Disarikan dari Cocotan Sang Pendekar Cocot Kencono "Kak Demsi Danial"
Pengantar
PRA adalah Metode pendekatan pemberdayaan dengan partisipasi
dan keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan kegiatan pembangunan. PRA menyediakan ruang dokumentasi visual yang
kaya untuk partisipasi.
Penilaian à
Perencanaan à
Pelaksanaan à
Monitoring dan Evaluasi.
PRA menjadikan pemberdayaan berpusat pada masyarakat (people center development).
Keterlibatan à
Kemandirian à
kekuatan internal masyarakat.
Amanat Undang-Undang Desa, tahun 2015 untuk pelatihan sedangkan
tahun 2016 untuk pembangunan.
PRA adalah pengembangan dari Rapid Rural Appraisal (RRA), metode pemehamanan cepat kondisi
masyarakat. RRA masih dipergunakan untuk
Tanggap Darurat (Emergency Response – ER),
sedangkan PRA untuk Rencana Tindak Lanjut (RTL).
PRA dan RRA
(Chambers, 1996)
RRA dikembangkan dan banyak digunakan oleh perguruan tinggi
untuk menilai pengetahuan masyarakat sebagai sebuah metodologi untuk penggalian
pengetahuan. Dimanfaatkan untuk
memperkaya pembelajaran dari masyarakat yang nantinya akan digunakan untuk
perencanaan pengajaran, pengerjaan proyek, dan publikasi.
PRA dikembangkan dan dipergunakan oleh organisasi non profit
untuk menilai kemampuan dan potensi masyarakat.
Dipergunakan sebagai dasar pendampingan dan fsilitasi yang bersifat
partisipatif untuk pemberdayaan masyarakat.
Menghasilkan kelembagaan dan tindakan masyarakat berkelanjutan.
Dasar PRA adalah belajar bersama masyarakat dengan melakukan
eksplorasi dan adaptasi. Dilakukan dengan
menerima dan mendengar langsung dari masyarakat dan tidak boleh menggunakan
asumsi. Informasi harus difahami dan
kemudian dilakukan silang pendapat dan silang pendekatan dengan prinsip
triangulasi.
Kegiatan: transect à
live in à
tinggal bersama
Penerapan PRA yang serampangan di lapangan dengan tujuan
yang tidak jelas akan merusak pendampingan dan pemberdayaan masyarakat yang
akan dilakukan.
Pedampingan bukan
penyuluhan!
Pendampingan adalah penggalian yang mendalam permasalahan
masyarakat dan kemudian berimprovisasi dengan dokumentasi dan teknologi untuk
menyusun kegiatan berkelanjutan dan berkesinambungan untuk pemberdayaan
masyarakat.
Pemberdayaan membutuhkan diskursus lintas disiplin
ilmu. Harus bersifat fleksibel dan multi
disiplin, memanfaatkan multi media (audio visual) untuk saling belajar dan
berbagai pengalaman dan pengetahuan bersama masyarakat.
PRA menekankan pada pengakuan dan kepercayaan pada
rakyat. Pengakuan terhadap pengetahuan
dan kemampuan memecahakan masalah sendiri.
Keterlibatan seluruh anggota kelompok dengan menghargai perbedaan. Harus homogenitas dan egaliter, Harus memperhatikan lebih pada kelompok paling
sedikit atau akses paling terbatas.
Triangulasi diperlukan untuk memperoleh kedalaman informasi
berdasar cek dan recek. Berperspektif
multi disipliner dan multi perspektif.
Optimalisasi hasil diperoleh dengan alokasi waktu yang
memadai, narasumber yang kompeten, kualitas dan akurasi informasi yang baik.
Orientasi dilakukan untuk menyusun pemecahan masalah dan
pengembangan program. Lebih baik
perkiraan yang hampir salah ketimbang kesimpulan yang hampir benar.
Keberlanjutan program
Program yang digerakkan oleh masyarakat sendiri dan harus
berkelanjutan. Percepatan dapat
dilakukan dengan menyusun kurikulum lokal, dokumentasi lokal dan
dipresentasikan sendiri oleh masayarakat.
Mengutamakan yang terabaikan dengan memberikan peran. Keberpihakan perlu dilakukan untuk mencapai
keseimbangan perlakuan. Menggutamakan golongan yang paling miskin.
Pemberdayaan dan
penguatan masyarakat
Orang luar (fasilitator) berproses bersama sebagai anggota
masyarakat. Kegiatan PRA tidak boleh
menganggu kegiatan rutin masyarakat. Harus
berprinsip keterbukaan. Melakukan
perbaikan konsep dan pemikiran serta merancang teknik-tenik baru.
Siklus
1.
Pengenalan masalah atau kebutuhan dan potensi.
2.
Perumusan masalah dan penetapan prioritas.
3.
Identifikasi alternatif pemecahan masalah atau
pengembangan gagasan.
4.
Pemilihan alternatif pemecahan masalah yang
paling tepat.
5.
Perencanaan penerapan gagasan dengan pemecahan
masalah yang kongkrit.
6.
Penyajian rencana kegiatan.
7.
Pelaksanaan dan pengorganisasian masyarakat.
8.
Pemantauan dan pengarahan kegiatan.
9.
Evaulasi dan rencana tindak lanjut.
Teknik PRA
Alat visual dan media belajar bersama. Dipergunakan untuk menyusun (1) penjagagan
kebutuhan; (2) perencanaan kegiatan; (3) monitoring dan evaluasi kegiatan.
1.
Teknik Penelusuran Sejarah Desa
Historis kritis desa (latar belakang sejarah, masalah, dan potensi) serta
hubungan sebab akibat kejadian dan sejarah kehidupan.
Harus bersifat runut waktu (kronologis) peristiwa-peristiwa masa lalu
sampai saat ini. Mengaji perubahan-perubahan
yang terjadi di masyarakat dan menganalisis sebab – akibatnya. Menyusun bagan
kecenderungan dan perubahan.
2.
Analisis perubahan keadaan, kejadian, dan
kegiatan masyarakat dari waktu ke waktu
Kecenderungan
umum yang akan berlanjut ke masa depan.
Mengenali perubahan terpenting, mengaji hubungan antar perubahan,
memfasilitasi masyarakat untuk membaca perkiraan aarah perubahan (visualisasi
bagan dan grafik), kecenderungan kegiatan atau musim (sosial, agama, dan
masyarakat) untuk menyusun jadwal kegiatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar