajalela, sulit berbuat baik (ewuh aya in tyase), lupa pada keutamaan (llimut ing kautaman), kejahatan dimana2, sifat kurang menjadi2 (watak candhala andadhra), kehilangan ketentraman (sirna tentreming ati), banyak ratap tangis (wong udarasa manggung).

Waspadalah, karena akan berganti dengan jaman baik (taun windu kuning, tekane wewe kuning,ageman tebu wulung kanggo mateni wedhon, sing ilere mbebayani banget). Selanjutnya akan muncul jaman baik (jaman becik) karena kekuasaan Hyang Maha Mulya. Datangnya wahyu, kebaikan, dan keselamatan, menuju kemakmuran bersama (rayayu harja mulya).

4. Kitab Sabdatama

Tembang Gambuh (sapupuh), 22 pada.

Pada jaman kalabendu manusia hendaknya pandai2 mengelolah nafsu supaya tidak berbuat jahat dan maksiat. Menjaga hati, mengayomi sesame dan mencegah kejahatan. Aturan semakin banyak dibuat tetapi keserakahan menjadi2. Kebingungan dan ratap tangis dimana2 (njugrugake gunung ora ana sing ngalang2i).

Gambaran dalam warna kuning, merah,d an biru. Taun windu kuning, ana wewe putih, nyekel gaman tebu wulung nedya ngrangsang pocongan. Datangnya Wahyu tidak dapat dicegah, keselamatan akan datang. Para cerdik pandai bersatu hati menghadapai bahaya dan berani bertindak untuk kebaikan.

5. Kitab Jaka Lodang

Tembang Macapat (3 pupuh - Gambuh, Sinom, Megatruh).

Berisi ramalan Ranggawarsitan:

1) Pupuh Gambuh

Mulai tahun 1850 Saka (1919 Masehi) dan setelahnya.

Gunung meletus, tanah longsor dan lain2nya.

2) Pupuh Sinom

Mulaih tahun 1860 Saka (1929 Masehi)

Kejadian2 yang selalu berlawanan.

Kehendak baik selalu gagal, penguasa berlaku korup, dan orang pandai menjadi bodoh danmempu.

3) Pupuh Megatruh

Suatu saat nanti.

Orang ngantuk menemukan harta benda dan kebaikan ada dimana2.

6. Citra Prabu Watu Gunung

Dalam kitab Pustakakara Jupurwa, Raden Watugunung menjadi Raja di Giligwesi dan menikahi ibunya sendiri (Basundari atau Sinta).

Catatan-Catatan

1) Kalabendu

Jaman dalam Kitab Jangka Jayabaya

Kalabendu (1701—1800 )Sadana, Lodra, Jayta

Kalasuba (1801—1900) Wibawa, Saeka, Santosa

Kalasumbaga (1901—2000) Hendana, Karetna

Kaladrata (2001—2100) Darmana, Watara, Iseka.

Kalabendu Ranggawarsitan:

Waluyane benjang yen wus ana wiku, memuji ngesthi sawiji, sabuk lebulir majenun, gali bedan tudang-tuding, ana cahken sakehing wong (Jaman yang menyedihkan akan kembali menjadi baik dan tenteram jika para alim ulama kembali mengumandangkan puji2an dan pemikiran yang baik).

2) Taun Windu Kuning

Datangnya wewe putih, membawa senjata tebu wulung untuk mengalahkan pocongan.

3) Kethuk isi duwit mas

Jaman Kalabendu akan lewat dan berganti dengan jaman Kalasuba.

Jaman yang membahagiakan, orang menganggur saja kaya raya.

Anjuran dan Ajaran

Ing Jaman edan, wong dadi binggung. Melu edan ati ora tekan, ora melu edan ora kebagian, wusana keluwen. Nangging sabegja-begjane wong lali, luwih begja wong kang eling lan waspada.

Ajaran dan pertanda yang masih berguna sampai saat ini dan perlu perenungan lebih dalam lagi untuk menemukan mutiara2 terpendam lainnya.

KAWRUH KEJAWEN

PRAKATA

Belajar KEJAWEN, bukan semata belajar ritual2 Jawa tetapi lebih pada belajar mengenai filsafat hidup (falsafah) ala Jawa.

Sebagai manusia2 yang hidup (makan, minum, dan beraktivitas) di tanah Jawa, seharusnyalah setiap manusia itu tahu mengenai pandagan hidup tanah yang didiaminya. Artinya belajar KEJAWEN adalah suatu keharusan. Tetapi saying karena bengkoknya pemahaman, KEJAWEN hanya dianggap sebagai ritual2 animisme dan dinamisme tinggalan manusia2 prasejarah. Bahkan oleh para penganut Agama2 Samawi telah dijadikan barang haram yang najis untuk disentuh, padahal merekalah ajaran2 import yang masuk dan menjajah JAWA.

KEJAWEN telah ditinggalkan, KEJAWEN telah dilupakan, bahkan KEJAWEN telah dinistakan dan dihinakan sebagai haram jadah yang tidak boleh disentuh sama sekali. Pantaslah kalau sekarang ini banyak orang JAWA yang telah kehilangan kejawaannya (lali jawane) dan bahkan ada yang menolak menjadi JAWA sehingga menjadi perusak tanah JAWA (ora jawa). Tanah JAWA menjadi merana karena tatanannya telah dirusak dan porak porandakan oleh pemikiran2 bengkok dan sesat, yang ingin menjadikan JAWA hanya sebagai tanah bukan JAWA sebagai suatu kesatuan kosmos, kesatuan dunia.

Tulisan ini disajikan untuk membuka mata hati dan mata bathin manusia2 yang hidup di tanah JAWA dan manusia2 keturunan JAWA yang bukan lagi lupa tetapi menolak dan bahkan menistakan JAWA dan KEJAWEN sebagai tatanan dan ajaran hidup di atasnya. Tulisan ini hanya sebagian kecil, hanya beberapa butir tanah diantara bermilyar butiran tanah di Tanah JAWA yang tak terhitung jumlahnya.

Tulisan yang terbatas ini disajikan berdasar secuil pengetahuan penulis dan dilengkapi dengan saduran dan adaptasi dari 2 tulisan dari Majalah Panjebar Semangat, edisi 41 dan 49, tanggal 11 Oktober dan 6 Desember 2008. Tulisan yang sederhana dan jauh dari sempurna ini mewajibkan siapapun pembacanya untuk memperkaya pengetahuan dan pemahaman mengenai JAWA dan KEJAWEN dari berbagai sumber yang bisa didapatkannya. Semoga berkenan dan bermanfaat. Hayu, Hayu, Rahayu.

KAWRUH KEJAWEN

Kawruh Kejawen merupakan filsafat hidup (falsafah) alah JAWA.

Saat ini diartikan berbeda oleh banyak orang, Kejawen dianggap sebagai suatu aliran kepercayaan., bahkan dianggap sebagai AGAMA JAWA.

KEJAWEN mencakup ide dasar kehidupan, mengenai adanya Tuhan, Dunia dan isinya, Asal usul manusia, Manusia dan alam, dan Tuntutan untuk hidup. Bedanya, KEJAWEN tidak memiliki Kitab Suci seperti Agama2 yang ada.

Filsafat Jawa berasal dari oleh rasa dan spiritual orang Jawa sejak dahulu kala. Tuhan (Gusti kang Murbeng Dumadi) telah menaruh benih spiritual pada masing2 manusia untuk setiap bangsa. Spiritualisme Jawa bermanfaat untuk hidup di tanah Jawa dan untuk membangun peradaban Jawa.

JAWA merupakan wilayah tropis dengan gunung vulkanis yang beragam sehingga tanahnya subur dan keanekaragaman hayati yang cukup lengkap. Tetapi tanah JAWA juga rentan terhadap bencana alam, sehingga pengertian dan nilai2 hidup dibangun atas pemahaman tersebut.

JAWA juga bersinergi (campur wayuh) dengan berbagai ajaran seperti Hindu, Buddha, dan Islam. Eksistensi JAWA susah dirunut karena semua bukti tertulis dan tercatat merupakan sinkritisme dengan Hindu, Buddha, dan Islam. Catatan asli tentang JAWA yang dapat dirunut adalah HARI PASARAN, WUKU, MANGSA, WINDU, dan TAUN serta DINA PARINGKELAN. Bukti kejawaan nampak dalam mahakarya MAHABHARATA dan RAMAYANA yang penuh dengan ide2 JAWA, termasuk silsilah raja2 yang berbeda dengan yang di India.

Masuknya Islam menambah kasanah filsafat JAWA dalam bentuk Layang, Suluk, dan Serta Kapunjangan. Berisi ajaran2 Tasawuf Islam yang kaya dengan unsur konseptualisme JAWA. Contohnya adalah sejarah nabi2 Islam yang bercampur dengan dewa2. Cerita Kakawin Serat Kapunjangan merupakan penyikapan JAWA terhadap masuknya ‘ agama baru’ dari luar JAWA. JAWA sangat pluralistis dan siap hidup dengan perbedaan agama dan kepercayaan. Bukannya dikooptasi, tetapi JAWA menjadi warna baru dari tiap2 agama impor yang masuk ke tanah JAWA.

JAWA memiliki bukti kehidupan, baik berupa fosil maupun artefak dari ribuan tahun yang lalu, tetapi JAWA juga penuh dengan artefak yang berbau agama impor. Hal ini membuktikan bahwa JAWA adalah tempat yang nyaman untuk berkehidupan dan perkembangan budaya dan peradaban.

Dasar2 Filsafat JAWA

1. Kesadaran Religius

Keimanan dan kepercayaan kepada sesembahan (Tuhan Semesta Alam) yang mendasari munculnya sistem religi dan ritual penyembahan.

2. Kesadaran Kosmis

Menggambarkan hubungan manusia dengan alam semesta dan isinya. Menciltakan ritual sesaji dengan falsafah “sakabehing kang ana manunggal kang kapurbalan kawasesa dening Kang Murbeng Dumadi”.

3. Kesadaran Peradaban

Pemahaman mengenai hubungan manusia dengan manusia.

Berwujud ajaran:

· Memayu hayuning pribadi,

· Memayu hayuning kaluwarga,

· Memayu hayuning bebyaran,

· Memayu hayuning Negara,

· Memayu hayuning bawana.

Menurut Prof. Dr. Branders (1889), manusia JAWA telah memiliki 10 dasar kehidupan asli yang ada sebelum masuknya agama2 impor, yaitu:

(1) Pertanian, sawah, dan irigasi, (2) pelayaran, (3) perbintangan, (4) wayang, (5) gamelan, (6) batik, (7) metrum, (8) cor logam, (9) mata uang, dan (10) system pemerintahan.

Budaya2 tersebut ada sejak JAWA kuno dan merupakan kedaulatan spiritual JAWA, filsafat yang digunakan untuk hidup di tanah JAWA, filsafat hidup lengkap di JAWA.

Kesempurnaan, Kesatuan, dan Keutamaan

1. Kesadaran Religius

Iman adanya Tuhan (sesembahan) yang memunculkan ritual penyembahan.

Sembah Raga, Jiwa, dan Sukma, yang mencakup semua daya hidup berupa cipta, rasa, karsa, dan daya spiritual. Bertentuk Tapa Brata (Durung wenangamemuja lamun during tapa brata).

Terdiri dari 5 bentuk:

1) Mengurangi makan dan minum (anerima),

2) Mengurangi keinginan hati (eling),

3) Mengurangi nafsu birahi (tata susila),

4) Mengurangi nafsu amarah (sabar), dan

5) Mengurangi berkata2 atau bercakap2 yang sia2 (sumarah).

Tapa Brata bukan tata cara penyembahan seperti pada agama impor tetapi hanya sarana untuk menata kekuatan hidup (dayaning urip). Tapa Brata merupakan sifat totalitas menjalani hidup yang benar dan baik menuju kesempurnaan. Hidup yang sempurna (sukma) akan bersatu dengan Sang Sempurna (Guruning Ngadadi). Ilmu Kesempurnaan (Kawruh Kasampurnan)

2. Kesadasaran Kosmis

Hubungan manusia dan alam semesta, semua yang ada di semesta adalah satu (manunggal) yang ada berasal dari Sang Pencipta (Sukma Kawekas, Sah Hyang Wisesaning Tunggal, Sanghyang Wenang). Mendasari pengetahuan kesatuan, berupa hubungan kosmis-magis manusia dan alam seisinya.

Bentuk2 ajarannya adalah :

1) Bersatunya alam kecil (mikrokosmos) dengan alam besar (makrokosmos)

Alam dan seisinya, termasuk manusia adalah satu kesatuan.

2) Bapa Angkasa dan Ibu Bumi

Manusia dibangun dari unsur cahaya (cahya lan teja) dan unsur bumi (bumi, banyu, geni, lan angin utowo hawa).

3) Kakang Kawah Adi Ari2

Kelahiran berupa makhluk (Sabda Tuhan) yang tampak maupun tidak tampak. Kesadaran kesatuan akan semesta menjadikan manusia JAWA memiliki ritual SLAMETAN dan SESAJO (caos dahar). Sebagai contoh adalah SLAMETAN BROKOHAN.

Pengetahuan mengenai kesatuan disebut dengan persatuan manusia dan Tuhan (manunggaling kawula lan Gusti). Merupakan puncak filsafat JAWA.

3. Kesadaran Peradaban

Berupa hubungan manusia dengan sesama manusia.

Manusia sebagai makhluk utama haru berhubungan dengan sesame manusia dalam keutamaan (beradab). Mewujudkan kesadasaran berintergrasi apalagi dalam bernegara. Konsep “tata tentrem kerta raharja” menjadi tujuan utama. Sebagai konsep bermasyarakat dan bernegara.

Pengetahuan keutamaan merupakan ajaran untuk menciptakan dunia yang indah (memayu hayuning bawana). Untuk menciptakan dunia yang indah dibutuhkan keutamaan budi pekerti, nilai kerukunan, dan keselarasan yang menjadi nilai utama.

Sehingga, FILSAFAT JAWA (KEJAWEN) merupakan filsafat keutamaan, filsafat keselarasan, dan filsafat keberadaban untuk menciptakan hidup yang rukun, selaras, dan beradab yang berlandaskan budi pekerti dan spiritualitas yang luhur.

Selasa, 04 Agustus 2009

Trip to Manado - North Celebes

Pada akhir Juli 2009 kemarin, saya beserta keluarga (istri dan anakku) berkesempatan untuk berjalan2 dan menikmati indahnya Manado dan sekitarnya, termasuk Bunaken tentunya.
Keberangkatan pada hari senin pagi, 28 Juli dari Bandar Juanda dan kami harus transit kurang lebih 3 jam di Bandara Hassanudin - Makassar.  Sesampe di Manado, hari telah menjelang sore dan tiada tempat lain yang kami tuju kecuali Hotel untuk kami sekedar beristirahat dan bersih2 diri tentunya.  Kami menginap di Hotel Travello, Jalan Sudirman - Manado, tepat di tengah keramian dan kemacetan Kota Manado.
Acara pertama kami di Manado adalah makan malam di daerah Malalayang, entah itu pantai atau tebing? tapi kami rasa itu tebing.  Makan malam di salah salah satu restoran yang cukup besar disana.  Sayang badanku sudah mulai terasa tidak enak, makanan yang berlimpah tidak dapat kuhabiskan, padahal kalau aku sehat2 aja, mungkin bisa kulahap habis itu makanan. Sayang seribu sayang ........
Malampun tiba, saat beristirahat untuk menyiapkan diri berjalan2 mengelilingi Minahasa (Manado - Tomohon - Minahasa - Manado).  Perjalanan selepas sarapan di Hotel dengan tujuan pertama adalah Kota Tomohon, kota yang dikelilingi 3 gunung. Menurut cerita, Tomohon berasal dari kata Tou Mohon yang artinya orang memohon atau berdoa, karena kotanya sering diguncang oleh gempa dan letusan gunung2 di sekeliling kota tersebut.  Sebelum mencapai Tomohon kami berhenti dulu di semacam Puncak Pass, dimana tempat kami bisa melihat Manado dari atas.  Cantik juga, sayang cuaca agak berkabut sehingga pemandangan kurang bisa tertangkap dengan bersih.
Selanjutnya kami menuju ke Pagoda Ekayana, pagoda yang cukup tinggi dengan 18 patung buddha, naga, dan kura2.  Lucu juga, tempat ibadah bisa jadi tujuan wisata, dan nyatanya disana lebih banyak yang berwisata ketimbang beribadah.  Maklum latar belakang Gunung Lokon sungguh indah dan menampilkan kemegahan tersendiri.  Dari tempat ibadah kami meluncur ke tempat belanja, pasar maksudnya.  Di Pasar Tomohon jelas tersaji bahan makanan yang berbeda dari tempat2 lain di Indonesia.  Daging babi (ternak maupun liar), ular, anjing (RW), kelelawar (paniki), dan tikus hutan (kawok) tersaji.  Benar kata pepatah memang, semua yang berkaki bisa dimasak dan dimakan oleh orang2 Manado, kecuali kaki meja dan kursi, itupun karena keras hehehehehe ...... bahkan di Sulawesi Utara tidak ada kebun binatang, karena pasti binatangnya akan stress, terancam untuk dimasak hehehehehe.
Dari pasar kami mampir sebentar ke BLPT Kaaten, tempat pelatihan pengelolahan katu kelapan dan aren yang banyak bertebaran di seluruh Sulawesi Utara.  Ternyata kalau diolah dengan benar, akan menghasilkan furniture yang bagus dan kuat.  Sayang pemilik pusat pelatihan itu orang dari Swedia, kenapa tidak ada anak bangsa sendiri yang memperhatikan potensinya sendiri.  Sayang .. seribu kali sayang.  Setelahnya kami meluncur ke Desa wisata Rurukan, desa yang ada di puncak Tomohon, dengan hawanya yang dingin dan pemandangan Danau Tomohon yang cantik.  Sayang pengelolah pariwisata setempat (Kota Tomohon) belum memanfaatkan betul potensi wisata tersebut.  Bukan hanya sarana jalan yang masih belum memadai, tetapi juga sarana lain yang membuat orang betah berlama2 di Rurukan juga tidak ada, ironisnya lagi tidak ada usaha untuk memanfaatkan dan memberdayakan masyarakat lokal sebagai duta2 wisata setempat.  Keindahan dan kecantikan yang terbuang sia2, percuma tanpa bekas karena ketidak mampuan dan ketidak tahuan.
Dari Rurukan kami turun ke Danau Tondano, danau yang cukup besar, besar banget malahan, danau dengan potensi air dan perikanan yang begitu melimpah.  Sekali lagi sayang, tidak ada sentuhan pariwisata sama sekali.  Hanya dibiarkian begitu saja, apa adanya, tanpa penanganan.  Jadinya hanya enak untuk makan siang, yang memang enak sekali disana, tanpa ada pemberdayaan dan pemanfaatan lebih lagi.  Sebenarnya kalau mau digali lebih jauh lagi, bukan hanya ikan goreng dan ikan bakar saja yang bisa dijual, ada pariwisata air yang bisa dijual seperti halnya Bedugul atau Toba, sayang masih belum tergarap dengan baik.
Selepas Danau Tondano (Tou Danau atau orang2 Danau) perjalanan dilanjutkan ke Bukit Kasih, bukit persatuan yang di atasnya ada 5 rumah ibadah agama dan patung dari Toar dan Lumimuut yang dipercaya sebagai nenek moyang orang2 Minahasa.  Sekali lagi, sayang aku yang sakit, jadinya ya ngak bisa naik dech.  Kalaupun sehat belum tentu aku bisa nyampe di atas.  Tinggi banget dan dibarengi dengan bau belerang yang sangat menyengat.  Perlambang yang cukup memberi makna, kasih sebagai pemersatu rakyat Minahasa.  Sebentar berhenti selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Danau Linow, danau dengan air 3 warna, waarna yang berbeda karena pengaruh air belerang dan kedalaman danau.  Indah benar, dan telah terkelolah dengan baik, walau infrastruktur jalan masih jauh dari harapan.  Tapi keindahan Danau Linow membuat kami betah berlama2 disana, dan bahkan berangan2 untuk punya tempat tinggal disebelah danau, apalagi danau seindah Danau Linow.  Walau hanya sekedar angan, siapa tahu akan menjadi kenyataan suatu saat nanti.
Dari Danua Linow perjalanan kembali menyusuri jalan dan menuju pusat pembuatan rumah2 adat Minahasa.  Ternyata sedesa yang membuat, dan indah, harga selangit sich, lebih mahal ketimbang rumah dari tembok, tapi sepadan dengan keindahannnya.  Wah wah wah .... imajinasi semakin melayang tinggi saja.  Rumah panggung adat Minahasa tinggal di tepiaan danau (linow) dengan hamparan kebun buah dan sayur di belakang rumah serta sekolah rakyat di bagian depan halaman .... hhhmmmmmm ... cita2 yang tidak terlalu muluk bukan?
Selanjutnya kembali menuju ke Manado dan kembali makan malam.  Tetapi kenapa juga makan malamnya di rumah makan khas jogja, jauh2 ke Manado masih juga makan masakan jawa? Sudahlah semua sudah diatur sedemikian.  Kembali ke hotel dan mandi, tidur sore2 karena besok akan ada perjalanan besar menunggu.
Rabu pagi, 30 Juli, selepas sarapan pagi, perjalanan dilanjutkan menuju Marina - Manado.  Iya benar, kami akan menuju Bunaken, salah satu spot penyelaman terindah di dunia.  Kamipun menyeberang menggunakan speedboat, perjalanan kurang lebih 45 menit, dan kemudian naik kapan intai (untuk melihat ikan bawah laut maksudnya).  Wow ... sungguh indah, bukan hanya air laut yang jernih, gugusan karang yang membentuk tembok2, keliaran ikan2 indah .... susah dilukiskan dengan kata2 keindahannya.  Sayang karena batuk, aku ga bisa menyelam (belum kursus juga) atau bahkan snorkling .... moment indah yang terlewatkan.  Membuatku bertekat untuk suatu saat kembali ke Bunaken dan tinggal disana untuk beberapa saat, belajar menyelam dan snorkling sepuasnya.  Menikmati indahnya alam bawah laut Bunaken.  Tapi paling tidak kali ini aku udah sampai ke ujung utara Indonesia. Jalan2 menikmati pantai dan makan siang hasil laut disana, selanjutnya kembali pulang ke Manado.
Sesampai di Manado, kami belanja oleh2, walau udah beli banyak juga di Bunaken hehehehe.  Sepulang belanja mencicipi nikmatnya es kacang merah (es TM) yang memang enak banget.  Sebelum makan malam, sesaat menikmati indahnya matahari terbenam di Pantai Manado, ga jauh2 di belakang sebuah mall, Megaria Mall Manado Boulevard.  Indah banget, temaram merah matahari terbenam, orang memancing dan berperahu, indah banget.  Kenapa harus masuk mall yang cuman begitu2 aja.  Seandainya aku punya rumah disana.  Lho kok jadi pengen punya rumah banyak2 di Manado ya ...... serasa menemukan tanah iar tumpah darah yang hilang ...... aaaggggghhhhh .... haruskah aku kemgbali pulang ke Manado????? 
Moment terakhir telah terlewatkan, makan malam berlalu begitu saja, dan malam inipun tiada kegiatan lain selain beristirahat dan bersiap untuk besok kembali pulang ke Sidoarjo.  Pagipun datang, sarapan dulu, mandi dulu dan siap2 untuk pulang.  Tepat pukul 12.00 kami keluar dari Hotel dan menuju ke bandara, setelah 2 jam di bandara Sam Ratulangi, kamipun terbang menuju Jawa, tapi transit dulu di Makassar, cuman 1 jam dan terbang kembali menuju Surabaya.  Memasuki malam, kamipun sampai di Sidoarjo, kota asalku dan keesokan harinya kamipun kembali ke Malang, kota tempatku tinggal sekarang.
Manado meninggalkan bekas diingatan dan hati, Bunaken telah memenjara hatiku untuk aku suatu saat kembali kesana.  Apakah sebagai wisatawan lagi ataukah aku menjadi warga Manado? Hanya waktu yang bisa menjawab.  Tetapi gambaran indah tentang rumah panggung di tepi danau (linow) dan menikmati indahnya sunset di pantai, menjadikanku ingin kembali ke Manado atau bahkan tinggal di Madao.  Siapa tahu?????  

Rabu, 15 Juli 2009

Social Protection in Asia Workshop di Hanoi - Vietnam

Saku mendapat kehormatan mewakili Indonesia melalui organisasiku (Mitra Wanita Pekerja Rumahan Indonesia) menghadiri workshop mengenai Social Protection in Asia di Hanoi Vietnam pada 1 - 5 Juni 2009 kemarin. Aku hadir sebagai salah satu partner peneliti untuk kasus Pekerja Rumahan di Indonesia.
Bukan sekedar kehadiranku, bukan pula fasilitas cukup mewah yang kuterima, maklum transit hotelku aja di Hotel Ciputra Jakarta yang bersebelahan dengan Mall Ciputra, bukan pula rekan2 Indonesia lain yang berasal dari organisasi2 besar dan ternama seperti dari SMERU (Bu Anti dan Mas Sirojudin) dan BAPPENAS (Pak Rudy). Bukan pula fasilitas workshop di Hotel Fortuna, hotel bintang lima di Vietnam sana, dengan fasilitas 1 kamar untuk 1 orang peserta. Tetapi lebih pada keherananku mengenai Vietnam.
Berangkat dengan sedikit masalah di sana sini tetapi dapat diatasi dengan baik, datang melihat bandara yang sederhana, perjalanan ke kota yang penuh debu karena pembangunan infrastruktur baik jalan, bangunan, dan perusahaan2 baru, serta tentu saja perumahan mewah. Vietnam berbenah dan membangun dengan kecepatan yang sulit di bayangkan.
Aku berfikir, apakah Vietnam seperti negaraku dalam membangun, seperti Indonesia? ternyata tidak, jauh, bahkan sangat jauh.
Di negara Paman Ho (Ho Ci Minh), nyaris tidak konflik dalam penggusuran karena tempat tinggal baru yang layak serta pekerjaan pengganti disiapkan oleh Pemerintah dengan baik. Pedagang akan tetap jadi pedaganga, petani akan tetap jadi petani di daerahnya yang baru dengan fasilitas yang sangat memadai. Beda dengan aparat2 negaraku yang menggusur ya sekedar menggusur seperti mengusir hewan liar perusak pemandangan.
Di negara Paman Ho bangunan2 lama sisa2 peninggalan Perancis dan Rusia tetap dibiarkan kokoh berdiri dengan tata kota yang seperti apa adanya, sedangkan pengembangan daerah baru begitu tertata, tidak seperti di negaraku semua dihancurkan, di bumi hanguskan, semua yang bernilai sejarah dirusak hanya untuk mengganti sesuatu yang baru, sangat moody dan hanya mengikuti trend sesaat, sangat jangka pendek, secupep pemikiran para birokrat dan penguasa negeri ini, keuntungan sesaat dengan menghancurkan yang hakiki.
Di negara Paman Ho bukan utang dari luar negeri yang jadi andalan, tetapi kekuatan sendiri dalam membangun. Ekonomi yang berbasis pertanian (ekportir beras kedua terbesar setelah thailand dan kopi setelah brasil), dipergunakan untuk membangun infrastuktur pertanian dengan baik. Daerah industri dikembangkan, banyak investor asing masuk, tetapi diharuskan memproduksi dengan kandungan lokal dan tenaga lokal yang tinggi. Industrialisasipun di beri zona khusus yang jauh dari areal pertanian, bahkan jauh dari areal pemukiman.
Ekonomi kerakyatan di kedepankan, nyaris tidak ditemui mall besar di negara itu. Semua berbasis toko2 kecil yang dimiliki oleh warga lokal. Berjajar rapi dengan zoning yang fungsional. Ditengah2 kota Hanoi akan ditemui belasan zona belanja dengan masing2 zona untuk masing2 produk. Produk2 yang dijualpun berbasis produk dalam negeri sendiri, produk anak negeri. Sedangkan produk2 impor dari manca negara di beri zona tersendiri, yang jelas2 dijauhkan dari pusaat keramaian. Pembeli produk impor harus bersusah2 menjangkaunya. Benar2 cara2 yang berpihak pada anak negeri.
Bahkan kesan keberpihakan pada produk anak negeri sangat terasa di bandara. Kita datang, keluar sebentar banyak berjajar money changer yang siap menerima uang dollar dengan uang dong setempat. Tetpai jangan harap kita menemui yang namanya money changer saat kita akan meninggalkan negara itu, di keberangkatan hanya ditemui berjajar toko2 dan gerai2 tanpa ada money changer satupun. Toko2 dan gerai2 itupun hanya menjual produk2 setempat dan nyaris tidak ada produk impor di jual disana. Sangat jauh berbeda dengan bandara2 di Indonesia yang berlomba menjual rpduk2 impor ketimbang produk anak negeri. Terlihat perbedaan keberpihakan pengambil kebijakan di negara ini, jelas2 lebih berpihak pada manca ketimbang anak negeri. Jelas2 berpihak pada keuntungan finansial ketimbang harga diri sebagai bangsa mandiri yang merdeka dan berdaulat.
Belum lagi kala bertemu dengan rekan2 sesama pendamping UKM, iri berat di buatnya. Bagaimana cerita mereka tentang dukungan Pemerintah Paman Ho terhadap kawan2 pengusaha mikro, mulai dari pendirian, pendampingan, permodalan, sampai ekspor, semua serba muda dan serba terlindungi. Usaha kecil berkembang dengan pesat dan mampu duduk sejajar dengan produsen masal seperti pabrik. Sangat berpihak pada rakyat dan orientasi pada ekonomi kerakyatan dan pemerataan yang sesungguhnya. Sedangkan di negaraku, ekonomi kerakyatan dan pemerataan hanya jargon dan bahan kampanye yang hanya sekedar janji2 surga semata. Kenyataannya, semua diserahkan pada pasar. Produsen besar menggulung pengusaha kecil, produk impor melindas produk anak negeri. Rakyaat benar2 dijadikan tumbal atas nama pembangunan ekonomi dan kemakmuran.
Akh ... kalau diteruskan, hanya kekecewaan dan kesedihan saja yang terungkap. Bahwa negeri ini merupakan negeri yang terjual, negeri yang para penguasanya lebih berpihak pada pemodal dan juga pada kekuatan asing ketimbang memberdayakan anak negeri. Lebih senang mereguk kesenangan sesaat ketimbang bersakit2 dahulu untuk memperoleh kebahagiaan hakiki bagi seluruh anak negeri. Menyakitkan benar2 menyakitkan.

Ohya, mengenai presentasi dan pekerjaan kami, ternyata kita tidak kalah kalau tidak bisa dikatakan malah menjadi yang terbaik diantara presentasi negara2 lain dan bahkan dalam hal kedalaman penelitian, kita masih tergolong yang terbaik.
Bukan karena kami pandai atau jumwa, segalanya jadi begitu indah dan meyakinkan karena permsalahan yang kami hadapi begitu kompleks, begitu banyak alternatif pemikiran yang kami sajikan karena tiadanya jalan yang jelas dalam perlindungan sosial di negeri ini. Begitu tinggi sajian konsep yang kami sajikan, begitu holistik pemecahan masalah yang kami tawarkan, karena tidak ada konsep dan pemecahan masalah yang pasti di negeri ini. Kesimpang siuran dan ketidak niatan pengambil kebijakan dan pelaksana lapangan menjadikan perlindungan sosial sebagai sesuatu janji indah negeri di atas awan yang sangat sulit diterapkan di negara ini.
Sedangkan di negara lain, begitu sederhana konsep mereka, begitu mudah jalan keluar yang diambil untuk pelaksanaan perlindungan sosial, karena negara telah menyiapkan semuanya dan menerima dengan mudah konsep yang ditawarkan. Rakyat menjadi yang utama dan benar2 diutamakan, sesuatu yang muskil di negara ini.
Indonesia menyajikan sesuatu yang indah, Indonesia menjadi daya tarik, Indonesia menjadi perhatian pada forum itu, bukan karena pelaksanaan perlindungan sosial tetapi karena herannya rekan2 dari negara2 se Asia, bahwa Indonesia yang mereka nilai sebagai salah satu negara besar dan kaya di Asia, ternyata begitu tidak pedulinya pada rakyatnya, begitu liberal dan kapitalis melebihi Amerika yang gembongnya kapitalis liberal. Mereka heran bagaimana mungkin Indonesia yang negara besar, salah satu pencetus ide non blok, yang sangat berpihak pada kemerdekaan dan kerakyatan pada awal2 kemerdekaan negara2 di Asia saat ini bisa menjadi negara yang memperbudakkan diri pada kapitalisme dan liberalisme, bahkan lebih kapitalis dan liberal ketimbang Amerika.
Hebatkan Indonesia ..... hebat abis ........

Semoga pengalaman dan catatanku ini berguna bagi siapapun yang membacanya.
Salah satu perjalanan hidup yang semakin meyakinkanku untuk bekerja dan berjuang untuk rakyat. Berjuang sampai benar2 MERDEKA dan BERDAULAT ........

Malang, 15 Juli 2009

Selasa, 27 Januari 2009

Aktivitas Akhir Tahun 2008 ....

Di penghujung tahun 2008, aktivitasku cukup berjibun dan saling susul menyusul ....
Sampai2 untuk bercerita dan mengambil sarinya saja ga cukup waktu, dan baru bisa kurangkum pada saat ini ... dan tentu saja banyak peristiwa dan renungan yang terlewat ....

Diawali menjadi fasilitator Pelatihan Kepemimpinan Lembaga Kemahasiswaan Universitas Ma Chung, 7-9 November di Baung Camp, belakang Kebun Raya Purwodadi - Pasuruan.
Rencana menjadi fasilitator berdua dengan temanku (Hari Kris) tetapi karena ada tugas mendampingi mahasiswa untuk lamba di Surabaya, jadinya aku dech sendirian memfasilitasi semua materi pelatihan, tentu saja kecuali outboound.
Tempat baru yang asyik, walau fasilitas masih kurang memadai tetapi cukup asyik untuk pelatihan dan kalau outboundnya jangan ditanya, lengkap dan alami. Sayangnya karenat tidak seketat tahun sebelumnya, konsentrasi anak2 terpecah dengan SMS sana dan SMS sini selama pealtihan. Jadinya seraasa kurang greget dan kurang menggigit seperti tahun sebelumnya. Belum lagi karena "tragedi" (bagiku sich biasa aja), karena firewalk banyak yang melepuh dan dijadikan alasan tidak ikut latihan lapangan .... dasar anak2 manja .....
Apapun yang terjadi, pelatihan tetap harus berjalan. Sampai pulang tidak ada peristiwa lain yang terjadi, kecuali aku ada sedikit kecelakaan saat outbound. Aku salah bersandar dan akhirnya malah dikerubungi semut, sialnya karena itu aku ga bisa menyelesaikan outbound highroofku ... sial sial sial .....
Udahlah .. apapun yang terjadi, semoga apa yang kuberikan bisa bermanfaat untuk anak2 LK UMC ... dan berguna bagi mereka secara pribadi pada tahun2 mendatang .... walau aku tidak berharap banyak ......

Selanjutnya, aku pergi ke luar negeri (lagi) pada awal Desember (6-14 desember tepatnya) ..... ke Laos lewat Bangkok. Nyaris ga jadi berangkat karena di Bangkok sedang terjadi demo besar2an anti pemerintah. Kurang 3 hari baru dipastikan kami bisa berangkat. Sesampai di Bangkok ... ampun ... kami kaget2 karena Bandara Swarnabhumi seperti tidak ada kejadian apa2 walau 3 hari sebelumnya diduduki pendemo selama 2 minggu .... semua bersih tidak ada yang rusak atau kotor .....
Hebat .. hebat ... hebat .... coba kalau di Indonesia ... udah berantakan dan dijarah habis itu bandara ......... ternyata demonstrasi bagi rakyat Thailand adalah mogok dan pendudukan saja, kalau di Indonesia artinya anarki, perusakan dan penjarahan ..... arti demokrasi bagi Thailand dan Indonesia ternyata berbeda ...... kebebasan berpendapat dan bertindak (semaunya dan seenaknya) hanyalah arti demokrasi yang hanya ada di kamus Indonesia.
Semalam nginep di Bangkok, di kantor HomeNet Thailand, terus ke Laos naik kereta api malam ke perbatasan. Kantor HNT memang kantor beneran, jadinya kami tidur hanya di kursi dan lantai ... coba kalau di Indonesia, kantor khan plus rumah singgah hehehehehe .... Udah gitu di tengah kota bener .... ga kayak di HNI yang nyelempit hehehehehe ..... Ohya kereta api Bangkok-Laos bagus lho, kita bisa tidur malem disana dan ga pake asongan keliling seperti di Indonesia, ternyata kita memang jauh .... jauh, jauh banget ... disiplin, ketertiban .. jauh banget ... bahkan dengan Laos sekalipun ....
Gilanya lagi, masuk Laos kami kena Visa, padahal negara2 lain tidak menggunakan Visa untuk masuk Laos... ada apa dengan Indonesia? apakah kita ini bukan sesama negara ASEAN? atau Indonesia dianggap negara yang kurang punya sesuatu hingga tidak semua negara ASEAN memperlakukan Indonesia seperti anggota kelas 2? Ternyata Indonesia-ku cuman besar jumlah penduduknya tetapi tidak benar2 besar di mata negara2 lain, bahkan sesama ASEAN sekalipun.
Belum berhenti keheranan kami, ternyata kami dibuaat lebih heran lagi. Laos yang nilai tukarnya hampir sama dengan Indonesia, ternyata lebih makmur ketimbang Indonesia secara rata2. Bukan hanya masalah mobil mewah yang berkeliaran, bukan hanya fasilitas umum yang nyaris serba gratis, tetapi pendapatan pekerja (rumahan) yang terkecil di Indonesia merupakan kelompok pekerja dengan pendapatan terendah, mereka mendapatkannya 4x pendapatan di Indonesia dengan jam kerja 1/3 dari yang kita lakukan.
Kalau udah begini, jangan2 negara2 sosialis lebih makmur dari negara2 kapitalis. Paling tidak secara umum, untuk semua orang. Tidak seperti negara kapitalis apalagi yang ultra kapitalis seperti Indonesia ini, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Ternyata bagi negara kapitalis, kemakmuran hanya untuk segelintir orang, bukan untuk segenap rakyat Indonesia.
Walau secara presentasi Indonesia paling membanggakan, paling lengkap pendekatannya, bukan karena kami paling pinter, tetapi ternyata Indonesia masalahnya paling kompleks dan tanpa dukungan Pemerintah sama sekali. Kalau yang lain, jangan tanya, pemerintahnya sangat memperhatikan gerakan untuk rakyat miskin. Di Indonesia? masalah dimusuhin yang ada. Dianggap pengganggu program pemerintah, program sekedar program dengan program dasar bagi2 duit untuk para aparat keparat itu, jelas aja kami adalah pengganggu.
Kami pulang dengan dengan berjuta pertanyaan, bagaimana nasib bangsa ini di masa mendatang? satu hal yang pasti, si kaya akan tetap kaya bahkan semakin kaya, dan si miskin akan bertambah miskin, dan kami yang bekerja dan berjuang untuk mereka tetaplah dianggap menjadi penganggu dan perusuh .... terus kapan Indonesia Adil dan Makmur untuk segenap rakyat Indonesia .... ya kapan kapan dech .....

Akhir Desember, dikala banyak teman mulai memikirkan atau bahkan ada yang berangkat berlibur ... eh mulai 21-24 Desember aku malah kerja, ngaudit proyeknya Praxis, Teater Sandekala namanya. Wah wah wah ... kerja seperti orang tahanan, 4 hari 3 malam aku tidak melihat dunia luar, kerja, kerja, dan kerja ..... maklum harus selesai sebelum tanggal 24 sore. Walau dengan load kerja tinggi akhir bisa kuselesaikan juga, dan lumayanlah hasilnya untuk nambah tabungan. Sekalin tentu saja promosi untuk mendapatkan kerjaan2 selanjutnya. Sayangnya waktuku tidak sefleksibel dulu2 ..... semoga aja kerjaan2 audit yang lain bisa diatur2 gitu ... hehehe ..... lumayan untuk tambah pengalaman dan tentu saja tambah tabungan .... Asal ga kerja rodi lagi seperti ini lagi aja ......

Renungan akhir tahun ....
Aku ini udah kerja di sebuah perguruan tinggi yang ketat, kerja 8 jam sehari dan 5 hari kerja, dengan penghasilan yang lumayan tinggi, cukup untuk keluarga. Tetapi sisi idealismeku masih mengharuskanku kerja di dunia pendampingan dan kebetulan bertemu dengan lembaga pendampingan pada pekerja rumahan, penghasilan tidak seberapa tetapi kesempatan untuk berjuang dan bepergian ke luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri ada disana, idealis dan juga beraktualisasi. Belum puas juga, dari sisi profesioanal aku ga mau pengetahuanku dan pendidikan sebagai akuntan terbuang percuma, aku juga jadi konsultan dan auditor independen, lumayan untuk pengalaman dan tentu saja menambah tabungan.
Pertanyaan dan renunganku .....
aku ini banyak kerjaan atau bekerja terlalu banyak ya ..... to much work or work to much ....????
karena ada harga yang harus kubayar ..... aku jadi jarang olah raga, jadi jarang jalan2 (tracking, offroading, dan camping plus wild animal watching) juga jadi jarang ke Porong lagi ..... dan tentu saja keluarga ..... apa yang harus kulakukan?
Udahlah .... kujalani aja ... apa adanya ...... kalau memang harus mati kecapekan .... kujalani aja ... mumpung masih ada waktu dan kesempatan .....
Kusambut tahun 2009 dengan semangat seperti air mengalir .... hambayu milih ......
mengalir dan mengalir saja, sambil membasahi tanah yang kulewati dan memberi kehidupan di manapun aku berada .... semoga .... seperti air .... mengalir, mengalir, dan mengalir lah .......

Kamis, 06 November 2008

Gubernur Jawa Timur .....

Sehari sebelum Amerika melaukan pemilihan umum untuk memilih Presiden, Jawa Timur terlebih dulu melaksanakan pemilihan umum Gubernur untuk putaran kedua. Kandidat pasangan calon tersisa dua saja (Kofifah dan Mujiono) melawan (Karwo-Saifullah), setelah pada putaran pertama tidak ada yang menang secara mutlak. Sampai tulisan ini ditulis belum ada kepastian siapa yang menang karena menunggu penghitungan suara secara manual, sedangkan menurut lembaga2 survey, pemengangnya adalah Kofifah-Mujiono walau dengan angka perbedaan yang sangat2 tipis. Bukan masalah siapa yang menang, tetapi bagaimana mereka nanti memimpin Jawa Timur itu lebih penting. Pada lanjutan tulisan ini, akan dipaparkan harapan rakyat Jawa Timur pada Gubernur baru nanti, siappun orangnya. Harapan ini disadur dari berbagai media massa mengenai harapan2 dan asa rakyat Jawa Timur terhadap pemimpinnya, terutama tulisan2 di Koran Kompas yang menerbitkan edisi khusus mengenai Pilkada Jatim. Harapan2 tersebut adalah:

1. Sejahterakan Rakyat
"Hidup dengan lebih baik dan mensejahterakan rakyat" merupakan harapan rakyat Jatim pada siapapun Gubernur Jatim terpilih nanti. Sesuai dengan data BPS 2007, 7,14 juta (18%) rayat Jatim hidup dalam kemiskinan, Gubernur yang baru harus mampu untuk mengatasinya. Pengangguran dan kurangnya lapangan pekerjaan yang pada tahun 2006 hanya menampung 18,7 juta orang dari angkatan kerja yang mencapai angka 20,2 juta. Belum lagi inflasi yang cukup tinggi di Jatim, menjadikan hidup orang miskin semakin tertekan, semester awal 2007 angka inflasi telah mencapai 6,43%, jauh lebih tinggi ketimbang tahun2 sebelumnya. Para pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur, sejak masih 5 pasang sampai mengecil menjadi 2 pasang, masalah ekonomi selalu menjadi fokus dari kampanye mereka. Sedangkan masalah korupsi dan penyelesaian kasus lapindo tidak menjadi perhatian para pasangan calon, cukup menakutkan kalau ternyata gubernur terpilih menjauhi masalah Lapindo.

2. Masalah Buruh
Tidak ada jumlah yang jelas mengenai jumlah buruh pabrik (formal) dan buruh tani dan nelayan serta pekerja rumahan (informal) di Jawa Timur. Belum lagi permasalahan outsourcing yang menjadi legal di bumi Indonesia, semakin menjadikan buruh tertekan dan hidup diperbudak oleh kemiskinan dan kebodohan. Pada tahun 2007 diperkirakan jumlah buruh formal mencapai angka 2,561 juta orang, terbanyak ketiga setelah pertanian (8,2 juta) dan perdagangan (3,7 juta). Banyak tenaga kerja yang terserap di industri tetapi mereka hidup dalam ketertindasan, hak2 buruh seperti yang tercantum pada UU no. 13/2003 jauh dari diperhatikan. Perselisihan dan Pengadilan Hubungan Industri hampir selalu dimenangkan oleh pengusaha (karena mereka mampu membeli aparat yang berwenang). Bahkan bila yang menang buruh, jangan harap eksekusi akan dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.
Belum juga masalah ketimpangan di PHI, masalah buruh kontrak (outsourcing) memperumit posisi buruh dihadapan pemodal, pekerja yang adalah manusia diletakkan lebih rendah ketimbang kepentingan modal dan alat produksi, sangat tidak manusiawi. Buruh kontrak tidadk pernah mendapat kepastian pekerjaan dan bisa dilepas kapanpun oleh perusahaan. Perusahaan tentu lebih menyukai mekanisme buruh kontrak karena penanganan mulai dari perekrutan dan pelepasan sangatlah mudah.
Kesejahteraan buruh dan rendahnya tingkat upah mereka semakin terancam dengan adanya kenaikan harga BBM yang tentu saja diiringi dengan naiknya harga2 kebutuhan pokok. Tuntutan akan kenaikan upah buruh menjadi masalah yang sangat sensitif bagi para calon Gubernur dan tidak ada satupun yang membicarakan masalah ini. Sungguh ironis. Para Calon Gubernur lebih asyik menjanjikan masuknya investasi dan sejumlah calon investor yang mereka janjikan akan masuk ke Jawa Timur. Kita lihat saja kiprah mereka yang terpilih menyelesaikan masalah perburuhan di Jawa Timur.

3. Kemiskinan
Angka kemiskinan di Jawa Timur sudah mencapai angka 7,1 juta. Selama masa kampanye, masalah kemiskinan merupakan alat kampanye yang paling efektif untung mendulang suara. Janji2 pengentassan kemiskinan selalu digembar-gemborkan sedemikian rupa, janji2 manis surgawi yang entah bagaimana penggenapannya. Warga miskin menjadi komoditas pengumpul suara, karena rakyat miskin mudah diiming2i janji tapi tiada punya keberanian untuk menagihnya.
Walau banyak program penanggulangan kemiskinan yang diluncurkan oleh Pemerintah, tetapi penerapan yang salah alamat menjadi pemicu kegagalan prorgam2 tersebut. Hal ini dikarenakan kurangajarnya petugas pendata dan pembagi yang diiringi oleh lemahnya pengawasan di lapangan. Program pengentasan kemiskinanpun berupa menjadi program bagi2 jatah bagi sekelompok orang yang berwenang.
Keakuratan identifikasi tujuan, pengawasan pelaksanaan di lapangan, pendampingan jangka panjang pada rakyat miskin yang sebenarnya menjadi kunci keberhasilan program pengentasan kemiskinan tidaklah menjadi prioritas Pemerintah. Asal sudah terbagi dan asal sudah tersebar (pada kelomlompoknya) maka program dianggap telah berjalan dan dianggap sukses. Mengentaskan kemiskinan bukan perkara mudah, para Calon Gubernur merasa dirinya peduli pada saat kampanye, tetapi pada saat mereka meminpin, terasa janji2 itu tidak pernah diucapkan dan terlupakan begitu saja. Kita akan tagih janji2 mereka (siapapun yang terpilih) pada saat mereka memimpin Jawa Timur nanti.

4. Pengembangan Wilayah
Jawa Timur memiliki luas wilayah 47.922 Kilometer persegi dengan total penduduk 37.478.737 jiwa, sumber daya alam dan manusia yang sedemikian besar menjadikan Jawa Timur sebagai daerah yang berpotensi untuk maju. Tetapi masalah kesenjangan wilayah di Jawa Timur sedemikian berat. Jawa Timur Utara seperti selalu membangun dan membangun, sedangkan Jawa Timur Selatan seperti tidak terurus dan terbiarkan begitu saja. Investasi seperti selalu dilakukan di kawasan utara Jawa Timur. Kurangnya akses dan pasar di Jawa Timur Selatan menjadikan kawasan selatan Jawa Timur tertinggal dengan kawasan utara.
Kelemahan pembangunan di Jawa Timur lebih dikarenakan tidak adanya desain pembangunan yang jelas dan mapan untuk Jawa Timur ini. Belum lagi selama ini pembangunan dilakukan serampangan tanpa melakukan analisis sosial dan ekonomi dengan benar. Pembagunan Jalan Lintas Selatan yang harapannya mampu membuka daerah selatan malah banyak merusak kawasan hutan dan pertanian. Sedangkan pembanbunan jembatan Surabaya Madura (SuraMadu) melupakan rakyat nelayan yang ada di sekitar ujung jembatan. Pekerjaan rumah yang tidak mudah yang harus dibereskan oleh Gubernur terpilih nanti.

5. Revitalisasi Pasar Tradisional
Persaingan antara pasar tradisional dan pasar modern terdengar sejak lama, tetapi permasalahan yang dulu hanya terjadi di perkotaan telah bergeser dan mulai masuk ke pelosok2. Pergeseran preferensi belanja dari pasar tradisional yang terdistorsi sebagai tempat belanja yang becek, bau, dan seadanya ke pasar modern yang nyaman dan berAC walau lebih mahal telah menjadi masalah dalam pengembangan ekonomi rakyat. Semakin menjamurnya toko2 ritel dalam skala kecil sampai ke pelosok2 desa telah menggeser perekonomian rakyat menjadi perekonomian kapitalis.
Membatasi jumlah peritel bukan solusi bijak tetapi yang perlu dilakukan adalah pembenahan ke dalam, pembenahan pada pasar2 tradisional, sehingga menjadi tempat belanja yang nyaman dan menyenangkan sekaligus tetap murah. Selain itu tentu saja pemberdayaan para pedagang dan pengelola pasar menjadi tugas penting bagi Pemerintah dimasa2 mendatang, khususnya pembenahan mental pedagang yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek semata. Gebernur selanjutnya dituntut bukan mengadu dan memperhadapkan kedua pasar tersebut tetapi bagaimana mengharmonisasikan kedua pasar tersebut menjadi pasar yang nyaman dan menyenangkan bagi semua rakyat Jawa Timur.

6. Olah Raga
Jawa Timur menjadi juara umum pada PONXVII/2008, sebuah prestasi fenomenal karena berhasil diraih di luar Jawa Timur. Puslatda yang telah dilakukan sejak tahun 2005 tidaklah sia2. Gubernur terpilih diharapkan mampu melanjutkan kejayaan Jawa Timur sebagai gudang atlit dan arena pengodokan atlit yang akan berprestasi bukan hanya pada tingkat nasional tetapi diarahkan menuju prestasi bertaraf internasional. Masalah pelik selain masalah pembinaan adalah masalah kesejahteraan atlit. Tidak bisa dipungkiri para atlit (amatir) tidak punya kehidupan yang layak di masa tuanya bila hanya mengandalkan ke atlitannya semata. Diharapkan dukungan Pemerintah Jawa Timur tehadap para atlit bukan hanya mempersiapkan mereka atau saat mereka berprestasi tetapi juga setelah mereka tidak lagi berprestasi. Diharapkan dengan adanya jaminan masa tua, atlit semakin bisa berprestasi dan semakin fokus pada pembinaan yang mereka jalani.

7. Pendidikan
Bukan barang baru lagi kalau masalah (biaya) pendidikan telah menjadi masalah seluruh rakyat Indonesia. Bukan hanya biaya pendidikan tetapi juga peralatan pendidikan serta perlengkapan pendidikan masih menjadi barang mahal bagi sebagian (besar) rakyat Jawa Timur. Kesadaran pendidikan di Indonesia cukup tinggi tetapi masalah biaya seringkali menjadi kendala yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Angka kemiskinan yang mencapai 7,1 juta menunjukkan bahwa masih ada begitu banyak rakyat Jatim yang bermasalah dengan biaya pendidikan. Bukan hanya DPP dan SPP, tetapi juga sepatu, tas, seragam, dan tentu saja buku tulis dan pelajaran. Bukan perkara mudah untuk mencukupinya. Belum lagi semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin tinggi pula tuntutan biaya yang harus dipenuhi.
Sayangnya, tingginya biaya pendidikan tidak sebanding dengan prestasi pendidikan yang dicapai oleh peserta didik. Semakin bagus tempat pendidikan, semakin tinggi pula biaya yang diminta, semakin sempit pula peluang anak2 pandai masuk ke sekolah yang memadai, makin kecil pula kesempatan berprestasi. Salah satu pangkal masalahnya ternyata alokasi APBD Jatim untuk pendidikan cuma 15%, masih jauh dari yang disyaratkan oleh Undang2.
Keinginan Pemerintah untuk mewujudkan Wajib Belajar 12 tahun dan pemenuhan subsidi pendidikan sebesar 20% dari APBD merupakan pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh Gubernur terpilih nanti. Janji sudah diumbar oleh semua pasangan calon Gubernur, janji untuk mengadakan pendidikan murah, janji yang akan kita tuntut penggenapannya pada saat mereka berkuasa nanti.

8. Budaya
Jawa Timur terkenal dengan kekayaan budayanya, mulai dari Reog Ponorogo, Karapan Sapi Madura, Ludruk dan Remo Suroboyo, Tari Topeng Malang, Gandrung Banyuwangi dan masih banyak hasil karya dan karsa manusia Jatim yang berwujud seni adiluhur dan telah menjadi ikon budaya Jatim. Keragaman dan kekayaan seni dan budaya tradisional saat ini mengalami gempuran yang begitu hebat dari budaya pop yang berasal dari mancanegara, memprihatinkan. Gubernur JAtim terpilih nanti harus memberi perhatian lebih pada seni dan budaya lokal untuk menghidupkan kembali dan bahkan memuncaki tangga tertinggi prestasi kebudayaan. Bila tidak, Jatim akan masuk pada masa suram budaya dan hanya menjadi sapi congek penganut budaya manca. Seni dan budaya bukan hanya masalah berkesenian tetapi telah menjadi identitas dan jati diri Jatim sebagai daerah yang berdaulat.

Pertumbuhan ekonomi boleh menjadi prioritas, pembangunan infrastruktur boleh menjadi pekerjaan utama, tetapi pendidikan, olah raga, dan seni budaya tidak boleh terlupakan dan terpinggirkan. Semua ini dengan tujuan membangun manusia Jatim yang seutuhnya. Demikianlah kira2 pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh siapapun Gubernus Jawa Timur terpilih nanti. Pekerjaan rumah yang harus mereka kerjakan dengan baik, apalagi yang telah mereka janjikan semasa kampanye. Pekerjaan rumah yang akan banyak ditagih oleh banyak rakyat Jawa Timur. Selamat terpilih dan selamat bekerja menjadi Gubernur Jawa Timur.

Senin, 03 November 2008

Krisis Keuangan Global 1

Ancaman Krisis Global
Diawali oleh krisis karena kredit perumahan macet (subprime mortgage) di AS. The Fed, Bank Sentral Amerika Serikat berusaha mencegah krisis yang lebih jauh. Untuk mencegah krisis The Fed melakukan pemotongan suku bunga, paket stimulus ekonomi senilai USD 163 Milyar, dan injeksi likuiditas yang mencapai USD 700 Milyar.
Tetapi krisis semakin meluas sampai menyentuh ke system perbankan dan sector keuangan, bahkan seluruh sector ekonomi. Bukan hanya di Amerika Serikat tetapi bahkan ke seluruh dunia. Amerika Serikat mengalami Financial Meltdown, hengkangnya investor, dan aksi rush (walau telah diinjeksi USD 200 milyar dengan fasilitas term action) untuk menyelamatkan investasi Bear Stearns dan akuisisi dengan JP Morgan. Pada dasarnya, institusi financial Amerika Serikat seperti zombie, masih beroperasi tetapi pada dasarnya telah mati.
Investasi pasar modal untuk mencegah anjloknya harga saham, suku bunga dipotong bahkan pada saat hari minggu, injeksi likuiditas pada perbankan, tetapi masih kurang karena outstanding subprime mortgage mecapai USD11 milyar.

Krisis Amerika Serikat menjadi Krisis Global, system financial global terancam mengalami kegagalan. Dampak dari krisis di AS memengaruhi perbankan dan lembaga investasi Negara lain. The Fed menyediakan tambahan likuiditas USD30 Milyar untuk mendukung akuisisi Bear Stearns dan JP Morgan Chase. Hal ini dilakukan untuk mencegah krisis kepercayaan pada lembaga keuangan USA.
Sebagai pembanding, krisis long-term capital management (LTCM) – hedge fund pada tahun 1998 yang diikuti dengan ambruknya beberapa lembaga keuangan di AS menyebabkan The Fed untuk melakukan bailout. Potensi kredit macet Bear Stearns adalah sebesar USD900 Milyar atau 7x (tujuh kali lipat) dari LTCM dan pastinya akan memicu krisis yang lebih besar lagi. Belum lagi deficit transaksi di AS mencapai 8%, rasio utang (PDB) 330%, rasio utang rumah tangga 100%, dan utang kartu kredit sebesar USD790 Milyar. Sejak krisis yang terjadi per Juli 2007, harga saham global telah mengalami penurunan sebesar 10%, kerugian akumulatif sebesar USD5 Trilyun, dan krisis likuiditas pada seluruh system financial.

Bom Waktu Derivatif
Pertumbuhan derivative di pasar modal pada tahun2 terakhir membawa ancaman terjadinya krisis. Catatan dari The Sovereign Society menyatakan bahwa transaksi derivative adalah penyebab resesi pada tahun 2001 dan 2008 ini di Wall street. Juga sebagai penyebab krisis di Asia pada tahun 1997/1998.

Derivatif adalah instrument keuangan untuk mengurangi risiko karena pergerakan harga, tetapi malah menjadi instrument spekulasi bagi investor. Di AS transaksi derivative pada tahun 2007 mencapai USD516 trilyun. Padahal PDB di AS hanya sebesar USD15 Trilyun dan PDB Global hanya mencapai USD50 Trilyun, dan kapitalis pasar modal sedunia hanya USD100 Trilyun.

Hipotek kepemilikan rumah (subprime mortgage) merupakan salah satu instrument derivative. KPR diberikan pada orang2 yang secara financial tidak layak menerima kredit. Hipoteknya oleh Bank dijadikan jaminan sekuritas (mortgage backed securities) yang diperdagangkan di pasar sebagai instrument investasi. Investor tidak tahu kalau yang dijadikan jaminan buruk dan akan macet apsa suatu saat.
Bank Investasi memanfaatkan jasa pemeringkat sekuritas untuk memperoleh kepercayaan masyarakat, walau sampah bisa dapat AAA. Bagaimana mungkin terjadi di AS yang mengedepankan transparansi, akuntabilitas, dan good governance. Jangan2 karena mafia perbankan yang memiliki koneksi kuat dengan The Fed atau Pemerintah AS.

Mengapa subprime mortgage berkembang pesat:
1. Dari sisi konsumen menguntungkan karena mereka yang tidak layak memperoleh kredit dapat memperoleh kredit (KPR).
2. Bagi bank, mendapatkan fee dari penerbitan sekuritas berbasis subprime mortgage dan marjin sebesar selisih suku bunga kredit yang dibebankan oleh KPR.
3. Para dealer dan broker sekuritasnya mendapat keuntungan dari menjual sekuritas berbabasis mortgage ke investor dan komisi penjaminan.
4. Investor dapat mendiversivikasikan mortgage untuk portofolio investasi.
5. Bagi perekonomian akan memperluas pendanaan KPR menciptakan sumber pendanaan baru bagi bank dan lembaga keuangan lainnya serta mendorong integritas modal dan pasar uang.
6. Bagi pemerintah, menciptakan bubble untuk mempertahankan booming ekonomi yang berasal dari bubble yang lain. Contoh bubble dari real estate di AS sengaja diciptakan untuk menutup krisis karena bubble industry dot.com pada tahun 2001 (Allan Greenspan, Mantan Direktur The Fed).
7. Secara politis, likuiditas dan suku bunga rendah adalah tanda ekonomi suatu rezim bagus sehingga dengan sengaja diciptakan kondisi ini.
8. Booming ekonomi menarik dana asing sehingga dapat dipergunakan untuk menutup deficit anggaran Pemerintah AS.

Saat ini subprime mortgage mencapai USD600 Milyar dan tentu saja derivatifnya akan jauh lebih besar. Kondisi ini akan mengancam 6 juta keluarga yang akan kehilangan rumah (mortgage). Krisis keuangan yang terjadi di AS akan mengancam pada ekonomi secara global. Kerugian subprime mortgage yang telah mencapai USD300 Milyar dan akan menyentuh USD1 Trilyun, akankah ditutup oleh The Fed?.

Subprime mortgage
Subprime mortgage 73% diberikan pada kaum kulit hitam dan hispanik sedangkan 17% saja diberikan pada kulit putih. Saat ini 65% penduduk AS merosot kekayaannya dan bahkan sebagian besar terancam kehilangan rumahnya. Hal ini terjadi karena financial rulling class yang tetap dan bahkan bertambah makmur. The Fed malah mengucurkan likuiditas (soft money) untuk menggelembungkan perekonomian. Hal ini akan mengakibatkan kebangkrutan missal.
Paket stimulus berupa kucuran dana sebesar USD168 Milyar (per 13 Februari 2008) hanya menguntungkan sekelompok orang kaya saja. Kondisi ekonomi memburuk tetapi Presiden As, George Bush malah haus perang, bahkan menyatakan bahwa perang bagus bagi perekonomian (wawancara pada Today Show) “karena banyak perlengkapan perang diproduksi, berarti banyak lapangan pekerjaan”. Padahal ongkos perang di Irak diperkirakan pada awalnya “hanya” USD50—60 Milyar, telah membengkak menjadi USD845 Milyar pada saat ini, bahkan Prof Stiglitz memperkirakan biaya perang telah mencapai USD3 Trilyun.
Biaya perang tersebut belum dihitung dengan biaya2 perang dari negara2 lainh dan terutama Irak yang negaranya hancur berantakan. Perang Dunia ke II saja hanya menghabiskan USD5 Trilyun. Belum lagi AS masih harus menanggung biaya perawatan untuk veteran perang dan penggantian alat2 perang. Sebagai catatan, biaya perang di Irak untuk 4 hari saja dapat dipergunakan untuk melakukan riset autis selama 1 tahun atau member beasiswa bagi 43 juta mahasiswa dari masuk kuliah sampai menjadi sarjana di Amerika sana.
Cara Pemerintah AS dan The Fed untuk mengelabui kondisi perekonomian yang ambruk ini adalah dengan kucuran likuiditas, regulasi yang longgar terhadap penyaluran kredit, dan suku bunga rendah. Bahkan saat ini, Utang AS pada luar negeri telah mencapai USD9 Trilyun. Perang Irak dan Afganistan telah menguras asset Amerika Serikat senilai USD16 Milyar perbulan.


Indonesia dalam Mengahadi Krisis Global
Krisis keuangan yang terjadi pada saat ini kurang bisa dimanfaatkan oleh Pemerintah Republik Indonesia, begitu penuturan Joachim Von Amsberg, Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, seperti yang dimuat pada Kompas 26 Maret 2008.
Krisis keuangan global mengakibatkan harga minyak mentah turun sebagai akibat dari turunnya permintaan minyak oleh negara2 maju. Sedangkan harga komoditas meningkat tajam di pasar dunia. Kondisi mengakibatkan inflasi harga kebutuhan pangan (sebesar 10,2%) yang memukul masyarakat miskin. Selain itu kesenjangan ekonomi antar daerah menjadi semakin melebar karena ketidakmerataan kepemilikan SDA.
Kelambanan Pemerintah Indonesia mengantisipasi gejolak krisis global, Pemerintah memang melakukan subsisdi untuk rakyat miskin tetapi tidak menyentuh masyarakat miskin. Peningkatan pendapatan dari komoditas (CPO dan sawit serta hasil tambang) tidak digunakan untuk membiayai sector strategis seperti pertanian dan infra strktur, di lain pihak sector tambang dan migas menurunkan produksinya.

Sepertinya Indonesia belum siap menghadapi krisis global, seperti yang dikemukakan oleh Prof. Steve H. Hank dari Johns Hopkins University – USA. Salah satu indikasinya adalah penetapan inflasi yang tidak realistis. Ekspekstasi inflasi tidak dalam kondisi terkendali (5%). Kenyataannya inflasi terus melaju.
Indonesia diharapkan tidak mengikuti kebijakan The Fed USA dengan memangkas suku bunga. Bank Indonesia seharusnya berfokus pada penguatan nilai rupiah, sedangkan di AS The Fed menurunkan bunga dan menginjeksi likuiditas karena naiknya permintaan pasar.
Peningkatan ekononmi karena naiknya dorongan moneter atau yang lazim disebut bubble economic tidak akan bertahan lama akan berdampak jauh lebih buruk lagi.