Selasa, 16 Januari 2018

PENGEMBANGAN KOMUNITAS DENGAN MODEL HIST



PENGEMBANGAN KOMUNITAS DENGAN MODEL HIST
Disarikan dari Modul Pelatihan Humanitarian International Services Group (HISG)

Pengenalan Terhadap Pengembangan Komunitas
1.       Aktivitas Kelompok: Setiap peserta berpikir sejenak dan merumuskan kalimat definisi pengembangan komunitas.
2.       Tugas Kelompok: Dengan mempergunakan definisi masing-masing, mencoba mengumpulkan data dari gambaran komunitas yang ditampilkan dalam gambar (slide).  Masing-masing kelompok memilih komunitas yang ditampilkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
(1)    Gambarkan komunitas yang dipilih.
(2)    Bagaimana situasinya?
(3)    Apa yang akan kita lakukan?

Definisi Pengembangan Komunitas
Pengembangan komunitas adalah pendekatan terpadu dan komprehensif yang memampukan perubahan komunitas secara meluas dengan cara meningkatkan kapasitas dasar komunitas sehingga mampu menopang diri sendiri untuk menyediakan martabat dan keadilan untuk setiap anggota komunitas tersebut.
Sebuah Ilustrasi: Ada berapa banyak buah mangga dalam sebuah biji mangga?
Kita bisa menghitung jumlah biji mangga dalam buah mangga, tetapi siapa yang bisa menghitung jumlah mangga dalam sebuah biji mangga?
Sebuah biji mangga memiliki banyak potensi.  Saat kita melihat komunitas, bagaimana cari kita menilai potensinya? Apakah kita bisa melihat masalah mereka? Apakah kita bisa membantu membangkitkan dan memperbesar potensi komunitas tersebut?

Aspek-Aspek yang Memengaruhi Pemgembangan Komunitas
Cara Pandang dan Sistem Kepercayaan
Sistem kepercayaan akan memengaruhi cara pandang kita.  Setiap kita memiliki seperangkat lensa pengamatan yang kita pakai untuk menerjemahkan dunia di sekitar kita.  Berdasarkan dari apa yang kita lihaat lewat lensa tersebut, kita menciptakan sistem kepercayan untuk hidup kita.  Sistem kepercayaan itu yang akan menjadi cara pandang kita terhadap dunia.  Kita mengevaluasi hidup dan budaya kita, dan mengambil keputusan sesuai dengan cara pandang kita.
Formasi sistem kepercayaan yang membentuk sistem kepercayaan kita.  Dalam kehidupan kita, ada beberapa orang dan beberapa sumber yang memegang peranan kunci dalam membentuk atau paling tidak memengaruhi kita.  Orang-orang dan sumber-sumber itulah yang akan memengaruhi dan membentuk sistem kepercayaan dan cara pandang kita. Orang-orang atau sumber-sumber tersebut adalah orangtua, teman, media, guru, budaya, persekolahan, dan beberapa orang atau sumber lainnya.  Cara pandang dari individu-individu, secara bersama akan membentuk cara pandang dan budaya sebuah komunitas.
Dasar Pengembangan Komunitas
Setiap cara pandang memunyai akarnya, sebuah sistem kepercayaan tertentu.  Sistem kepercayaan berasal dari nilai-nilai yang memimpin perilaku dan pada akhirnya memunculkan hasil atau tindakan.  Dengan kata lain, ide dan nilai kita akan menghasilkan perilaku dan gaya hidup.  Bila ide dan nilai dipegang oleh sebuah komunitas akan mementuk budaya dan perilaku serta tindak tanduk komunitas.
Ilustrasi: Pohon sebagai gambaran cara pandang
Akar adalah sistem kepercayaan, batang adalah nilai, ranting adalah perilaku, sedangkan daun dan buah adalah hasil atau tindak-tanduk.
Pendekatan dalam pengembangan komunitas dipengaruhi bukan saja oleh cara pandang saja, tetapi juga dasar dan metoda pengembangan.  Cara pandang sebagai cara pandang yang membentuk tindakan dan gaya hidup komunitas.  Dasar adalah pondasi atau nilai yang dijadikan dasar pengembangan komunitas serta respon terhadap tantangan yang dihadapi komunitas.  Metode adalah cara untuk memperluas cara pandang untuk membentuk budaya dan perilaku komunitas yang berkembang.
Dasar apakah yang akan kita letakkan untuk membangun dan mengembangkan komunitas? Dasar-dasar yang diletakkan haruslah yang memiliki nilai-nilai mulia seperti pengetahuan dan hikmat, hubungan yang sehat, kebebasan, kebenaran, kejujuran, dan berbagai nilai-nilai mulia lainnya.

Metode Pengembangan Komunitas
Pengembangan komunitas harus berfokus pada sebuah permasalah besar, kemiskinan.
Dalam kontinum sosial, di mana letak komunitas yang akan kita kembangkan di tangga sosial?
Pauperisme  à  Miskin  à Mampu Bertahan Sendiri à Kaya
Ketergantungan                               à                           Harga Diri 
Catatan: Pauper adalah individu atau komunitas yang sangat miskin tanpa dukungan keluarga atau tetangga dan hanya bergantung pada bantuan orang lain.
Cara pandang dunia dan responnya terhadap kemiskinan.  Ada 3 cara pandang yang menggabungkan beberapa ide dari sistem kepercayaan utama dan menawarkan pendekatan  untuk mengatasi kemiskinan: Animistik, Humanistik atau Materialistik, dan Holistik
Animistik
Animistik adalah kepercayaan pada kekuatan supernaural yang mengatur dan menghidupkan alam semesta.  Tenaga pengatur di dunia sebagai roh yang terpisah.
Sistem kepercayaan dan nilai animisme adalah kepercayaan pada penyebab dari luar, kemiskinan, kelaparan, banjir, gempa bumi, sakit penyakit merupakan manifestasi dari kekuatan adikrodrati di luar daya manusia.  Takdir dan kemurkaan Sang Kuasa tidak bisa dibendung dan tak bisa dilawan.  Sehingga, akan menjadi sikap dan perilaku untuk selalu menyenangkan Sang Kuasa, menjaga hidup selalu harmoni dengan alam dan Sang Kuasa.  Bertahan pada siklus kemiskinan dan bencana tiada henti karena percaya tidak ada solusi yang bisa menghentikannya.  

 Humanistik atau Materialistik
Humanisme adalah sebuah doktrik, sikap, atau cara hidup yang terpusa pada kepentingan atau nilai dari manusia.  Filosofi yang biasanya menolak supernaturalisme dan menekankan pada martabat individu dan kelayakan kapasitas untuk menyadari diri sendiri melalui kemampuan berfikir.
Materialisme adalah teori yang menyatakan bahwa material adlah satu-satunya hal yang eksis, bahwa semua benda terdiri dari material dan semua fenomena serta kesadaran adalah hasil interaksi dari materi yang dapat dirasakan oleh indera manusia.
Humanisme merupakan bentuk dari materialisme.  Materialisme mengaanggap semua hal adalah impersonal.  Kemiskinan dan kelaparan disebabkan oleh ketidak adilan distribusi sumberdaya.  Sehingga, manusia harus berbagi secara adil untuk menjaga kelangsungan hidup.  Humanisme mengharuskan membangun pondasi kesadaran tentang manusia sebagai pusat kehidupan dan berkehidupan.  Humanisme mendorong evolusi manusia untuk selalu berkembang dan naik ke level yang lebih tinggi untuk mengatasi masalah kemanusiaan dan sosial.
Humanisme adalah cara atau pendekatan yang paling lazim dipergunakan dalam pengembangan masyarakat, khususnya untuk melawan kemiskinan.  Selalu berusaha untuk melawan dan memperbaiki sistem yang ada serta mendikotomi antara dunia materi dan dunia immaterial.  Selalu berusaha untuk menyeimbangkan masalah populasi dan ketersediaan sumberdaya serta ketidakadilan.
Cara pandang humanisme terhadap permasalahan kemiskinan (1) Kemiskinan Materi karena kurangnya aset; (2) Kerentanan karena kurangnya perlindungan, pilihan, dan mudah dipaksa; (3) Kurang Kuasa karena kurang pengaruh, kekuatan sosial, dan eksploitasi oleh kekuasaah; (4) Isolasi karena kurangnya pendidikan dan dikeluarkan dari sistem; (5) Kelemahan Fisik karena terlalu banyak bergantung dan kurangnya kekuatan.
Nilai-nilai humanisme menekankan pada kemampuan manusia yang memiliki sumberdaya fisik dan alam.  Selalu berusaha keras untuk mengatasi sifat natural manusia yang mementingkan diri sendiri dengan selalu bebuat baik pada sesama.  Menghargai pemberian (amal) dengan harapan distribusi kekayaan akan menjadikan dunia lebih adil dan individu semakin berdaya.
Perliaku humanisme akan selalu mengedepankan kemampuan diri sendiri untuk melawan nasib.  Selalu berusaha untuk merubah arah hidup orang lain dan masyarakat secara luas serta distribusi kekayaan dengan adil.
Humanisme tidak melepaskan diri dari ketergantungan karena masih berhadap pada distribusi kekayaan dan investasi sumberdaya manusia secara besar-besaran.  Sebagai contoh adalah program donor dari negara kaya ke negara miskin.
Sebagai contoh, Amerika Serikat menggunakan pendekatan humanistik untuk melawan kemiskinan.  Orang-orang miskin akan ditunjang kehidupannya oleh keluarga, tetangga, gereja, bahkan negara.  Tetapi sejak 1870 bergeser dengan selalu memotivasi setiap warga negara untuk bekerja dengan menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya.  Sehingga, sejak 1900, Amerika Serikat selain tetapi memberikan bantuan (jaminan sosial) pada orang miskin sebagai bentuk distribusi kekayaan juga mendorong pembukaan lapangan pekerjaan seluas-luasnya melalui berbagai lembaga dan agensi.  Tetapi akibatnya, ketergantungan tetap menjadi momok.  Ketergantungan orang miskin pada lembaga atau agensi sosial, sedangkan pengelola (lembaga dan agensi sosial) bergantung pada distribusi dari orang kaya (korporasi) dan negara.  Dalam jangka panjang, kemiskinan secara fisik berkurang tetapi kemiskinan mental (ketergantungan) menjadi semakin tinggi dan meluas. 
 Holistik
Holistik adalah pendekatan terpadu yang berfokus pada sistem yang lengkap dan penuh, yang sementara dan yang kekal, menghargai tubuh, jiwa, pikiran, dan roh.
Pendekaran holistik merupakan dasar baru bagi pengembangan masyarakat dan komunitas dengan cara menata kembali hubungan yang positif, mereformasi nilai-nilai, dan mengubah paradigma serta cara pandang yang holistik.
Pendekatan holistik mendefinisikan alam semesta sebagai sistem yang terbuka, memfokuskan masalah kemiskinan sebagai masalah internal manusia.  Kemiskinan bukan hanya masalah kekurangan sumberdaya tetapi sudah mengakar menjadi suatu budaya.  Kemiskinan adalah ide korporat yang mengakibatkan perilaku tertentu, perilaku yang membentuk budaya, kemiskinan.
Nilai-nilai pendekatan holistik menekankan pada pengelolaan sumberdaya yang penuh tanggung jawab, memperbarui sumberdaya yang dapat diperbarui, menggunakan pendekatan yang kreatif untuk memublikasikan hasil pembelajaran secara ekspansional.  Membogkar cara pandang yang menyakatan bahwa kemiskinan disebabkan oleh kurangnya sumberdaya apalagi nasib atau takdir melainkan disebabkan oleh relasi yang rusak.
Kemiskinan merupakan akibat dari (1) hubungan yang tidak harmonis dengan Sang Kuasa; (1) manusia menjadi semakin egois dan merusak relasi antar manusia; (3) penindasan, ketiadaan akses, kerusakan moral, karena eksploitasi oleh sekelompok manusia pada manusia lainnya; (4) eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan untuk menimbun kekayaan; (5) dominasi, rasisme, dan kekerasan untuk mempertahankan dominasi; (6) sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang tidak adil.
Perilaku pendekatan holistik menekankan pada pengembangan komunitas berbasis aset.  Mendorong individu dan komunitas untuk membangun model sosial konstruktif yang memulihkan martabat dan nilai individu dan komunitas.  Melatih individu dan komunitas untuk menjadi agen perubahan yang aktif dan pembawa pesan positif pada masyarakat luas.  Membangun relasi yang sehat dan setara antar individu, antar komunitas, dan komunitas dengan penguasa (ekonomi, sosial, dan politik).
Agen perubahan harus mampu membangun hubungan yang sehat dan setara secara individu dengan individu lain dalam komunitas.  Mampu menjadi katalis perubahan dalam komunitas.  Mampu memelihara komunitas secara strategis menuju perubahan.  Mampu menciptakan perubahan secara simultan dan multi aspek dalam komunitas.
Peubahan holistik akan menghasilkan perubahan yang berkelanjutan dan masyarakat yang adil dan setara.  Perubahan baik secara pribadi, sosial, aset, sumberdaya baik kemampuan, kapasitas, kuantitas, maupun kualitas.  

Model HIST (Holitic, Integrated, Sustainable, Tranformative)
Holistic (Holistik)
Perubahan secara utuh pada semua aspek dan seluruh sektor dalam masyarakat.
 Integrated (Terintegrasi)
Perubahan yang diterima dan menjadi bagian dari masyarakat.
Sustainable (Berkelanjutan)
Perubahan dalam jangka panjang, berkesinambungan, dan dapat diulang.
Tranformative (Transformatif)
Peruabahan yang utuh, menyeluruh, dan mampu mengubah paradigma dan pemikiran komunitas.

Pengembangan Masyrarakat Berbasis Aset (Aset Based Community Development - ABCD)
Merupakan pengembangan masyarakat berbasis aset, berfokus pada komunitas.  Melihat ke dalam untuk mencari jawaban dari permasalahan komunitas.  Perubahan yang digerakkan oleh relasi yang sehat dengan pendekatan yang menyeluruh pada pengembangan nilai individu dan komunitas secara multi dimensional.  Melakukan perubahan menyeluruh pada setiap aspek dan sektor dalam komunitas secara simultan dan berkelanjutan.  Pengembangan perilaku berdasarkan kapasitas, kemampuan, dan aset lokal.
Pengembangan komunitas dapat berjalan dengan signifikan bila komunitas termobilisasi sepenuhnya, berkomitmen pada investasi pada diri sendiri dan sumberdaya-sumberdaya sosial yang dimiliki.  Terdapat 12 sektor pengembangan utama (primer) dalam pengembangan masyarakat HIST:
1.       Pertanian dan Peternakan (manajemen lingkungan, manajemen irigasi, teknik-teknik pertanian dan peternakan terkini)
2.       Kesenian dan Budaya (kesenian, rekreasi, dan olahraga)
3.       Pengembangan Ekonomi (usaha mikro, kecil, dan menengah, koperasi, perdagangan yang adil, ketenagakerjaan)
4.       Teknologi Informasi dan Komunikasi (komuinasi pribadi, komunikasi massa, internet)
5.       Pendidikan (administrasi, pengembangan kurikulum)
6.       Dukungan Ke;uarga (konseling pernikahan, pemeliharaan anak, tumbuh kembang anak, jompo)
7.       Pemerintahan (kepemimpinan)
8.       Keamanan, Keadilan, dan Peraturan Hukum (keadilan dan sistem peradilan, pelayanan dan pelaksanaan hukum)
9.       Sanitasi (air, kebersihan, diet, dan nutrisi)
10.   Kesehatan (medis, pasokan logistik medis, obat-obatan, klinik, penyakit menular)
11.   Infrastruktur (rantai pasokan & penyimpanan, transportasi & distribusi, energi, jalan, jembatan, pelabuhan)
12.   Organisasi (kelompok masyarakat sipil, asosiasi, keagamaan, sosial)

Transformasi Sosial Holistik
Dasar
1.       Penataan ulang perilaku untuk membangun relasi positif.
2.       Reformasi nilai-nilai.
3.       Perubahan paradigma sistem kepercayaan pada cara pandang dunia.
4.       Kebenaran dan keadilan.
Pengembangan Masyarakat
1.       Pertanian dan Peternakan
2.       Seni dan Budaya
3.       Pengembangan Ekonomi
4.       Teknologi Informasi dan Komunikasi
5.       Pendidikan
6.       Dukungan Keluarga
7.       Pemerintahan
8.       Keamanan, Keadilan, dan Peraturan Hukum
9.       Sanitasi
10.   Kesehatan
11.   Infrastruktur
12.   Organisasi.

Referensi
Chambers, R. (1983). Rural Development: Putting the Last First.  London: Longman.
Cope, L.L., (2006) The Old Testament Template. Butrtingny: The Template Institute Pers.
Esterly, W. (2006) The White Man’s Burden. New York, NY: The Penguin Pers.
Ehrenfeld, D.W. (1981). The Arrogance of Humanism. Oxford University Press.
Kretzman, J.P. & MecKnight, J.L. (1993). Building Communities from the Inside Out. Everton, IL: Institute for Policy Research.
Miller, D. (2007). Power of Story. Disciple Nations Alliance.
Myers, B.L. (1989). Walking with the Poor. Maryknoll, NY: Orbis Book.
Olasky, M.M. (1992). The Tragedy of Amerincan Compassion. Washington, D.C.: Regnery Publishing.


Kamis, 11 Januari 2018

Siap Siaga Menghadapi Bencana Ala IDRN



INTERNATIONAL DISASTER RESPONSE TRAINING
By International Disaster Response Network (IDRN)

Mengapa Kita Harus Mempersiapkan Diri?
Mengapa mempersiapkan diri? Bencana semakin sering terjadi dan semakin besar skalanya yang mengakibatkan semakin banyaknya korban jiwa dan material.  Contoh: Tsunami Asia Tenggara 12/2004, Gempa Bumi Pakistan 10/2005, Topan Nargis 05/2008, Gempa Bumi Sichuan China 06/2008, Gempa Bumi Haiti 01/2010 dan banyak lagi lainnya.  Dalam satu minggu di tahun 2009 terjadi bencana secara beruntun, yaitu Gempa Bumi Buthan, Gempa Bumi Peru, Tsunami Samoa, Topan di Philipine (2 Topan), dan Gempa Bumi di Indonesia (2 gempa)
Alasan kita harus mempersiapkan diri adalah untuk:
1.       Mempersiapkan individu dan keluarga untuk bertahan hidup dalam sebuah bencana;
2.       Mempersiapkan diri untuk membantu sesama dalam sebuah bencana;
3.       Menjadi International Disaster Response Neteork (IDRN) partner; (4) mengerti IDRN Disaster Response Operations.
Jenis-Jenis pelatihan IDRN:
(1) IDRN 1100 – Perkenalan kepada respon bencana alam dasar;
(2) IDRN 1300 – Manajemen respon bencana: local coordination center.
IDRN 1100 terdiri dari pelatihan untuk:
1.       Penjelasan tentang latar belakang bencana;
2.       Pelatihan tentang persiapan dasar; P
3.       elatihan cara bersiaga yang tepat;
4.       Pelatihan respon bencana;
5.       Memperkenalkan IDRN.
IDRN 1300 terdiri dari pelatihan untuk:
1.       Mempersiapkan relawan untuk LCC;
2.       Memangun ICT;
3.       Dasar-dasar bantuan kemanusiaan;
4.       Standar bantuan kemanusiaan;
5.       Operasi di zona bencana;
6.       Kebutuhan logistik korban bencana;
7.       Pengumpulan data secara cepat.

Apa yang Kita Harapkan Capai?
Mempersiapkan kemampuan fisik dan kemampuan mental untuk menghadapi bencana atau menjadi relawan di daerah bencana.

Apa Saja Persiapan Dasar?
Bagaimana mengantisipasi datangnya bencana?
Apakah kita siap saat terjadi bencana di sekitar kita?
Bagaimana cara bertahan melewati bencana?
Harus bersiap diri dengan cara: (1) mencari informasi; (2) tidak berhapa pada bantuan orang lain; (3) memiliki rencana.
Mencari informasi mengenai:
1.       Bencana apa saja yang dapat timbul di sekitar kita?
2.       Apakah masyarakat/komunitas di sekitar kita memiliki rencana untuk mengatasi bencana tersebut?
3.       Apakah ada sistem peringatan dini?
4.       Bagaimana cara kita untuk mengetahui rencana/manajemen bencana?
Tidak mengharapkan bantuan dari orang lain karena:
1.       Keselamatan diri kita tergantung dari diri kia sendiri;
2.       Pemerintah butuh minimal 72 jam untuk turun membantu;
3.       Harus memiliki pola pikir bertahan hidup yang benar (pola pikir saat bencana bila tanpa kesiapsiagaan: 10% rasio, 80% shock; 10% panik). 
Memiliki rencana/manajemen kebencanaan:
(1) evakuasi; (2) komunikasi dengan keluarga; (3) mematikan utilitas; (4) kebutuhan khusus; (5) kemampuan bertahan hidup; (6) go bag; (7) persediaan logistik.
Evakuasi:
1.       Melarikan diri dari rumah;
2.       Titik kumpul keluarga dan warga;
3.       Jalur evakuasi;
4.       Kendaraan.
Komunikasi:
1.       Koordinasi untuk titik kumpul;
2.       Persiapan rumah: mematikan semua utilitas;
3.       Menyelamatkan dokumen penting & asuransi.
Kebutuhan Khusus:
1.       Orang jompo;
2.       Orang cacat;
3.       Anak-anak & bayi;
4.       Ibu hamil dan menyusui;
5.       Orang yang dalam pengobatan;
6.       Peralatan khusus;
7.       Binatang peliharaan.
Go Bag, berisi:
1.       Persediaan air minum;
2.       Makanan tahan lama;
3.       Pakaian;
4.       Jas hujan;
5.       Kantung tidur;
6.       Senter;
7.       Pemantik api;
8.       Daftar kontak;
9.       Perlatan P3K;
10.   Obat ekstra;
11.   Peralatan mandi & bersih diri.
12.   Tali:
13.   Peralatan serba guna;
14.   Peluit;
15.   Uang tunai;
16.   Kertas dan alat tulis;
Kemampuan bertahan hidup:
1.       Pertolongan pertama;
2.       Penggunaan alat pemadam api;
3.       Nafas buatan (CPR);
4.       Jangan menempatkan diri dalam bahaya;
5.       Triage (pernafasan, nadi, dan kesehatan mental);
6.       Cairan tubuh;
7.       Keamanan lingkungan;
8.       Ancaman bahaya.
Rencana atau manajemen bencana:
1.       Persediaan darurat untuk 2 minggu;
2.       Evakuasi dari tempat kerja;
3.       Jumlah bahan pangan, hindari garam, dan simpan di tempat kering, terlindung, dan tinggi:
4.       Makanan tambahan (suplemen), susu, dan kopi;
5.       Kebutuhan air bersih (4 liter perorang/hari, orang sakit, ibu menyusui, suhu tinggi, aktivitas fisik, dan kebutuhan medis memerlukan lebih banyak air);
6.       penyimpanan air bersih dan air minum yang memadai.  Diganti setiap 6 bulan sekali.

Bagaimana Mempertahankan Hidup?
Mempertahankan hidup: (1) kebutuhan dasar; (2) bertahan dalam lingkungan; (3) bertahan dalam bencana.
Kebutuhan Dasar:
1.       Keamanan;
2.       Ketersediaan air;
3.       Tempat berlindung;
4.       Makanan.
Keamanan:
1.       Tetap waspada;
2.       Sadar akan kondisi sekitar;
3.       Bergerak hanya di siang hari;
4.       Tidak meninggalkan barang tanpa pengawasan;
5.       Memiliki rencana pertahanan rumah.
Ketersediaan Air:
1.       air dari sumber yang aman (air kemasan, makanan kaleng, air mengalir, air yang dipanaskan);
2.       alat pemurnian air (dari partikel dengan penebah pakaian, filter keramik, dan pengendapan. Dari kimia dengan penyulingan. dari bakterial dengan dididihkan, bahan kimian, dan sinar ultra violet).
Tempat Perlindungan:
1.       Aman;
2.       Ketersediaan air bersih;
3.       Kemudahan akses;
4.       Aman dari bencana susulan.  Contoh tempat perlindungan: rumah keluarga atau teman, perkemahan pemerintah, tempat ibadah, gedung sekolah, gedung olah raga.
Makanan:
1.       Peralatan masak dan makan yang bersih;
2.       memasak dengan benar;
3.       Cuci tangan;
4.       Menutup makanan;
5.       Menjauhkan sampah;
6.       Tidak memakan makanan yang terkena air banjir;
7.       Buang makanan yang berwarna, berbau, berjamur, atau teksturnya tidak normal.
Persiapan Memasak:
1.       Kompor atau tungku masak;
2.       Alat masak yang memadai;
3.       Bahan makanan yang layak;
4.       Air bersih;
5.       Tidak memasak dan makan makanan kaleng yang rusak, berbau tidak normal, air yang tidak bersih dan sehat, dekat dengan sampah.

 Pedoman Dasar Bertahan Hidup
Berusaha untuk:  (1) tetap hangat;  (2) tetap kering;  (3) tetap bersih;  (4) lindungi kaki;  (5) jaga kandungan air tubuh; (6) berkomunikasi dengan orang lain.
Tetap Hangat dan Kering:
1.       Keringat bisa membunuh (hypothermia);
2.       Pakaian hangat dan menyerap keringat seperti katun;
3.       Selalu berusaha menjaga tubuh tetap kering.
Menjaga Kadar Air Tubuh:
1.       Dehidrasi bisa membunuh;
2.       Jangan menjatah air;
3.       Gejala (haus, air seni berwarna keruh, mudah lelah, sakit kepala, mual, mudah tersinggung).
Melindungi Kaki:
1.       Menggunakan alas kaki yang longgar;
2.       Bila perlu berkaos kaki dan dibedaki;
3.       Tidak membuka kulit yang melepuh;
4.       Membersihkan dan menutup kulit yang melepuh;
5.       Mencegah penyakit dan infrksi; (6) mencuci area yang rentan.
Menjaga Kebersihan Diri:
1.       Mencegah penyakit dan infeksi;
2.       Membersihkan daerah renan (ketiak, selangkangan, tangan, dan rambut);
3.       Jika tidak ada air bisa menggunakan media lain yang layak (seka dengan air hangat).
Berkomunikasi:
1.       Terhubung dengan jaringan luar daerah bencana;
2.       Akses informasi.

Bertahan Hidup Dalam Bencana
Gempa Bumi:
1.       memasang pipa fleksibel untuk gas dan air;
2.       Jangkarkan lampu yang mengantung;
3.       Tentukan titik aman di tiap ruangan;
4.       Kaitkan perabotan, lemari es, pemanas air;
5.       Taruh benda yang berat atau mudah pecah di bawah;
6.       Pergi ke bawah meja, bangku atau benda yang kokoh;
7.       Mencari pintu, pojok ruangan atau struktur-struktur yang bisa menaman beban;
8.       Menjauhi segala bentuk kaca atau benda yang dapat jatuh;
Banjir
1.       Segera evakuasi dengan mencari tempat yang tinggi;
2.       Jangan mengenmudi atau berjalan di aliran air yang bergerak;
3.       Jangan meminum air banjir;
4.       Pindahkan barang-barang penting di tempat yang tinggi.
Angin Ribut
1.       Tutup Jendela dengan papan;
2.       Matikan semua utilitas;
3.       Penuhi bak-bak air;
4.       Cari dan tinggal di ruangan yang paling dalam;
5.       Berbaring di bawah meja;
6.       Jangan tinggalkan tempat perlindungan;
7.       Tunggu badai reda sebelum evakuasi;
8.       Evakuasi jika memungkinkan.
Tsunami
1.       Perhatikan penurunan level air laut yang mendadak;
2.       Perhatikan binatang yang meninggalkan area pantai atau yang bertindak tidak normal;
3.       Pindah ke tempat yang lebih tinggi;
4.       Cari gedung yang kokoh dan naik ke puncaknya;
5.       Panjat pohon yang kokoh.
Erupsi Gunung Berapi
1.       Gunakan baju beelengan panjang dan celana panjang;
2.       Gunakan pelindung mata dan masker;
3.       Tetap berada berlawanan dengan angin;
4.       Jangan mengemudi di hujan abu;
5.       Jauhi sungai dan lembah;
6.       Lindungi rumah dari abu.
Gas Kimia
1.       Tetap melawan arus dan atau arah angin;
2.       Berhenti dan cari tempat perlindungan;
3.       Tutup dan segel semua ventilasi;
4.       Matikan AC dan sistem ventilasi;
5.       Evakuasi jika memungkinkan.
Teroris
1.       Berjaga-jaga dan waspada kondisi sekitar;
2.       Jengan berdiri di luar rumah;
3.       Menjauhi keramaian.
4.       Pergi jika memang dirasa sudah aman;
5.       Berhati-hati saat bepergian;

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan
1.       Evakuasi atau berlindung?
2.       Banyaknya waktu yang kita miliki?
3.       Arah angin dan jarak?
4.       Adakah ruangan yang aman?
5.       Dimanakah keluarga kita?

Respon Terhadap bencana
Pengurangan Risiko Bencana  à  Kesiapsiagaan  à  Bencana  à  Penyelamatan  à  Pengumpulan Data à Mencari Perlindungan dan Bantuan à  Pemulihan  à Pembangunan Ulang  
Kejadian Bencana  à  Penyelamatan (72 Jam)  à  Pengumpulan Data (0--5 hari)  à  Mencari pertolongan dan bantuan (7—90 hari)  à  Pemulihan dan pembangunan ulang (30 hari sampai 2 tahun) à Pemberdayaan (terus menerus).

Operasi IDRN
Merupaka jejaring organisasi swasta yang terlatih dan kompeten.  Berusaha selalu memperluas jaringan untuk bekerja di lapangan secara bersama-sama.
Local Coordination Center (LCC) merupakan pangkalan operasi IDRN untuk mengambil keputusan.  Menentukan tujuan distribusi bantuan di daerah bencana.  Serta tuan rumah dari Disaster Response Teams (DRTs).  Juga sebagai pos pengumpulan bantuan dan mobilisasi relawan.
Local Coordination Team (LCT) merupakan team yang bekerja untuk mengumpulkan informasi dan data sebagai gambaran umum awl operasi.  Bertugas mengatur LCC dan sebagai penghubung IDRN dengan komunitas lokal.  Menjadi titik utama di daerah bencana baik sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.
Disaster Response Teams (DRTs) terdiri dari relawan atau partisipan profesional yang bersifat internaional.  Terdiri dari individu-individu yang terlatih dan berpengalaman.  Contoh: Dokter Bedah Lapangan.
Rapid Assessment Teams (RATs) merupakan relawan lokal yang berfungsi sebagai mata dan telinga IDRN.  Menyediakan informasi dasar awal untuk pengiriman bantuan dan mobilisasi relawan.  Memiliki relasi dan jejaring dengan DRTs lokal.  Serta bertindak dengan cepat.

Urutan Aktivasi IDRN
1.       Pemberitahuan kabar yang diterima tentang peristiwa bencana.
2.       Pengumpulan Data: (1) besar dan luasnya lokasi bencana; (2) staus awal dan keperluan; (3) kabar dari ICT di tempat bencana; (4) penggabungan dan analisis data.
3.       Persiapan: (1) mengumpulan daftar partner IDRN; (2) menyusun laporan kejadian; (3) menyiapkan portal IDRN (www.IDRN.info).
4.       Aktivasi: (1) mengirim email ke semua partner yang relevan untuk menjelaskan situasi disertai dengan laporan kejadian; (2) sambungan ke daftar organisasi yang merespon.
5.       Verifikasi dan Partisipan: (1) tiap partisipan atau relawan yang merespon panggilan IDRN harus mengisi hal-hal yang diperlukan di daftar organisasi yang merespon.
6.       Pertemuan Strategi: (1) semua organisasi yang mendaftar akan mendapat undangan go to webinar.  Untuk memastikan bahwa semua yang berencana merespon memunyai kesempatan untuk berkoordinasi dan menentukan cara yang terbaik untuk memobilisasi semua respon.

Jaringan IDRN
IDRN adalah jaringan dari berbagai jaringan.  Tidak memiliki struktur yang hirarkis karena bersifat sukarela.  Setiap anggota yang terdiri dari individu dan organisasi adalah aset.  Bergabung di IDRn cukup mendaftar dan mengisi data diri di Portal IDRN dan akan mendapat kartu anggota.
Selanjutnya, untuk pengembangan akan ikut pelatihan IDRN 1100 dan 1300.  Setiap anggota IDRN wajib untuk berbagi pengetahuan, membentuk tim, membangun jaringan, dan meningkatkan kapasitas.
Kategori Tim: (1) penyediaan air bersih; (2) penyediaan dan penyajian makanan; (3) pengobatan; (4) bantuan individual; (5) trauma helaing, konseling, dan dukungan; (6) bimbingan rohani; (7) pembangunan ulang (rekonstruksi); (8) manajemen logistik; (9) komunikasi dan teknologi informasi (ICT); (10) kebutuhan khusus; (11) manajemen donasi; (12) responder profesional; (13) transisi dan pemulihan.