Tampilkan postingan dengan label Lumajang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lumajang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Maret 2023

TAMBANG LIAR: MERUSAK DAN MEMBUNUH, BERKACA PADA TRAGEDI SELOK AWAR-AWAR, PASIRIAN, LUMAJANG

 Kronologis Penolakan Tambang Pasir Di Desa Selok Awar – Awar Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang Jawa Timur

Laporan Investigasi Oleh:  ACHMAD ZAKKY QHUFRON, SH

Sumber: http://www.selamatkanbumi.com/kronologis-penolakan-tambang-pasir-di-desa-selok-awar-awar-kecamatan-pasirian-kabupaten-lumajang-jawa-timur, 28 September 2015

 Awal terjadinya penolakan aktivitas penambangan pasir oleh masyarakat Desa Selok Awar-Awar, dimulai sekitar bulan Januari 2015. Bentuk penolakan masyarakat berupa pernyataan sikap FORUM KOMUNIKASI MASYARAKAT PEDULI DESA SELOK AWAR – AWAR KECAMATAN PASIRIAN KABUPATEN LUMAJANG, yang dibentuk oleh 12 warga masyarakat, yaitu :

  1. Bapak TOSAN
  2. Bapak IKSAN SUMAR
  3. Bapak ANSORI
  4. Bapak SAPARI
  5. Bapak SALIM / P. KANCIL
  6. Bapak ABDUL HAMID
  7. Bapak TURIMAN
  8. Saudara M.HARIYADI
  9. Saudara ROSYID
  10. Saudara MOHAMMAD IMAM
  11. Saudara RIDWAN
  12. Bapak COKROWIDODO RS

Mereka melakukan gerakan advokasi protes tentang penambangan pasir yang mengakibatkan rusaknya lingkungan di Desa mereka dengan cara bersurat kepada Pemerintahan Desa Selok Awar-Awar, Pemerintahan Kecamatan Pasirian danPemerintahan Kabupaten Lumajang/Bupati Lumajang.

Sekitar bulan Juni 2015, FORUM warga menyurati Bupati Lumajang untuk meminta AUDENSI tentang penolakan tambang pasir. Tetapi tidak di respon oleh Bupati yang diwakili oleh CAMAT Pasirian. AUDENSI tersebut tentang keberatan FORUM warga terhadap aktivitas penambangan yang Izin penambangannya berkedok izin pariwisata.

Pada 9 September 2015 FORUM warga melakukan aksi damai penyetopan aktivitas penambangan pasir dan penyetopan truk muatan pasir di Balai Desa Selok Awar-Awar, yang menghasilkan Surat Pernyataan Kepala Desa Selok Awar-Awar untuk menghentikan aktivitas penambangan pasir di Desa Selok Awar-Awar.

Pada 10 September 2015 muncul pengancaman dan pembunuhan yang dilakukan oleh TIM PREMAN bentukan dari  Kepala Desa Selok Awar – Awar kepada Bapak TOSAN. Tim PREMAN tersebut diketuai oleh P. DESIR. Dan sebelum itu juga ada beberapa anggota FORUM warga yang pernah diancam oleh TIM PREMAN tersebut.

Pada 11 September 2015  perwakilan FORUM warga melaporkan kejadian Tindak Pidana pengancaman ke POLRES LUMAJANG yang ditemui dan/atau diterima langsung oleh KASAT RESKRIM LUMAJANG Bapak HERI. Pada saat itu KASAT menjamin dan akan merespon pengaduan FORUM  yang telah dikordinasikan dengan pimpinan POLSEK PASIRIAN.

Pada tanggal 19 September 2015, FORUM warga menerima Surat Pemberitahuan dari POLRES LUMAJANG terkait nama-nama Penyidik POLRES yang menangani kasus pengancaman tersebut.

Pada tanggal 21 September 2015 , FORUM warga mengirim Surat Pengaduan terkait ILEGAL MINING yang dilakukan oleh oknum Aparat Desa Selok Awar-Awar di daerah hutan lindung Perhutani.

Pada tanggal 25 September 2015, FORUM warga mengadakan kordinasi dan konsolidasi dengan masyarakat luas bahwa akan melakukan aksi penolakan tambang pasir dikarenakan aktivitas penambangan tetap berlangsung dilakukan oleh pihak Penambang. Rencana aksi dilakukan besok pagi harinya tanggal 26 September 2015 Pukul 07.30 WIB.

Pada tanggal 26 September 2015 kurang lebih pukul 08.00 WIB, terjadi penjemputan paksa dan penganiayaan terhadap 2  orang anggota FORUM warga yaitu Bapak TOSAN dan Bapak SALIM / P. KANCIL yang  dilakukan sekelompok preman yang dipimpim oleh DESIR  yang mengakibatkan meninggalnya Bapak SALIM/P.KANCIL dan Luka Berat; Bapak TOSAN.

Kejadian Alur TKP  Korban P. TOSAN

Sekitar Pukul 07.00 WIB, Pak Tosan menyebar selebaran di depan rumahnya bersama saudara Imam, kemudian ada satu orang kebetulan melintas dan berhenti sempat marah-marah, setelah itu dia meninggalkan pak Tosan dan Imam.

Sekitar pukul 07.30  WIB, sekelompok preman sekitar  kurang lebih 40 orang bermotor mendatangi P. TOSAN kemudian mengeroyok. Sebelum melarikan diri, Imam, teman korban sempat melerai kemudian preman berbalik ingin menyerang IMAM. Karena IMAM sendirian dan preman memakai dan membawa kayu, batu dan clurit, IMAM diminta korban untuk melarikan menyelamatkan diri dari lokasi tersebut. Kemudian pak Tosan melarikan diri dengan menaiki sepeda angin, namun masa terus mengejar. Pada saat di lapangan Persil, korban terjatuh, di aniaya dengan memakai pentungan kayu, pacul, batu dan celurit. Setelah korban terjatuh, preman sempat melindas dengan sepeda motor.

Kemudian setelah beberapa lama datang teman P.TOSAN yaitu RIDWAN yang telah menerima kabar bahwa P.TOSAN dianiaya oleh 30 orang lebih. Lalu RIDWAN hendak melerai preman agar melepaskan P.TOSAN. Kemudian para preman berbalik hendak mengeroyok RIDWAN, lalu RIDWAN menantang pimpinan preman, yang bernama Deser. Kemudian para preman berbalik dan meninggalkan P.TOSAN yang sudah penuh luka berat dan RIDWAN  mengantarkan P.TOSAN ke PUSKESMAS Pasirian dan dirujuk ke RSUD Lumajang dan RS.BHAYANGKARA Lumajang.

Kejadian Alur TKP Korban Alm. P.SALIM/ P.KANCIL

Setelah dari menganiaya P.TOSAN, para preman menuju rumah P.SALIM/P.KANCIL. Selanjutnya para preman menjemput paksa P. SALIM/KANCIL di rumahnya. Pada saat kejadian, Alm Pak Kancil sedang mengendong cucunya yang masih berusia sekitar 5 tahun. Melihat gerombolan preman datang kerumahnya, korban menaruh cucunya dilantai, kemudian preman mengikat kedua tangan korban, memukuli dengan kayu dan batu. Kemudian preman membawa P.SALIM/P.KANCIL ke Balai Desa Selok Awar – Awar dengan cara diseret. Jarak rumah korban dengan Balai Desa sekitar 2 kilo meter. Pada saat di Balai Desa korban sempat mendapat penyiksaan berat. Selain dipukuli, digergaji lehernya, Almarhum juga disetrum. Kejadian ini kurang lebih setengah jam; antara jam 08.00-08.30 WIB, sampai menimbulkan kegaduhan, dan terdengar suara kesakitan dari P. SALIM/KANCIL di Balai Desa tersebut, yang pada saat itu ada proses belajar mengajar disekolah Anak – Anak PAUD di Desa. Peristiwa itu sampai mengakibatkan proses belajar mengajar di hentikan dan dipulangkan. Kemudian preman menyeret P.SALIM/KANCIL ke luar Balai Desa menuju tempat disekitar Makam Desa. Pada saat disekitar makam, korban diminta berdiri tangan terikat dan diangkat keatas, kemudian preman membacok perut selama tiga kali namun tidak menimbulkan luka sama sekali, kemudian kepala korban di kepruk pakai batu dan mengakibatkan korban meninggal posisi tertelungkup dengan tangan terikat/diikat dengan tambang. Tubuh terutama kepala korban penuh luka benda tumpul, di dekat korban banyak batu dan kayu berserakan.

Menurut kesaksian dari RIDWAN dan IMAM, para preman berjumlah kurang lebih 40 orang tersebut dipimpin oleh P. DESIR yang kesemuanya itu melakukan penganiayaan terhadap P.TOSAN dan kemungkinan besar juga pelaku yang sama terhadap pembunuhan P. SALIM/ P. KANCIL. Kesaksian  RIDWAN dan IMAM telah dimintai keterangan di TKP oleh pihak Penyidik POLRES Lumajang dan menyebutkan beberapa nama pelaku penganiayaan dan Pembunuhan yang diketahui, yaitu : DESIR; EKSAN; TOMIN; TINARLAP; SIARI; TEJO; ELI; BUDI; SIO; BESRI; SUKET; SIAMAN; JUMUNAM; SATUWI; TIMAR; BURI; MISTO; PARMAN; SATRUM; dan pelaku lainnya tidak diketahui namanya.

Untuk beberapa anggota FORUM lainnya, pasca kejadian tersebut berada di POLSEK PASIRIAN untuk meminta perlindungan keamanan.


 

Pembunuhan Terhadap Salim Kancil dan Tosan Sudah Direncanakan

(Laporan Investigasi Pusham Surabaya dan CMARs Surabaya)

Oleh: Johan Avie & Abdul Karim

 

Malam Harinya; Pembunuhan Direncanakan

Pembunuhan terhadap Salim Kancil, serta penganiayaan terhadap Tosan sudah direncanakan oleh para pelaku sejak tanggal 25 September 2015, satu hari sebelum pembunuhan itu terjadi. Malam hari, 25 September 2015, Tim 12 dan Kepala Desa menyusun rencana untuk membunuh Salim Kancil dan Tosan. Rencana pembunuhan dilakukan di salah satu pondok pesantren milik Kyai Huri. Letaknya di sebelah selatan terminal Probolinggo, Jawa Timur.

Pada 25 September 2015, sekitar pukul 22.00 WIB, Desir, pimpinan tim 12 yang kini jadi tersangka, mendatangi Asnawi. Ia mengajak Asnawi untuk mengikuti pertemuan di Probolinggo dengan Kepala Desa, dan tim 12. Asnawi diajak karena ia adalah mantan kepala dusun, dan dulu merupakan tim sukses dari Hariyono, Kepala Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Berdasarkan keterangan Asnawi, ia menolak untuk ikut karena merasa ada yang tidak beres dengan pertemuan tersebut. Akhirnya Desir kembali pulang ke rumahnya untuk mempersiapkan keberangkatan 12 orang lainnya ke Probolinggo.

Di tempat yang berbeda, Gus Namin, salah seorang tokoh agama di Kecamatan Wotgalih, Kabupaten Lumajang juga menyatakan bahwa 2 orang santrinya berpamitan kepada dirinya untuk ikut berangkat ke Probolinggo karena ada pertemuan dengan Kepala Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Saat itu, Gus Namin sudah melarang kedua santrinya untuk ikut dalam pertemuan tersebut, tetapi mereka tetap memaksa berangkat bersama dengan tim 12 lainnya. Gus Namin sendiri tidak mengetahui apa isi dari pertemuan di Probolinggo tersebut, karena menurutnya, kedua santrinya tidak mengatakan apa-apa soal pertemuan di Probolinggo.

Pukul 22.15 WIB, Asnawi, bersama dengan 3 warga Desa Selok Awar-Awar lainnya melihat 2 buah mobil yang ditumpangi oleh tim 12 dan Kepala Desa berangkat dari Balai Desa. Kedua mobil tersebut berjalan menuju ke utara, arah jalan keluar Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Saat itu, kaca mobil ditutup rapat, tetapi salah seorang warga (nama dirahasiakan) melihat bahwa mobil itu berisi tim 12 dan juga kepala desa. Asnawi bahkan mengatakan bahwa mobil yang digunakan adalah mobil milik perangkat Desa Selok Awar-Awar, dan kini telah disita oleh penyidik Polda Jatim. Menurut Asnawi, 1 mobil yang digunakan adalah mobil kepunyaan dari Didik (Pembantu Staff Desa Selok Awar-Awar), dan 1 mobil lainnya milik dari Eko (Kepala Urusan Pembangunan Desa Selok Awar-Awar).

Tim investigasi juga menemukan fakta lain di malam hari sebelum pembunuhan terjadi. Berdasarkan keterangan Abdul Hamid, warga Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, 25 September 2015, pukul 21.00 WIB, Ia bersama dengan Salim Kancil, Tosan, dan 7 orang lainnya sempat berkunjung ke rumah Kyai di Kecamatan Wotgalih, Kabupaten Lumajang. Menurut Hamid, kunjungannya tersebut dalam rangka meminta doa kepada Kyai, karena keesokan harinya mereka akan melakukan aksi demonstrasi ke Kepala Desa. Pada saat di jalan menuju Wotgalih, Abdul Hamid merasa rombongannya dikuntit oleh beberapa orang tidak dikenal. “Orang yang menguntit kami itu terus mampir ke rumah Kepala Desa Wotgalih,” ujar Hamid.

Kejanggalan lainnya juga ditemui Hamid sesampainya di rumah sang Kyai. Entah secara kebetulan atau tidak, rombongan Hamid ini juga berjumpa dengan seorang anggota Brimob di dalam rumah Kyai. Hamid tidak sempat berkenalan dengan anggota Brimob tersebut, ia hanya mengetahui bahwa anggota Brimob tersebut juga sedang berkunjung ke rumah Kyai untuk meminta doa dari si Kyai. Setelah bercerita panjang lebar mengenai rencana demonstrasi yang akan dilakukannya pada esok harinya, rombongan Hamid ini pun kembali ke desa mereka. Seorang anggota Brimob yang tidak dikenali tersebut juga ikut berpamitan, setelah sempat mendengarkan panjang-lebar mengenai rencana demonstrasi yang dilakukan oleh Hamid, Salim Kancil, Tosan, dan kawan-kawannya.

 

Pagi Hari; Titik Kumpul Para Pembunuh

Pukul 06.00 WIB, ketika para warga sedang sibuk mempersiapkan kebutuhan domestik dan berbelanja di pasar, tim 12 (pelaku pembunuhan) justru sibuk berkumpul dan mempersiapkan senjata yang akan dipergunakan untuk membunuh Salim Kancil dan Tosan. Saat itu, BI (seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya) berpapasan dengan Basri, salah seorang tersangka pembunuhan terhadap Salim Kancil dan Tosan. Menurut keterangannya, Basri menaiki sepeda motor sembari membawa cangkul, menuju ke arah utara (arah rumah Pak Desir), sedangkan ia sendiri saat itu sedang pulang ke rumahnya (arah selatan) setelah berbelanja di pasar. “Saya kira waktu itu mau ada kerja bakti membetulkan jalan raya, kok saya melihat Basri itu bawa cangkul ke arah utara,” ujar BI

Selain Basri, BI juga melihat Tejo, salah seorang tersangka pembunuhan lainnya, berkendara sepeda motor sembari membawa bambu berjalan ke arah rumah Desir. Cangkul dan bambu inilah yang kemudian digunakan sebagai alat untuk menganiaya Tosan dan Salim Kancil. Keterangan BI tersebut diperkuat juga oleh keterangan dari DL, salah seorang warga  yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Desir. Ia melihat sekitar 40 orang dengan menggunakan 20 sepeda motor berkumpul di rumah Desir. “Waktu itu saya kira mau ada acara desa mas, karena mereka bawa alat-alat kerja itu,” ujar DL. Alat-alat kerja yang dimaksudkan adalah cangkul, celurit, bambu, dan juga parang. Alat-alat ini memang telah dibawa oleh para pelaku pembunuhan sejak dari rumah mereka.

Bahkan di saat mereka berkumpul di rumah Desir, alat-alat tersebut telah dipersiapkan. DL juga menyaksikan pada pagi itu, Desir sempat berbicara kepada 40 orang, seperti memberikan arahan kepada mereka. Menurut DL, ke-40 orang tersebut berkumpul sekitar 10 menit, sebelum berangkat bersama-sama menuju ke arah rumah Tosan. Ia juga mengatakan bahwa tidak hanya dirinya yang menjadi saksi mata atas peristiwa tersebut, tetangga-tetangga Desir juga ikut melihat massa berkumpul di rumah Desir, pada pukul 06.00 WIB.

 

Skema 1: Membunuh Tosan

Pada 26 September 2015, Pukul 06.25 WIB, Imam menerima telepon dari Tosan melalui handphonenya. Tosan meminta Imam untuk datang ke rumahnya, karena ia berencana mengajak Imam untuk berangkat bersama-sama melakukan demonstrasi menolak tambang pasir ke Balai Desa. Pukul 06.30 WIB, Imam sampai di rumah Tosan. Ia berangkat dari rumahnya dengan berjalan kaki. Waktu itu, Tosan sedang memanasi mesin motornya di teras depan rumahnya. Imam sendiri sedang duduk-duduk di dalam ruang tamu rumah Tosan. Pukul 06.30 WIB, Tosan dan Imam membagikan selebaran yang berisi pernyataan kepala desa untuk menutup tambang pasir di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Imam dan Tosan membagikan selebaran itu kepada para pengendara yang melewati depan rumahnya. Menurut keterangan Imam, saat itu mereka baru berhasil membagikan 9 lembar selebaran kepada para pengendara.

Pukul 07.00 WIB, Parman, salah seorang anggota Tim 12 tiba-tiba berhenti di depan rumah Tosan, mematikan mesin sepeda motornya, memarkirnya, lalu kemudian berteriak membentak-bentak Tosan. Menurut Imam, Parman membentak tosan dengan kata-kata, “Kenapa kamu mau demo kepala desa! Kalau kamu mau demo kepala desa, lawan saya dulu,” ujar Imam menirukan ucapan dari Parman. Setelah sempat membentak Tosan, Parman kemudian kembali menaiki sepeda motornya dan pergi menuju ke arah utara (arah rumah Desir).

 

Gambar 1. Rumah Tosan. Di halaman depan rumah ini, Tosan Dianiaya oleh 40 orang pelaku pembunuhan.

 

Berselang 10 menit kemudian, sekitar pukul 06.30 WIB, Parman kembali dengan 40 orang lainnya. Mereka menghampiri rumah Tosan dengan mengendarai 20 sepeda motor. Menurut keterangan Imam, rombongan massa tersebut dipimpin oleh Ehsan, anak kandung Desir. Rombongan massa ini datang dari arah Utara rumah Tosan (dari rumah Pak Desir). Ehsan adalah orang pertama yang menghampiri Tosan di halaman depan rumah Tosan. Tanpa basa-basi, Ehsan langsung memukul Tosan dengan menggunakan tangan kosong. Melihat Ehsan memukul Tosan, Tinarlab dan Misto, tersangka lainnya, menyusul melancarkan pukulan ke Tosan. Desir pun ikut memukul Tosan dari belakang, dan Tomin beserta Buri langsung membacok kepala Tosan dengan menggunakan celurit. Menurut keterangan Imam, celurit yang digunakan Tomin berasal dari sepeda motor milik Tomin. “Tomin waktu itu ngambil celuritnya itu dari sepeda motornya,” terang Imam. Sedangkan Tejo, dan Ari, tersangka lainnya, memukul Tosan dengan menggunakan bambu sepanjang 1 meter. Bambu tersebut dibawa dengan menggunakan motornya.

 

Gambar 2. Jalan masuk tim eksekutor ke rumah Tosan (dari arah utara)

 

Imam juga sempat melihat Basri ikut memukul Tosan dengan menggunakan cangkul, dan Satrum, beserta Sukit membacok Tosan dengan menggunakan golok. Anehnya, di tengah pengeroyokan terhadap Tosan, Imam sempat melihat salah seorang anggota Babinsa berdiri di seberang jalan depan rumah Tosan. Anggota Babinsa tersebut juga diketahui berada di lapangan tempat Tosan dianiaya oleh massa. Melihat Tosan dikeroyok oleh 40 orang, Imam lari ke belakang rumah Tosan untuk meminta tolong kepada warga lainnya. Di belakang rumah, Imam sudah dihadang oleh 10 orang yang dipimpin oleh Buri. Ia pun lari bersembunyi ke rumah Rohim, di dekat lapangan belakang rumah Tosan. Sekitar pukul 07.30 WIB, dari rumah Rohim, Imam melihat Tosan lari tunggang-langgang dengan menggunakan sepeda onthel, dikejar oleh 40 orang yang menggunakan sepeda motor.

Di depan lapangan, sepeda Tosan ditabrak oleh Siyo yang menggunakan sepeda motor. Tosan pun terjatuh dari sepedanya. Setelah jatuh, Tosan sempat dipukuli lagi dengan menggunakan bambu dan kayu oleh massa. Imam juga sempat melihat tubuh Tosan dilindas sebanyak 4 kali dengan menggunakan motor oleh Ehsan dan Siyo. Melihat Tosan dilindas berkali-kali dengan menggunakan motor, Ridwan, salah seorang warga yang rumahnya dekat dengan tempat kejadian berusaha untuk mengusir massa. Menurut Ridwan, dengan komando dari Desir, massa akhirnya berjalan ke arah utara menuju rumah Salim Kancil. Polisi sendiri baru datang ke tempat kejadian (lapangan) pada pukul 07.45 WIB, setelah massa bergerak ke rumah Salim Kancil. Menurut keterangan Ridwan, terdapat 4 orang anggota Polsek Pasirian yang

datang ke lapangan pada pukul 07.45 WIB. Imam dan Ridwan pun ikut dibawa ke kantor Polsek Pasirian agar aman dari ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh tim 12.

 

Skema 2: Membunuh Salim Kancil

Setelah puas menganiaya Tosan di lapangan, 40 orang tim eksekutor yang diketuai oleh Desir bergerak ke rumah Salim Kancil. Jarak antara Lapangan dan Rumah Salim Kancil sekitar 4 km. Jika ditempuh dengan menggunakan sepeda motor, setidaknya memerlukan waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke rumah Salim Kancil. Pukul 07.30 WIB, di rumahnya, Salim Kancil bersama dengan Dio, anaknya yang berusia 12 tahun (kelas 5 SD), sedang mempersiapkan diri untuk berangkat menuju rumah Ichsan, untuk membahas rencana menolak tambang pasir besi di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Pukul 07.40 WIB, Salim Kancil berboncengan dengan Dio, berangkat dari rumahnya menuju rumah Ichsan dengan menggunakan sepeda motor. Setelah berjalan sekitar 50 meter dari rumahnya, Salim Kancil melihat rombongan tim 12 beserta 40 orang massa datang dari arah selatan. Ia pun memutar balik sepeda motornya kembali ke rumahnya. Sepeda motornya kemudian ia parkir di depan pintu rumah, dan Salim Kancil meminta Dio untuk lari ke belakang rumah. Kehadiran Salim Kancil di depan rumahnya disambut oleh cucunya yang masih berusia 5 tahun. Salim seketika menggendong cucunya tersebut, dan membawanya masuk ke dalam rumah.

 

Gambar 3. Jalan masuk pelaku pembunuhan Salim Kancil, disinilah Salim Kancil melihat massa datang dan kemudian ia memutar-balikkan sepeda motornya.

Setelah membalikkan badannya, Salim langsung dipukul oleh Ehsan, dan Desir dengan menggunakan tangan kosong. Badan Salim Kancil didekap oleh Tejo, dan kemudian tangannya diikat oleh Desir dengan menggunakan tali tambang yang masih baru. Seketika itu Salim dinaikkan ke sepeda motor oleh Desir, dan diapit oleh Basri. Oleh massa, ia dibawa ke Balai Desa. Dio yang berusaha mengejar, dilempari batu oleh salah satu pelaku yang tidak dikenali. “Waktu itu saya juga dibentak ‘jangan ikut-ikut kamu!”, ujar Dio menirukan ucapan dari salah seorang pelaku tersebut.

 

Gambar 4. Halaman Rumah Salim Kancil, Tempat Salim Kancil Dipukul dan Disekap, sebelum akhirnya dibawa ke Balai Desa.

 

Jarak antara rumah Salim Kancil dengan Balai Desa sekitar 2 km. Jika ditempuh dengan menggunakan sepeda motor, memakan waktu sekitar 5 menit perjalanan. Berdasarkan keterangan salah seorang Guru PAUD (nama dirahasiakan) yang pada saat itu sedang berada di Balai Desa, Salim Kancil dipukuli berkali-kali dengan menggunakan bambu, dan kayu. Salim Kancil juga dicelurit berkali-kali, dan dibacok dengan menggunakan golok. Tim eksekutor juga sempat merebahkan tubuh Salim Kancil, lalu menggorok lehernya dengan menggunakan gergaji kayu. Tidak juga berhasil dibunuh, salah seorang pelaku menyetrum tubuh Salim Kancil dengan menggunakan kabel listrik yang disambungkan ke sakelar listrik yang ada di Balai Desa. Menurutnya, massa yang mengeroyok Salim Kancil berjumlah 30-40 orang, ia tidak dapat mengenalinya satu per satu karena situasinya pada saat itu sangat ricuh. Ia sendiri lari dan mengevakuasi murid PAUD nya keluar dari Balai Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang.

 


 

Gambar 5. Balai Desa Tempat Salim Kancil Dipukuli, Dibacok, Digergaji, dan Disetrum oleh 40 orang pelaku pembunuhan berencana.

 

Gambar 6. PAUD tempat saksi mata menyaksikan pelaku pembunuhan berencana berusaha menghabisi Salim Kancil di Balai Desa. Lokasinya tepat di sebelah kanan pendopo Balai Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang.

 

Pukul 08.30 WIB, dari Balai Desa Selok Awar-Awar, massa membawa Salim Kancil ke tempat pemakaman di dekat lapangan Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Di tempat pemakaman tersebut, Salim kembali dipukuli dengan menggunakan bambu dan kayu oleh Tejo, kepalanya sempat dipukul dengan menggunakan cangkul, dan dicelurit oleh Basri. Salim Kancil roboh, dan tidak sadarkan diri. Mengira Salim Kancil telah mati, massa kemudian meninggalkan Salim Kancil yang terbaring di depan halaman makam desa tersebut. Saat para pelaku sudah berjarak sekitar 50 meter, Salim Kancil bangun sadarkan diri. Ia berdiri dan berusaha untuk lari. Salah seorang pelaku melihat Salim Kancil yang ternyata belum mati itu pun berteriak kepada anggota massa untuk kembali mengeroyok Salim Kancil. 40 orang itu pun kembali menghajar Salim Kancil. Saat itu, Desir masuk ke tempat pemakaman, mengambil batu nisan yang ada di makam tersebut, dan memukulkannya ke kepala Salim Kancil. Melihat bahwa Salim Kancil ternyata bisa berdarah ketika dipukul dengan batu nisan, Desir pun menghajar kepala Salim Kancil berkali-kali dengan menggunakan batu nisan tersebut, hingga akhirnya Salim Kancil tewas di tempat kejadian pada pukul 08.40 WIB.


 

Pelajaran dari tragedi pasir Lumajang

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/521701/pelajaran-dari-tragedi-pasir-lumajang, Senin, 5 Oktober 2015 12:21 WIB | Oleh Zumrotun Solichah

“Kasus tersebut menggambarkan konflik sumber daya antara Salim cs dengan akses sosial ekonomi politik terbatas melawan kades cs yang memiliki akses dan otoritas yang kuat di desa setempat."

Aksi solidaritas terhadap pembunuhan Salim Kancil di depan Balaikota Malang, Jawa Timur, Senin (28/9). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Lumajang (ANTARA News) - Almarhum Salim alias Kancil (52) mungkin tidak pernah berharap namanya dikenal oleh masyarakat karena menolak tambang pasir di pesisir selatan kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

"Pak Salim Kancil itu berjuang dengan ikhlas bersama warga karena tidak ingin penambangan pasir liar itu merusak lahan pertanian yang sudah digarap warga," kata Hamid, teman Salim Kancil.

Keinginan Salim bersama warga Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, sebenarnya sederhana yakni ingin menggarap lahan pertanian untuk kelangsungan hidup.

"Pak Salim yang tidak pernah duduk di bangku sekolah pun tahu kalau penambangan pasir itu dapat merusak lingkungan dan rawan bencana, sehingga kami sebanyak 12 orang membentuk Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-Awar dan saya sebagai koordinatornya," tuturnya.

Melihat dampak yang cukup serius akibat penambangan pasir di Desa Selok Awar-Awar itu, beberapa warga tergerak membentuk forum sebagai kekuatan melawan penambangan yang dikelola oleh kepala desa setempat.

"Kawasan pesisir selatan seharusnya tidak dieksploitasi karena ancaman tsunami bisa datang kapan saja, sehingga tidak boleh ada penambangan," ujarnya.

Dampak kerusakan lingkungan akibat penambangan pasir di Desa Selok Awar-Awar selama dua tahun itu sudah dirasakan oleh warga sekitar yang bermata pencarian sebagai petani dan nelayan.

"Irigasi pertanian menjadi rusak dan warga tidak bisa menanam padi karena air laut yang menggenangi areal persawahan," ucap Hamid.

Almarhum Salim Kancil dan warga sekitar yang sehari-hari bekerja di sawah tidak bisa memanen hasil padinya karena penambangan yang semakin merusak lingkungan dan irigasi pertanian.  Awalnya kepala desa meminta persetujuan masyarakat setempat untuk membangun kawasan objek wisata di sekitar Pantai Watu Pecak, namun lama-kelamaan bukan wisata yang digarap, malah penambangan pasir. Warga kemudian melakukan gerakan advokasi protes tentang penambangan pasir yang mengakibatkan rusaknya lingkungan dengan cara bersurat kepada pemerintahan desa, Pemerintahan Kecamatan Pasirian, dan Pemerintahan Kabupaten Lumajang.

"Pada Juni 2015, forum menyurati Bupati Lumajang untuk meminta audiensi tentang penolakan tambang pasir, tetapi tidak direspons dengan baik oleh Bupati yang diwakili oleh Camat Pasirian," paparnya.

Perjuangan Forum Komunikasi terus dilakukan hingga 9 September 2015 dengan melakukan aksi damai penghentian aktivitas penambangan Pasir dan penghentian truk bermuatan pasir di Balai Desa Selok Awar-Awar.  Kemudian pada 10 September 2015, adanya ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh preman bayaran yang diduga dari kepala desa setempat kepada Tosan dan beberapa anggota forum komunikasi lainya yang lantang menyuarakan penolakan tambang pasir yang diduga mengandung biji besi itu.

"Kami kemudian melaporkan kejadian tindak pidana pengancaman kepada Polres Lumajang. Saat itu Kasat Reskrim Polres Lumajang menjamin dan merespons pengaduan forum yang telah dikoordinasikan dengan pimpinan Polsek Pasirian," tuturnya.

Ancaman tersebut ternyata tidak hanya isapan jempol, karena preman bayaran itu benar-benar menindaklanjuti dengan melakukan penganiayaan terhadap dua aktivis antitambang tersebut pada 26 September 2015.  Salim Kancil meninggal dunia setelah dianiaya oleh preman bayaran di Balai Desa Selok Awar-Awar, sedangkan Tosan mengalami luka parah hingga dilarikan ke rumah sakit.

"Setelah meninggalnya Salim Kancil, warga sudah bertekad bulat untuk melanjutkan perjuangannya menolak tambang di Desa Selok Awar-Awar karena jalan itu yang akan membuka pada kesejahteraan warga setempat," kata Hamid.

Penutupan Tambang
Setelah terbunuhnya Salim Kancil, Bupati Lumajang Asat Malik menginstruksikan penutupan tambang pasir di tujuh kecamatan di pesisir selatan, yakni Yosowilangun, Kunir, Tempeh, Pasirian, Candipuro, Pronojiwo dan Tempursari.

"Keputusan penutupan tambang pasir tidak berlaku di keseluruhan wilayah pertambangan karena yang ditutup adalah penambangan pasir di wilayah pesisir selatan Lumajang," kata Asat.

"Soal penambangan pasir yang berada di daerah aliran sungai (DAS) Semeru masih diizinkan dan akan terus ditata karena pasir galian C di DAS Semeru harus terus dikeruk agar tidak terjadi pendangkalan," tuturnya.

Pengamat lingkungan dari Universitas Jember Dr Abdul Qodim Manembojo mengatakan kasus pembunuhan Salim Kancil bermula dari konflik sumber daya alam (lahan pertanian) yang berhadapan dengan Kepala Desa Selok Awar-Awar cs yang ingin menguasai bisnis pasir.

"Salim tidak sendirian dalam konflik itu karena sekitar lima warga lainnya juga memiliki lahan yang luasnya sekitar 1 hektare, sehingga enam orang yang bersuara lantang menolak tambang dan menjadi target operasi dari kelompok penambang pasir yang dikendalikan kades setempat," tuturnya.

Kades menghendaki agar lahan Salim dan warga lainnya dijual atau diserahkan untuk ditambang dengan alat berat, namun bagi aktivis antitambang itu, menyerahkan lahan kepada kades sama saja merusak lahan bertani mereka yang berada di bibir Pantai Watu Pecak karena terjadi abrasi.

"Kasus tersebut menggambarkan konflik sumber daya antara Salim cs dengan akses sosial ekonomi politik terbatas melawan kades cs yang memiliki akses dan otoritas yang kuat di desa setempat. Konflik itu juga bersumber dari kelangkaan sumber daya karena kades merasa lahan yang mereka kuasai sudah sangat terbatas dan tidak mampu lagi memenuhi permintaan pasir Lumajang yang berkualitas selama lima tahun terakhir," paparnya.

Salim cs bertahan dengan cara hidup agraris karena tidak mau melepas lahan pertanian sebagai basis hidup mereka, sedangkan kades cs menganggap lahan Salim lebih menguntungkan dengan cara ditambang daripada dikelola sebagai lahan pertanian.

"Menurut saya konflik pasir berdarah di Lumajang itu merupakan konflik sumber daya lahan pertanian antarelit lokal desa yang telah mengalami proses ramifikasi dengan menyentuh isu lingkungan, sehingga menimbulkan ledakan kades cs sebagai perusak lingkungan vs Salim cs sebagai pejuang lingkungan," paparnya.

Abdul menegaskan masyarakat pesisir lebih paham tentang bagaimana menjaga lingkungan karena mereka bertahan hidup dengan bergantung pada sumber daya alam setempat. Terbunuhnya pejuang antitambang itu juga membuka lebar kepada publik, bahwa penambangan liar tanpa izin yang dikelola oleh pihak-pihak tertentu masih marak di pesisir pantai selatan Lumajang dan tidak ada tindakan tegas dari pemerintah setempat untuk menertibkan hal itu.

"Kasus Salim Kancil menjadi momentum introspeksi semua pihak untuk lebih peka terhadap masalah lingkungan dan tidak mengabaikan kaum minoritas yang berjuang hanya untuk mempertahankan hidup mereka," ucap dosen FKIP Universitas Jember itu.

Ia berharap kasus Salim Kancil dan Tosan menjadi pelajaran penting dan terakhir bagi semua pihak, tentang perlunya perlindungan terhadap para aktivis kemanusiaan dan manajemen pengelolaan tambang yang lebih baik ke depan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2015

REFLEKSI

Dari Tragedi Selok Awar-awar, ada beberapa hal yang bisa kita baca dan kita sarikan menjadi permasalahan yang menjadi akar masalah, seperti berikut ini.

1.      Penguasaan sumberdaya alam secara sepihak untuk mengeruk keuntungan sebesar-besanya tanpa mengindahkan kepentingan orang lain dan masyarakat secara luas.

2.      Penguasa local yang menyalahgunakan kekuasaannya sebagai alat untuk menimbun kekayaan tanpa mempedulikan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya.

3.      Otoritarianisma dalam bentuk premanisnma masih gaya kepemimpinan yang dipuja untuk diterapkan oleh penguasa (local).

4.      Pembiaran terhadap aktivitas penambangan dan aktivitas usaha yang merusak lingkungan dan alam oleh Aparat Negara dan Aparat Keamanan di berbagai tempat.

5.      Keterlibatan Birokrat yang lebih tinggi dan Aparat Keamanan sebagai “pelindung” aktivitas pertambangan liar untuk memperoleh pendapatan lebih yang bersifat koruptif.

6.      Penegakkan hokum yang lemah bahkan cenderung melindungi pelaku perusak lingkungan alam dan hokum dan malah mengkriminalisasi aktivis-aktivis pembela lingkungan dan alam.

7.      Negara dan Korporasi masih menjadikan eksploitasi alam (tambang, perkebunan sawit, alih fungsi lahan pertanian, dan lain sebagainya) sebagai cara cepat untuk mendapatkan Pendapatan Asli Daerah dan bahkan Devisa Negara dengan cepat tanpa berhitung untuk jangka panjang. 

Tragedi Selok Awar-awar hanya satu dari berbagai permasalahan konflik perebutan sumberdaya yang terjadi di Indonesia.  Bukan hanya konflik antara rakyat dengan penguasa local saja, tetapi ada berbagai kasus yang melibatkan rakyat dan korporasi, bahkan di beberapa kasus malah rakyat harus berhadapan dengan Negara yang seharusnya melindungi rakyatnya.

Terbunuhnya Salim Kancil hanya salah satu korban yang tampak dan terkespos oleh media, bagaimana dengan berbagai kasus akibat pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan di pedalaman Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan berbagai tempat lainnya yang jauh dari mata media.

Sebagai catatan akhir, apa yang bisa kita lakukan? Bagaimana kita melakukannya? Untuk bukan sekedar bersimpati dan berempati semata tetapi berbuat nyata untuk mengurangi permasalahan konflik sumberdaya alam dan perusakan lingkungan di berbagai tempat di seantero Nusantara ini.

 

Malang, 19 Oktober 2015

Daniel S. Stephanus

 

Rabu, 18 Maret 2020

Temu Jaringan EJEF (TJE) 2020


Temu Jaringan EJEF (TJE) 2020
Hari 1, 17 Januari 2020
Pembukaan
1.       Tari Selamat Datang: Budaya Bambu Sumber Mujur.
2.       Indonesia Rata.
3.       Doa Pembukaan.
4.       Laporan Ketua Panitia (Aan Malang Travelista).
5.       Sambutan Kepala Desa Sumber Mujur (Bp. Syafi’i)
6.       Sambutan Bupati Lumajang (Cak Thoriq)
7.       Pemukulan Kentongan
Laporan Ketua Panitia:
Pertemuan Jaringan ketiga sekaligus merayakan Ulang Tahun EJEF yang ke 10.  Bukan hanya sekadar bertemu tetapi saling belajat antar pelaku ekowisata.  Juga ada pembelajaran dari beberapa pemateri yang berasal dari berbagai latar belakang:  (1) Prof. Dr. Lukman (Guu Besar Universitas Brawijaya dan Pembina EJEF), (2) Trisno (Pembina EJEF), (3) Ary S. S. (Ketua Indecon), (4) Pietra Widiadi (DIAL Fondation), (5) Julianti Siregar (KSDAE – KLHK), dan Thoriq (Bupati Lumajang).  Kerjasama dan kerjabersama multi pihak dengan prinsip pentahelix (A: Akademisi – B: Birokrasi – C: Komunitas – D: Lembaga Non Pemerintah – E: Pengusaha) dan berkelanjutan (sustainable).
Berjalan dengan baik berkat dukungan Pemerintah Desa Sumber Mujur dan Pemerintah Kabupaten Lumajang.  Peserta terdiri dari 122 orang dari berbagai komunitas baik pengelolah destinasi, pemandu pariwisata, pemerintah, pengamat, akademisi, lembaga non pemerintah, dan berbagai komunitas lain.  Peserta Temu Jaringan bukan hanya datang dari Jawa Timur saja tetapi juga ada peserta dari Bangka Belitung, Banten, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, dan DKI Jakarta.
Kegiatan dalam pertemuan ini:
1.       Hari pertama: Diskusi Panel dengan tema arah pengembangan pariwisata, tata kelola, dan berbagai isu terkini lainnya yang akan disampaikan oleh para Pemateri atau Narasumber.  Dilanjutakan dengan perkenalan antar komunitas sebagai bagian dari jaringan EJEF.  Disertai dengan penyerahan Penghargaan untuk mengenang salah satu tokoh ekowisata di Jawa Timur sekaligus Penggagas Wisata Alam Hutan Bambu Sumber Mujur, Bapak Heri Gunawan.
2.       Hari kedua: berbagi pengalaman dan kisah sukses (best practices) dari beberapa pelaku ekowisata dan informasi tentang peluang baru dalam pengelolaan kawasan dari berbagai organisasi dan asosiasi pengelolah minat khusus.
3.       Hari ketiga: menikmati keindahan matahari terbit dari Gunung Sawur, belajar tentang informasi erupsi gunung, menikmati desa, dan makan pagi di Bengkel Bambu dan bedeng pembibitan milik Pokdarwis Sabuk Semeru.


Sambutan Kepala Desa Sumber Mujur
Telah menjadi Kepada Desa selama 21 tahun, sejak tahun 1998.  Menjadikan Hutan Bambu sebagai ikon pariwisata.  Dilakukan dengan membentuk Pokdadwis Sabuj Semeru sejak 2,5 tahun yang lalu.  Langkah awal dilakukan dengan melakukan pembenahan fasilitas.  Selanjutnya, banyak mendapat masukan dari Pak Tris selaku Pembina EJEF.  Produk yang dihasilkan bukan hanya kerindangan hutan bambu tetapi juga mata air dengan debit 800 m3/detik serta produk kerajinan dari bambu seperti gelas dan mangkok dari bambu serta beras organik dengan merek Lereng Semeru.  Prestasi yang telah didapatkan adalah Kalpataru atas nama Almarhum Pak Heri Gunawan.  Piagam Penghargaan dari Bupati Lumajang untuk Pak Heri Gunawan dan Pak Bagong sebagai Perintis Hutan Bambu.  Serta kesempatan untuk studi banding ke China pada 27 Januari 2020 nanti dari Bupati Lumajang.    
Sambutan Bupati Lumajang
Ada souvenir berupa kaos bertuliskan “Lumajang Eksotik” sebagai wujud kerja sama dengan Bank Jatim.  Kabupaten Lumajang akan terus membangun potensi daerahnya, khususnya pariwisata dan pertanian.  Lumajang tidak memiliki potensi industri dan perdagangan tetapi Lumajang sangat besar potensi pertanian dan paririsatanya.  
Tumpak Sewu yang disebut juga sebagai Niagara di Indonesia.  Memiliki pemandangan air terjun yang sangat cantik, walau secara kewilayan air terjunnya berada di Kabupaten Malang (Coban Sewu).  Tiap akhir pekan dikungjungi 1.100—1.200 wisatawan.
Gunung Semeru dengan Desa Ranu Pani (2.700 mdpl) yang dijuliki sebagai desa tertinggi di Indonesia.  Keseharian hidup dengan Budaya Tengger yang masih terjaga keasliannya sampai hari ini.  Memiliki potensi alam Ranu Pani dan Ranu Regulo, akan di benahi dan ditambahi dengan camping ground yang diperuntukkan bagi wisatawan minat khusus.  Sedangkan untuk seluruh TNBTS, Kabupaten Lumajang mendapatkan 17 titik Zona Pemanfaatan.
Hutan Bambu Desa Sumber Mujur akan terus dikembangkan sehingga menjadi destinasi unggulan.  Demikian pula dengan Kebun Teh Kertowono.  Nantinya, satu destinasi dengan destinasi lain dihubungkan sehingga terjadi interkoneksi antar destinasi wisata dan antar wilayah di Kabupaten Lumajang.
Akan dilakukan pemetaan kawasan seputar Semeru secara komprehensif sehingga dapat diketahui potensi alam dan sosial di Kabupaten Lumajang.  Saat ini telah diperintahkan kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan penghutanan kembali .  Telah dipersiapkan 9.000 bibit Cemara Gunung untuk menghutankan kembali Jalur Semeru melalui Lumajang.
Telah pula mendapat persetujuan dari Presiden melalui Perpres 80/2-18 berupa Jalan Tol Probolinggo – Lumajang untuk mempermudah akses ekonomi, juga wisatawan.  Telah pula akan ada pembangunan Hotel Bintang 3+.
Priotitas pembangunan ekonomi selain sektor pertanian juga menyasar sektor UMKM.  Pertanian organik di Kecamatan Jatiroto telah mencapi luasan kurang lebih 50 hektar dan akan dikembangkan untuk mencapai 100 hektar.  Selain itu, pengembangan produk-produk olahan hasil pertanian akan dibantu oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang.  Saat ini, petani dan produsen produk olahan hasil pertanian diminta berfokus pada produksi saja, sedangkan pengemasan dan pemasaran akan ditangani oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Perdagangan.
Produk Beras Organik dari Desa Sumber Mujur masih dijual terlalu murah, karena masalah pengemasan dan pemasaran yang belum bagus.  Oleh Pemerintah Daearh akan diintervensi untuk pengemasan dan pemasaran.  Sehingga, petani hanya perlu berfokus pada sisi produksi saja, sedangkan pasca panen baik mulai dari pengemasan sampai pemasaran akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang.  Sehingga, diharapkan terjadi sinergitas yang akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pembukaan: Pemukulan Kentongan oleh Bupati Lumajang

Diskusi Panel  
Moderator: Agus Wiyono (Koordinator EJEF)
Pemateri/Narasumber:
1.       Cak Thoriq (Bupati Lumajang)
2.       Ary S. Suhandi (Koordinator INDECON)
3.       Pietra Widiadi (DIAL Foundation)
4.       Trisno (Pembina EJEF)
5.       Julianty Siregar (KSDAE – KLHK)
6.       Prof. Dr. Lukman (Pembina EJEF)
Potensi Pariwisata di Lumajang (Cak Thoriq)
Moderator: Lumajang Eksotik merupakan branding baru. Fokus pengembangan Lumakang adalah destinasi wisata dan pertanian, bukan industri dan perdagangan.  Bagaimana mengembangkan pertanian dan pariwisata?
Potensi pariwisata dan pertanian besar di Kabupaten Lumajang.  Contoh: Air Terjun Tumpak Sewu.  Setelah menikmati pemandangan di Tumpak Sewu apa yang akan dilakukan wisatwan?  Salah satu yang bisa ditawarkan adalah aktivitas keseharian seperti tandur pari.  Budaya kehidupan keseharian petani bisa dijadikan atraksi pariwisata.
Telah disiapkan anggran untuk pengembangan pariwisata sebesar 100 milyar rupiah.  Salah satunya adalah pendanaan untuk revitalisasi Ranu Pani.
Pengembangan kawasan Ranu Pani dikerjasamakan dengan Kementerian Desa  untuk pembangunan infra struktur.  Sedangkan penggerukan Ranu Pani dikerjasamakan dengan Kementerian BUMN.  Penggerukan Ranu Pani harus dilakukan untuk mengembalikan Ranu Pani menjadi 8 hektar dan kedalaman 25 meter.  Saat ini luas Ranu Pani menyusut hanya menyisakan 4 hektar saja.  Dibantu oleh Bank BRI yang akan menyediakan dana sebersar 7,5 milyar rupiah.  Juga dilakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Masalah kemacetan di Kecamatan Klakah dan Ranuyoso hanya bisa diatasi dengan pelebaran jalan.  Tetapi, pada Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrengbang) Provinsi  diajukan pembangunan Jalan Tol.  Ternyata disetujui oleh Presiden dan sudah dikeluarkan Perpres untuk pembangunan Jalan Tol Probolinggo – Lumajang dengan anggran sebesar 4,7 trilyun.  Salah satu masalah, yaitu konektivitas dapat segera diatasi.
Isu Strategis: Kesiapan Pemerintah Daerah dan Sumber Daya Manusia untuk  Pariwisata Berjelanjutan (Sustainable Tourism) (Ary S. Suhandi – INDECON dan Wakil Ketua ASEAN Ecotourism Forum)
Moderator: Apa yang dimaksud dengan pariwisata berkelanlutan? Bagaimana kesiapan SDM untuk menanggapi isu pariwisata berkelanjutan?
INDECON berdiri sejak tahun 1995 (saat ini berumur 25 tahun).  Hasil dengan pendapat dengan Bupati Lumajang menghasilkan kesepakatan bahwa Temu Jaringan Indecon (TJI) 2020 yang akan diselenggarakan pada Bulan September 2020 akan diselenggarakan di Kabupaten Lumajang, tepatnya di Kawasan TNBTS.
Saat ini, kunjugan wisatawan terbanyak ke Indonesa adalah dari China.  Dengan destinasi favorit adalah Bali dan Manado.  Sehingga, kesiapan pemandu bekemampuan Bahasa Tionghoa menjadi keharusan.
Ekowisata bukan hanya berorientasi pada uang dan jumlah kunjungan saja.  Tetapi juga harus memperhitungkan mengenai daya dukung lingkungan dan dampak dari aktivitas pariwisata.
Aktivitas pariwisata di Gunung Bromo (TNBTS) sudah terlalu padat, sehingga pengembangan pariwisata di Kabupaten Lumajang perlu memikirkan alternatif lain.  Tetapi, hasil pemikiran dari Pemerintah Kabupaten Lumajang cukup cerdas karena akan mengembangkan pariwisata berbasis alam dan pertanian.
Ekowisata harus menerapkan prinsip keseimbangan atara ekonomi dan ekologi.  Sehingga, bukan saha pembangunan ekonomi tetapi juga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.  Ekowisata harus bisa memberikan nilai tambah pada masyarakat dan alam.  Sudah direncanakan dan dikerjakan oleh Pemerintah Kabupaten Lumajang.  Pengembangan nilai tambah produk pariwisata melalui home stay, kuliner, dan sinergitas dengan indutri pariwisata (transportasi, jasam dan lain-lain) harus semakin ditingkatkan.
Hutan Bambu Sumber Mujur bisa naik kelas dan menjadi destinasi senilai USD 5.000 atau sekitar 75 juta rupiah.  Caranya dengan dilakukan zonasi dan pengayaan aktivitas lain seperti galeri lukis dan fotografi.
Isu strategis yang harus diperhatikan adalah sistem tata kelola.  Harus melakukan perubahan paradigma (midset) dari para pelaku dan pemangku kepentingan pariwisata: 
1)      Pariwisata harus berbasis komunitas (community based tourism).
2)      Pariwisata berbasis konservasi alam.
3)      Peningkatan kapasitas interpertasi. 
Kemampuan untuk berkata cukup dan memberikan kembali ke alam dan mengelolanya secara bijak adalah kunci dari pariwisata berkelanjutan.  Pariwisata berkelanjutan merupakan sinergi antara ekowisata + wisata alam + berbasis masyarakat.
Mengelolah Wisata Desa yang Ideal (Pietra Widiadi – DIAL Foundation)
Moderator: Prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan adalah: (1) segementasi calon wisatawan; (2) peningkatan kualias layanan; (3) keseimbangan antara ekonomi dan ekologi; 4) tripple bottom line (people and planet before profit) + manajemen.  Bagaimana menghadapi latah wisata? Karena desa dipaksa untuk memiliki destinasi wisata. Bagaimana membangun wisata desa yang ideal?
Tahun 2000, Hutan Bambu Desa Sumber Mujur berhasil mendapatkan Kalpataru.  Aktivitas konservasi pastinya telah dilakukan 10 atau bahkan 20 tahun sebelumnya.  Sehingga, Desa Sumber Mujur pada saat ini bisa dikatakan sebagai Desa Lestari.  Bagaimana bila tereksplotasi?  Pasti biaya rehabilitasinya akan lebih besar ketimbang biaya akibat kerusakannya.  Sehingga, untuk menjaga kelestatiannya harus ada alokasi biaya perawatan atau biaya konservasi.
Dengan menggunakan pendekatan Pendekatan Penghidupan Lestari (PPL) atau Sustainable Livelihood Approach (SLA) dapat dilakukan perencanaan untuk menjaga desa tetap lestari.  Sebagai contoh: Desa Uluwatu dalam setahun memperoleh Pendapatan Asli Desa (PAD) sebesar 34 milyar rupiah.  Bagaimana mereka menjaga kelestarian penghidupannya?  Dengan menerapkan batasan atau berkata cukup untuk melakukan rehabilitasi.
PPL atau SLA merupakan pendekatan untuk merubah potensi menjadi aset melalui penyusunan rencana strategis, untuk desa menggunakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa) sebagai alat perencanaan.  Dengan menggunakan pendekaan analisis 5 modal/aset (analisis pengagonal) sebagai dasar penyusunan perencanaan.  Potensi adalah segala sesuatu yang ada di depan mata, belum kita miliki dan belum bisa kita kelola tetapi berpotensi atau kemungkinan bisa kita miliki dan kelola.  Sedangkan Aset adalah segala sesuau yang sudah kita miliki dan bisa kita kelola untuk memberikan nilai manfaat.
5 aset/modal à  standar praktik à ekonomi hijau & biru à sejahtera
Aktor atau pemangku kepentingan dalam PPL terdiri dari Pemerintah (Sektor Publik) + Masyarakat Sipil yang Terogranisir + Pelaku Usaha (Sektor Usaha).  Sedangkan prinsip yang dianut adalah 1) Partisipatif atau Berperan Akfit; 2) Tata Kelola yang Baik (good governance) yang terdiri dari: (1) keterbukaan (transparansi), (2) bertanggung jawab (responsibilias), (3) bertanggung gugat (akuntabilistas), dan lain-lainnya.
Desa bersifat otonomi, berhak untuk mengatur dan mengelola dirinya sendiri.  Hak otonomi desa dijamin oleh Undang-Undang Nomor 6/2014 tentang Undang-Undang Desa serta Pemendagri 114/2014 yang telah diganti dengan Permendagri  20/2018 tentang Pedoman Pembangunan Desa.  Aset Desa dipergunakan untuk menyusun profil desa dan perencanaan pembangunan di desa.


Pembelajaran Baik dari Wisata Desa: Tata Kelola (Good Governance) Destinasi Wisata Desa yang Baik (Trisno – Penasehat EJEF)
Moderator: Ada banyak desa yang berhasil membangun dengan pariwisata.  Walau banyak pula yang gagal dalam membangun desa melalui pariwisata.  Kunci keberhasilannya adalah tata keloa (good governance).  Apa itu tata kelola? Bagaimana menerapkannya supaya berhasil?
TNBTS merupakan deliniasi dari 10 Destinasi Prioritas Nasional sebagai Bali Baru.  Besaran anggaran pariwisata naik 6 kali lipat dengan target kunjungan wisatawan manca negara sebanyak 20 juta orang.  Di Indonesia, kawasan atau destinasi dikelompokkan menjadi 50 Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) yang terbagi menjadi 88 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan terbagi lagi menjadi 222 Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN).
Strategi Pengembangan Destinasi Wisata:
Perwilayahan
Atraksi Wisata
Aksestabilitas
Amenitas
Masyarakat
Investasi







Portofolio produk pariwisata







Alam
Budaya
Buatan






Outcome & Impact (Hasil & Dampak)
1.       Jumlah Wisatawan
2.       Jumlah Devisa
3.       Jumlah Pengeluaran
4.       Pendapatan Domestik Bruto

Kebijakan dan Masyarakat:
Prinsip tata kelola: Satu destinasi sattu manajemen (one destination one management).
Pemangku kepentinga: Pendekatan 5 pemangku (pentahelix approah).
Invetasi:
1)      Mampu menggerakkan potensi ekonomi masyarakat, khususnya sektor UMKM.
2)      Singergitas antar pemangku kepentingan.
3)      Tata kelola kelembangaan yang baik.
Tata Kelola: Komunikasi dan Kerjasama Multipihak (Julianti Siregar – PSDAE KLHK)
Moderator: Tata kelola yang baik harus berdasar komunikasi dan kerjasama multipihak.  Apa yang harus dikerjakan bagi pelaku ekowisata di dalam kawasan konersvasi?
Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism - CBT) di zona pemanfaatan wajib mendukung dan terlibat aktif dalam aktivitas konservasi.  Aktivitas Konservasi: perlindungan + pengawetan + pemanfaatan.  Harus memberi manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar, khususnya komunitas yang tinggal di dalam Taman Nasional.  Baik Desa Penyanggah maupun Desa Enclave.
Apalagi Ekowisata Berbasis Masyarakat (Community Based Ecotourism - CBET) termasuk wisaata minat khusus.  Harus lebih memperhatikan pelayanan dan edukasi yang bisa diberikan oleh masyarakat desa sendiri.  Sehingga, pemberdayaan masyarakat berdasar potensi desa setempat wajib dilakukan.  Seain itu, CBET harus menjamin kelestarian alam sehingga memberi dampak pada perlindungan dan pengawetan keanekaragaman hayati.
Konsep dan Prinsip CBT dan CBET (Prof. Dr. Lukman – Pembina EJEF)
Moderator: CBT dan CBET harus berpegang pada nilai dan konsep “manusia dan alam sebelum keuntungan”, berarti pemberdayaan pada masyarakat adalah salah satu kuncinya.  Bagaimana pemberdayaan dilakukan? Bagaimana proses pendampingan dikerjakan?
Ekologi dan pariwisata sebagai aktivitas ekonomi dapat dilakukan sejalan dan seiring.  Pinsip-prinsip dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals SDGs) yang menjadi pegangan pelaksanaan pembangunan seluruh dunia untuk tahun 2015—2050 menjadi rerangka dasar.  Prinsip Pembangunan yang mengedepankan (1) pemberdayaan masyarakat, (2) kelestarian alam, dan (3) kesejahteraan ekonomi (triple bottom line) menjadi dasar utama. Tujuan akhir yang ingin didapat adalah melakukan pemberdayaan masyarakat dan mencegah kerusakan alam sebagai sumber peghidupan.
Peran akademisi adalah melakukan edukasi mengenai pemahaman yang benar tentang ekologi dan ekosistem.  Karena ketidak seimbangan ekosistem akan berakibat pada terancamnya kelestarian alam dan keberlanjutan penghidupan.
Sebagai contoh: Hutan Bambu Sumber Mujur.  Mengapa tidak diperkaya keaneka ragaman jenisnya? Padahal di Indonesia ada 158 jenis, khusus di Jawa ada kurang lebih 50 jenis, sedangkan di Hutan Bambu Sumber Mujur hanya ada 18 jenis bambu saja.  Kawasan rehabilitasi sebaiknya dilakukan pengayaan jenis tanaman.  Khusus untuk kawasan konservasi sebaiknya tidak dilakukan intoduksi.
Harus juga dikehui siklus hidup keaneka ragaman hayatu setempat untuk menjaga keberlanjutan dan kelestariannya.  Khusus untuk bambu ada masa berbunga dengan siklus 20—50 tahun sekali yang berakibat pada kematian serentak bambu dalam satu rimbunan.  Dikenal dengan istilah blosoom.  Sebagai langkah pencegahan harus dilakukan peremajaan dan pengayaan.  Belajar untuk menjaga kelestarian ekosistem bisa dilakukan dengan pada akademisi sebagai sumber referensi.
Simpulan Moderator
Interpertasi adalah kunci untuk melakukan edukasi pada wisatawan dan memberi nilai tambah pada atraksi pariwisata.  Ekowisata adalah bisnis, sehingga harus ada pertimbangan ekonomi.  Tetapi, ekonomi bukan tujuan awal.  Karena tujuan awalnya adalah melestarikan alam dan permberdayaan masyarakat yang terpenting.  Manfaat ekonomi adalah bonus.



Sesi Berbagi Antar Komunitas dan Jaringan EJEF
Ice Breaking: Duduk senang, berjalan senang. Mencari teman baru.
Moderator: Suparno
1.       Kampung Blekok – Situbondo (Pak Kholid)
Potensi wisata: Burung Blekok, Mangrive, dan Produksi Souvenir untuk Bali, Blitar, dan lain-lainnya.
2.       Bojonegoro (Bu .....)
1)      BUMDes Jambu Kristal
2)      Kampung Bengawan Pokdarwis Desa Padang.  Ingin belajar untuk menjadi Desa Wisata.
3.       Ngadas (Pak Timbul)
Desa Adat Ngadas (Dei Adas).  Desa Tengger di Kabupaten Malang.
Potensi wisata: Adat Pertanian di ketinggian lereng gunung,  Budaya cara berpakaian seperti udheng, toleransi tinggi.  Kunjungan mencapai 270 group (minimal 10 orang) wisatawan manca negara pertahun.  Ada kontrak kerja dengan Adventure Tour dari Kanada.
4.       Pantai Serang – Blitar (Mas Dwi Handoko)
Kurang lebih 40 km ke arah selatan dari Kota Blitar.  Kawasan Wisata dikelola oleh Pokdarwis Wisata Pantai. Prodik Wisata: Wisata alam yang terdiri dari Wisata Pantai dan Konvervasi Penyu (3 spesies) dan teringegrasi dengan adat dan budaya. Dikuatkan dengan Festival: Serang Culture sebagi kegiatan tahunan, tahun ini merupakan kegiatan tahun kelima.  Fasilitas: terminal untuk bis wisata besar. Prestasi: Penghargaan dari Jawapos Award untuk wilayah Blitar Raya.
5.       Desa Wisata Beras Organik Bondowoso (Pak Baidowi)
Produk wisata: proses pertanian organik dari pola tanam sampai pasca panen.  Produk beras telah tersertifikasi dan bahkan ISO.  Terdiri dari 6 pokja, setiap pokja hanya melayani 10 orang sehingga maksimum tamu adalah 60 orang saja.
6.       Toyo Aji Bojonegoro (Mas Joko)
Terletak di Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro dengan luas kawasan kelola 5 hektar.  Produk wisata: pemberdayaan pada masyarakat.  
7.       CMC3W dan Pesisir Selatan (Pak Saptoyo)
Produk wisata: Konservasi bakau atau mangrove dan wisata yang bertanggung jawab.
8.       Tour & Travel Java Gate Away (mBak Dwi)
Mengorganisir wisatawan untuk berwisata di Jawa dan Bali.
9.       Tour Guide Surabaya (mBak Yoni)
10.   Kelompok Kebersihan Lingkungan (KKL)  Ranu Pani (Cak Da’im)
Desa wisata walau hanya dilewati pendaki Semeru.  Tidak punya data pengunjung karena ada di Resort dan TNBTS.  Aktivitas sehari-hari menjadi petani dan menjaga kebersihan lingkungan melalui KKL serta menjadi porter pendaki.  Ingin mengembangkan wisata Ranu Pani yang dikelola oleh masyarakat Ranu Pani sendiri.
11.   Kota Batu (Mas Anwar Doank)
1)      Petani Perkotaan (urban farming) dan Jelajah Kampung (Anwar Doank).
2)      Taman Kelinci di Kawasan Paralayang.
3)      Pemandu Lokal (local guide) (Sri Wahyuni).
4)      Ekonomi Kreatif (Ekraf) dan art spece.
5)      Amazing Bumiaji.
6)      Petik Jambu Kristal.
7)      Sengkutung Bumiaji (9 Desa di Kecamatan Bumiaji).
8)      Batik Ecoprint.
9)      Kampung Wisata Kungkuk (Paket Edukasi UMKM).
12.   Prodi Ilmu Kelautan UB (Ester & Dicky)
Ingin mengembangkan ekowisata bahari.  Membantu di BSTC dan CMC3W untuk konservasi mangrove dan penyu.  Bersama kawan dari Unair mengembagkang school of environment untuk edukasi lingkungan ke anak-anak dan ibu-ibu.
13.   Sidoajo Urban Conservation
1)      Mas B.C. Nusantara
Beraktivitas di Sidoarjo dengan melakukan konservasi di Sungai Buduran.
2)      Mas Agung (Klub Indonesia Hijau Chapter 3 - KIH03)
3)      Joung Java Tour Organizaer
Berkegiatan di Banyuwangi untuk melakukan konservasi dan wisata.
4)      Wisata Air
Tubing dan Rafting telah beroperasi selama 3 tahun dengan 2 tahun awal melakukan pemberdayaan pada masyarakat.  Mengutamakan merawat semangat ketimbang memperoleh profit. Saat ini telah memiliki 15 porahu.
5)      Kader Konsernasi (Mas Boy)
Mengenalkan edukasi konservasi pada anak-anak.
14.   Lumajang
1)      Visit Lumanang.com (Cak Dana)
Media online di Lumajang sebagai media partner untuk aktivitas budaya dan wisata di Lumajang serta memberikan jasa branding.
2)      Bumdes Banjar Baru (Cak Miko).
3)      Asidewi Indonesia Lumajang.
4)      Lumajang Awesome (offroad travel ).
5)      Lutfi Peternak Kambing dan olahan susu Kambing (7 jenis) dari Senduro.
6)      Pokdarwis Sabuk Semeru Hutan Bambu Sumber Mujur. Berdiri sejak Maret 2017. Luas hutan Desa 9 hektar untuk pelestarian mata air. Ditanami 18 jenis bambu dari 63 jenis yang ada di Jawa Timur dan kurang lebih 1.250 jenis di Indonesia.  Debit air 800 liter perdetik sebagian besar untuk mengairi pertanian.  Dikelola dengan prinsip tripple bottom line.
7)      Sekretaris Desa Sumber Mujur sekaligus Sekretaris Pokdarwis.  Total luas Hutan Bambu adalah 14 hektar, air berPh 8.0, dimanfaatkan untuk pertanian 4 desa di bawah Desa Sumber Mujur.  Selain pariwisata juga memproduksi kerajinan berbahan dasar dari bambu yang didapatkan dari warga di luar kawasan konservasi.
8)      Bengkel Bambu (Joko Triono).  Di bawah Pokdarwis yang berfungsi untuk pemberdayaan masyarakat.  Saat ini beranggotakan 69 orang.  Juga melakukan aktivitas pembibitan bambu yang memperkerjakan 12 orang, bertujuan untuk menghijaukan Indonesia dengan bambu.
9)      Gifari (Tempursari).  Mengupayakan konservasi pesisir, TPI Karang Menjangan yang terkena abrasi.  Mantan Ketua Kelompok Pecinta Alam Junggring Salaka UM Malang.
15.   Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) (Yusak & Mat)
16.   Asosiasi Penelusur Ngarai Indonesia (Fahad)
17.   Kabupaten Bangka Tengah - Provinsi Bangka Belitung (Bang Wira)
Mendapat inspirasi dan undangan dari Pak Saptoyo CMC3W.  Potensi wisata: gunung, pesisir, dan bekas galian tambang.  Bekas galian tambang menjadi tempat pembelajaran kerusakan alam karena manusia tetapi dapat diubah menjadi destinasi wisata juga.
18.   Gunung Arjuno
1)      Forum Komunikasi Pokdarwis Pasuruan: Mengelola wisata alam dan budaya.
2)      Komunitas Cempaka: mengelola edukasi dan konservasi penyelamatan mata air di Prigen.
3)      Yayasan Stapa Center: mengelola 5 desa untuk pengembangan wisata.
19.   Bajulmati Sea Turtle Society (BSTC)
Potensi: konservasi penyu di Desa Gajah Reko dan Tumpak Rejo.  Pendaratan penyu di bulan 3—8 sedangkan penetasan di bulan 5—10.
20.   Badan Sertifikasi Profesi Nasional (BNSP)
21.   Banyu Anjlok Lenggoksono (Mas Mukhlis Bawole)
Pokdarwis Wedi Awu mengelola Banyu Anjlok dan selancar, sebagai pionir selancar di Malang Raya.
22.   Trenggalek (Heru Dwi Susabto)
1)      Anggota Ikatan Alumni Pariwisata Unair dan pengelola Trip Nusa Tour Organizer. Datang untuk belajar ekowisata di EJEF.
2)      Bahrul (GP Ansor ) dan Mujianto (Banser). Aktivitas: fasillitator outbond dan pengelola wisata panjat tebing di Tebing Sepikul dan Tebing Linggo dibawah binaan PC Ansir Trenggalek.  Potensi: Wisata Duren Sari, petik durian masak pohon sepuasnya.
23.   Petik Madu Pasuruan (Bu Anna)
Bekerja di PUPUK dan pernah melakukan pendampingan di Gresi dan saat ini sedang melakukan pendamingan pengelolaan sampah plastik dan konservasi sungai dengan bambu di Kabupaten Badung.
24.   Ecolodge Situbondo (Bunda Rosa)
Aktif di ekowisata sejak 1999 dan mengelola lodge dekat TN Baluran.  Potensi: tamu dari Eropa.
25.   Tanoker Jember (Pak Supo)
Mengelola wisata berbasis permainan anak, yaitu egrang.  Paket wisata Petualangan Kacong –Genduk dan Kolam Lumpur di Ledok Ombo – Jember.
26.   Kreol Javanindo Tour Organizer
Agen travel dan tour organizzer di Malang untuk wisata minat khusus.
27.   Konservasi Mangrove Sampang (Cak Aditya)
Potensi: konservasi mangrove.  Mendapat inspirasi dari Pak Saptoyo CMC3W dan sekaligus ingin belajar tentang ekowisata.

Hari Kedua – Sabtu, 18 Januari 2020
Berbagi Pembelajaran Baik (Lesson Learn): Belajar dari Destinasi Pesisir
Moderator: Eko Agus
Pak Saptoyo (CMC3W – Malang Selatan)
Mengelola kawasan seluas 117 hektar di Desa Tambakrejo.  71 hektar sudah tertanami mangrove dan 10 hektar hutan.  Berdiri sejak 2012 dan memulai aktivtas pariwisata sejak 2014.
Visi: Hidup sejahtera di alam yang lestari.  Prinsip: Kelestarian alam, kesejahteraan masyarakat, dan manfaat ekonomi.  Manajemen organisasi telah tertata dengan kelengkapan legal formal dan aktivitas pengorganisasian.  Bahkan sejak 2018 diajukan sebagai Perhutanan Sosial.
Mekanisme dan alur tamu (visitor management) ditata dengan SOP yang ketat.  Tamu wajib reservasi. Ada batasan kuota kunjungan khusus untuk Kawasan Pantai 3 Warna: 100 orang per 2 jam dan harus didampingi oleh pemandu lokal (safety).  Ada paket tracking VIP.  Sedangkan manajemen kawasan memperhatikan daya dukung lingkungan (carrying capacity).  Juga memberlakuken Etika Pengungjung (code of conduct)  seperti tata tertib pengunjung dan manajemen sampah (zero waste).
Komunikasi dan reservasi hanya menggunakan telfon, WA, dan media sosial.  Belum menggunakan reservasi daring (online reservation) karena alasan kemudahan dan kecepatan untuk reservasi.
Menerapkan prinsip-prinsip Pendekatan Penghidupan Lestari dengan cara pesisiran: (1) Aku sopo? (analisis atau profil diri - PRA); (2) Duweku opo? (analisis potensi dan aset); (3) Isoku nglakoni opo? (perencanaan dan terukur); (4) Aku kudu opo? (analisis masalah dan akar masalah serta menandingkan antara kondisi ideal dan realita); (5) Aku diewangi sopo? (peran pemangku kepentingan).   Mencari solusi bersama.
Pak Kholid (Kampung Blekok – Situbondo)
Berawal dari masalah penanganan sampah.  Kemudian, bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Situbondo.
Saat ini, kurang lebih ada 18.000 individu Burung Blekok yang tinggal dan berkembang biak di Desa.  Bahkan ada perawatan untuk anakan Blekok yang jatuh karena angin.
Produk wisata: 1) Atraksi Burung Blekok, 2) Konservasi Mangrove, 3) handy craft  dengan pasar destinasi wisata lain seperti Bali dan Blitar.
Pengoganisasian dilakukan strategi pendekatan kekeluargaan. Dengan prinsip kerja Sapta Pesona.  Hasil yang didapatkan: 1) peningkatan jumlah pengunjung (750—1.000) wisatawan domestik setiap akhir pekan dan 2) peningkatkan pendapatan dan ekonomi masyakarat.  Pemberdayaan kontektual dilakukan oleh EJEF.
Diskusi
1.       Hanif (Sidoarjo)
Untuk Kampung Blekok: ada masalah dengan parkir bis yang mahal.
1)      Berapa lama untuk melakukan penyadaran?
2)      Berapa jumlah personil untuk melakukan aktivitas konservasi dan wisata?
3)      Apa wujud partisipasi masyarakat?

2.       Gifari (Tempursari – Lumajang)
Untuk CMC3W:
Bagaimana cara untuk mengetahui kemampuan dan potensi diri sendiri?
Untuk Kampung Blekok:
Bagaimana proses memperoleh dukungan dari Pemerintah Daerah?
3.       Pak Timbul (Ndagas – Malang)
Untuk CMC3W:
1)      Bagaimana mengatasi konflik dengan Pemerintah Desa?
2)      Bagaimana mengatasi konflik saat aktivitas konservasi sudah memberikan hasil?

4.       Catur (Sidoarjo)
Untuk CMC3W:
Alokasi PS seluas 12 juta hektar tetapi sampai hari ini baru terealiasi 2 juta hektar saja.
1)      Bagaimana perbandingan kondisi antara masa PHBM dengan PS?

5.       Zaenal (Masyarakat Konservasi Lamongan)
Untuk Kampung Blekok:
Pakdarwis baru terbentuk sejak 3 bulan yang lalu.
1)      Bagaimana pengembangan wisata bisa dilakukan?
2)      Bagaimana hubungannya dengan BUMDesa?

6.       Kusroni (Pandeglang – Banten)
Untuk CMC3W:
1)      Bagaimana intergrasi dengan obyek lain? Perlukah peraturan lain?
2)      Bagaimana Draf MoU dengan Desa, Pemerintah Kabupaten, dan Kementerian (KLHK)?
3)      Bagaimana kesepakatan dengan jasa-jasa pendukung lain? Apakah perlu diatur dalam MoU?

Tanggapan
Kampung Blekok:
1.       Miskomunikasi antara takmir masjid dengan pihak-pihak yang iri dan ingin mengambil kesempata telah dapat diselesaikan dengan baik.  Mengambil cara-cara kekeluargaan dan pendekatan personal. Mengambil keputusan untuk mundur sebagai Ketua Takmir untuk mencegah konflik kepentingan dan hanya bertahan sebagai Ketua Pokdarwis.  Menerapkan pelayanan prima bagi pada anggota Pokdarwis untuk melayani wisatawan.
2.       Pemberdayaan masyarakat dilakukan hanya dalam waktu 1 tahun saja.  Melakukan pendekatan pada masyarakat sesuai dengan kelompok dan kepentingannya.  Pengohalan sampah dilakukan dengan cara di daur ulang.  Pada awalnya diawaki oleh 5 orang pendahulu dengan dampingan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Situbondo.
3.       Memperoleh Dukungan dari Desa dan Dinas Lingkungan Hidup.  Bantuan berupa sarana dan prasarana dari Pemerintah Kabupaten dan Tanah Desa dari Pemerintah Desa.  Pembagian Pendapatan: Desa 20%, Pemkab 45%, dan Pokdarwis 35% dari tiket.  Sedangkan atraksi dan cindera mata langsung dinikmati oleh Pemandu, dan Produsen.
4.       Jalinan kerjasama dengan Pemerintah Desa – Pemerintah Kabupaten – Kementerian.  Pengenaan tiket baru 1 tahun berjalan.  Telah mendapat penghargaan sebagi kawasan wisata terbaik se-Jawa Timur.  Kunci sukses adalah edukasi dan pemberdayaan.  Pendapatan untuk Desa sekaligus menjadi pemasukan untuk BUMDesa yang memperoleh 20% dari tiket wisata.  Dialokasikan 50% untuk pembangunan dan 50% untuk tunjangan Aparat Desa. 

CMC3W:
1.       Menilai potensi diri membutuhkan kepercayaan diri.  Harus percaya diri dahulu baru kemudian bisa menilai dirinya sendiri.  Setia menjalani proses sebaik-baiknya.  Terus belajar dan belajar terus.  Bermodalkan data dan fakta untuk melakukan pendataan dan pemetaan.
2.       Membangun kerjasama kelembagaan antar pemangku kepentingan, khususnya untuk Perhutanan Sosial. Berdasar Undang-Undang 39/2017 dab Perdes 5/2013 yang diganti dengan Perdes 3/2015 serta Perda 1/2018 tentang Pokmaswas Konservasi Perairan.  Bagi hasil sesuai dengan peraturan dan perundangan: Desa mendapat seluruh Pendapatan dari Parkir R4 dan 2% dari tiket, Perhutani 10% sesuai dengan SK Perhutanan Sosial, Pemda Malang 20%, CMC3W 60%.  Tetapi, pendapatan terbesar diperoleh dari atraksi dan produk wisata lainnya.
3.       Masalah yang masih dihadapi adalah homestay dan fasillitas BLU, sedang mendorong BLU untuk ditingkatkan menjadi Hotel.
4.       Produk Hukum untuk PS: Permen 83/2016 tidak mengacu pada tegakkan, tidak berkaitan dengan Perhutani, sulit diterapkan di Jawa sehingga harus menggunakan mekanisme Perjanjian Kerja Sama (PKS). IPHPS mengacu pada Permen 39/2017 yang berdasarkan tegakkan, data pengelolaan kawasan, SK Desa, masuk ke Dirjen PSKL.
5.       MoU dengan Perhutani hanya menerima 10%, walau pengampu kepentingan tetapi mendapat bagian karena prinsip kerja.  Dikuatkan dengan Perdes.  Sedangkan MoU untuk masing-masing kelompok komunitas jasa tidak perlu dilakukan, karena masing-masing komunitas akan mengatut dirinya sendiri, dengan syarat harus memenuhi standar pelayanan bagi wisatawan.
Komentar Panelis
Moderator: Agus Wiyono
Manajemen Pariwisata: 1) Bebasis Pemerintah, 2) Berbasis Swata, 3) Berbasis Masyarakat, 4) Campuran (kerjasama antar pihak).
Prinsip yang harus dikedepankan adalah: triple bottom line + manajemen.  Pelayanan dan Amenitas harus naik kelas.  Menyusun rencana strategi harus berbasis data dan pemetaan.
Panelis: Ary S. Suhadi (Indecon)
Tentang standarisasi, CMC3W telah menerapkan prinsip wisata berkelanjutan.  Tiket hanya pendapat receh, prinsip didahulukan, pendapatan akan mengalir dengan sendirinya.   Contoh sukses adalah Langgeran, dinobatkan sebagai destinasi terbaik se-ASEAN.
Pariwisata berhubungan erat dengan pembangunan infrastruktur.  Perlu sibergitas antara Pemerintah, Masyarakat, Praktisi, Invertor, dan Akademisi (pentahelix).
Prinsip Pariwisata Berkelanjutan:
1.       Manajemen Berkelanjutan
1)      Improvisasi produk terus menerus.
2)      Kualitas tamu yang terus bertumbuh.
3)      Fasilitas yang semakin baik.
Tonggak utama adalah sumber daya manusia.  Proses membangun sumber daya manusia secar terus menerus.  Selama ini pembentukan Pokdarwis sering kali hanya asal pilih, tanpa pengetahuan, ketrampilan, dan pengalaman yang memadai.  Selain itu, sistem tata kelola harus dibangun sejak awal.
2.       Analisis Biaya dan Manfaat (Cost & Benefit Analysis)
Berhitung antara biaya atau sumber daya yang dikeluarkan dengan manfaat yang diterima.  Pariwisata harus tetap menjaga penghidupan yang lestari, karena aktivitas pariwisata memikiki dampak negatif (eksternalitas) kalau tidak dikelola dengan baik.
3.       Naik Kelas
1)      Harus dilakukan uji pasar.  Untuk mencegah pembusukan fasilitas dan meningkatkan kemampuan interpretasi produk wisata (desa). 
2)      Ada proses pembelajaran dan belajar antar generasi sebagai transfer ilmu.
3)      Membangun suasana (ambiance).
4)      Proses naik kelas sebaiknya bertahap tetapi konsisten.
5)      Tamu adalah guru yang terbaik.
Permenpar 14/2016 menegaskan tentang wisata berkelanjutan di Indonesia.  Konservasi dan inovasi menjadi kata kunci, menemukan ide dan inspirasi adalah cara untuk mewujudkannya.  Inovasi harus berbasis nilai tambah dan kearifan lokal.
Meningkatkan kualitas hidup adalah tujuan utama, wisata adalah bonusnya.  Contoh kasus: Pantai Pangandaran.  Mengandalan pariwisata masal (mass tourism).  Menghadapi masalah sampah dari sachet-an.  Pendampingan selama 7 tahun, dengan pendekatan intervensi pasar (pada wisatawan).  Wisatawan adalah guru yang paling baik, karena memberikan masukan yang paling efektif.  Dilakukan pemilahan sampah yang kemudian malah menjadi atraksi wisata.  Selain itu mencari pembanding (benchmark) dan membangun mitra dengan multipihak.
Moderator:
Prinsip ATM (Amati – Tiru – Modifikasi).  Belajar bukan hanya yang baik-baik saja tetapi juga yang buruk, untuk belajar mencegah dan menanggulanginya (mitigasi dan adaptasi).  Selain itu, merupakan bentuk apresiasi dan merapikan ulang pembelajaran.
Berbagi Pembelajaran Baik (Lesson Learn): Belajar dari Destinasi Gunung dan Desa
Moderator: Aan Malang Travelista
Pak Timbul (Desa Wisata Ngadas – Kabupaten Malang)
Ngadas merupakan desa enclave di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).  Bermasalah karena lahan pertanian terbatas.  Tetapi memiliki ritual adat dan budaya, Suku Tengger.  Suku Tengger merupakan suku yang mewarisi adat dan budaya asli dari peninggalan Mojopahit.  Saat ini menjadi produk wisata andalan di Desa Wisata Ngadas (Dewi Adas).
Menerapkan prinsip-prinsip Sapta Pesona yang sudah pula menjadi nilai asli dan asali warga Ngadas.  Salah satunya adalah penggelolaan sampah yang dikerjakan oleh Karang Taruna. Budaya: 1) bahasa, 2) cara berpakaian, 3) tata krama, 4) penanggalan.
Produk wisata: 1) village tour : rumah adat à danyang à makam mBah Sidek (buja krawang Desa Ngadas setelah melihat sumber air dan rumput adas dan menamakan Ngadas Rejo) à Pura à Wihara. 2) Sharing Budaya, 3) Telusur jejak leluhur untuk melestarikan pesan-pesan leluhur (catatan: Pietra ata Pitara = Roh Leluhur)
Catatan Moderator:
1.       Permasalahan tiket di Pos Trisula.
2.       Ada kerjasama dengan tour operator dari Kanada selama 3 tahun terakhir sehingga mendapat tamu dari seluruh dunia dengan kuota lebih dari 1.000 tamu pertahun.   
Pak Baidowi (Desa Wisata Padi Organik di Desa Lombok Kulon– Bondowoso)
Telah melewati proses panjang dan melelahkan, khususnya dengan uji laboratorium.  Akhirnya, bukan hanya sertisikasi dan ISO untuk proses dan padi organiknya tetapi juga menemukan tanda-tanda alam: 1) kehadiran kupu-kupu dan capung berarti kondisi padi bagus dan 2) kehadiran burung seriti sebagai pertanda buruk karena berarti hadirnya hama tanaman.
Telah berjalan kurang lebih 10 tahun dengan prestasi memperoleh sertifikasi dan ISO, walau harus menghadapi audit persemester.  Produk wisata hanya menjual paket proses padi organik dari hulu ke hilir.  Saat ini sedang mengembangkan mina padi dan pelestarian adat istiadat agraris serta kerajinan sebagai cindera mata dam perikanan organik (ikan bersisik yang aktif di siang hari dan ikan tidak bersisik yang aktif di malam hari (nocturnal).
Terdiri dai 6 kelompok kerja (pokja) yang masing-masing hanya melayani 10 tamu (maksimal 60 tamu) perpaket dengan fasilitas home stay & guest house serta 35 sepeda gunung sebagai alat transportasi.   Tidak ada tiket dan hanya menjual paket sehingga kemampuan interpertasi dan penerjemah menjadi sangat penting.  Saat ini penguasaan bahasa asing: Bahasa Inggris, Perancis, dan Tionghoa).
Motto: menjadikan lawan menjadi kawan.
Agus Wibowo (Wisata Alam Hutan Bambu Sumber Mujur – Lumajang)
Hutan bambu seluas 14 hektar dengan sumber mata air yang mengeluarkan 800 liter perdetik dan mengairu 3 kecamatan di sepanjang sungainya.  Melakukan aktivitas konservasi ekologi dan ekosistem yang membawa dampak ekonomi.  Berusaha merupa potensi menjadi aset.
Berdasar Perbup 79/2014 mengenai 1 desa 1 destinasi wisata maka dibentuklah Pokdarwis Sabuk Semeru.  Bekerja dengan merubah kerentanan menjadi potensi dan kemudian menjadikannya sebahai aset.  Sedang pengelolaan berbasis sinergitas multipihak, khususnya dengan pemerintah desa dan kabupaten serta dengan dunia usaha melalui CSR.
Aktivitas Pokdarwis diawali dengan pemetaan SDM dan kawasan dengan berprinsip gupuh, suguh, lan lungguh.  Aktivitas konservasi sudah dilakukan sejak lama, tetapi untuk Pokdarwis memulai kerja sejak tahun 2016 dan dengan dukungan Pemerintah Desa dan kucuran Dana Desa dipersiapkan sebagai destinasi wisata. 
Giat awal konservasi ada sejak 2000—2010 yang dilakukan oleh KSPA dibawa pimmpinan Almarhum Bapak Heri Gunawan.  Sedangkan Pokdarwis yang berawal dari 52 orang anggota bekerja sejak tahun 2016. Kemudian dikomersialkan sebagau destinasi wisata sejak Maret 2017.  Saat ini, pengunjung mencapai 2.000 – 3.000 wisatawan perakhir pekan.
Perencanaan (master plan) disusun berbasis potensi.  Ke depan tidak hanya mengantungkan pendapatan dari tiket saja tetapi berkembang ke paket.  Saat ini sedang dirintis paket beras organik dan kopi, selain pembibitan bambu, kerajinan bambu dan beberapa produk yang telah ada.
Diskusi:
1.       Mas Hanif (Sidoarjo)
Untuk Pak Timbul:
1)      Sumber tentang asal-usul Suku Tengger beragam, menggunakan referensi yang mana?
2)      Bunga Terompet (Kecubung) dan Cemara Gunung ada dengan sendirinya atau ditanam?
Untuk Pak Baidowi:
1)      Bagaimana mengembangkan desa alami bukan buatan artifisial?
2)      Berapa lama wisatatan tinggal dan bagaimana penataan homestay?
Untuk Mas Agus Wibowo:
1)      Bambu adalah kelurga rerumputan, bagaimana edukasi dari berbagai jenis yang ada dan kegunaannya untuk para wisatawan?

2.       Lutfi (Pasuruan)
1)      Bagaimana intergrasi desa wisata ekologis dengan Pemerintah Desa?
2)      Bagaimana caranya menjalin kerjasama dengan tour agent internasional?
3)      Bagaimana dengan adat tertentu yang tidak bisa dipublikasikan?

3.       Yayak ()
1)      Darimana referensi untuk adat dan budaya diperoleh?
2)      Bagaiman proses menghilangkan hama padi?
3)      Bagaimana dengan monitoring dan evaluasi untuk target membuat paket wisata?
4)      Bagaimana mensinergikan antara Pokdarwis dan Pemerintah Desa?
Tanggapan:
1.       Pak Timbul (Dewi Adas)
Sejarah diperoleh dari merujuk cerita-cerita yang turun termurun diceritakan (pitutur).  Sampai saat ini masih percaya sebagai keturunan Majapahit terakhir.  Orang-orang tua memilih tetap tinggal di lingkar Semeru karena sudah hafal isi ajaran-ajaran asli.  Sedangkan anak-anak muda diperintahkan untuk terus berjalan ke Banyuwangi (Blambangan) dan lanjut ke Bali dengan membawa gulungan kitab-kitab ajaran nenek moyang.
Tengger adalah nenek moyang orang-orang Bali.  Di lingkar Semeru sudah ditinggali oleh Suku Tengger yang berasal dari Majapahit jauh sebelum tersingkir.  Semeru disebut sebagai Tanah Mantra atau Tanah Hila-Hila
Budaya yang disampaikan pada tamu adalah budaya asli tanpa dikurangi dan ditambahi.  Sedangkan prosesi adat tetap sesuai dengan tanggal yang telah ditetapkan oleh para tokoh adat.  Bila memang jadwal berbatengan dengan jadwal kegiatan rituan, berarti bonus untuk wisatannya.
Kerjasama dengan tout operator internasional karena fasilitasi dan bantuan dari Indecon dan EJEF.   Tetapi, persiapan menjadi Desa Wisata berbasis Adat dan Budaya sebagai daya tarik atraksi wisata sudah dilakukan jauh-jauh hari.
2.       Pak Baidowi (Bondowoso)
Saat ini ada 15 home stay dengan paker live in kurang lebih 7 hari. Ada 4 Pemandu dengan kemampuan 3 bahasa (Inggris, Perancis, dan Tionghoa).
Bunga juga menjadi pupuk dan pestisida alami.
3.       Agus Wibowo (Sumber Mujur)
Bambu apus adalah penyimpan bambu yang baik dan rebungnya tidak bisa dimakan sehingga paling baik untuk konservasi.
Sudah dilakukan pendataan dan identifikasi ilmiah sehingga pengayaan jenis bambu bisa dilakukan dengan baik.
Edukasi pembibitan, pemeliharaan, panen, dan pemanfaatan bambu dilakukan pada anak-anak usia PAUD, SD, dan SMP di sekitar Desa Sumber Mujur.  Ada media edukasi untuk wisatawan, walau belum lengkap. Akan dijadikan paket edukasi sebagai salah satu atraksi pariwisata.
Proses integrasi dengan Pemerintah Desa sangat baik.  Pokdarwis adalah pengelola pariwisata yang asetnya dimmiliki oleh Desa.  Pengawasan dan evaluasi untuk sektor pariwisata menjadi tanggung jawab Pokdarwis, sedangkan sektor-sektor lain dikelola oleh kelompok-kelompok lain tetapi bersinergi.  Diarahkan menuju Desa Wisata.
Tanggapan dari Panelis (Pietra Widiadi – DIAL Foundation)
Kesuksesan atau kesejahteraan tidak akan tercapai kalau kerusakan terus terjadi.  Selain itu, dalam komunitas (desa) tidak ada kesuksesan milik pribadi.  Kesuksesan adalah milik bersama.
Proses menuju kesuksesan atau kesejahrteraan:
1.       Analisis Potensi.
2.       Penilaian terhadap aset.
3.       Terukur dan terhitung dengan Analisis Pentagonal
4.       Menandingkan antara kondisi ideal dengan realita:
1)      Modal alam: seluruh sumber daya alam.
2)      Modal sosial: budaya atau norma atau makna.
3)      Modal manusia: keahlian, pengetahuan, kualitas manusia.
4)      Modal dana atau finansial: bukan sekadar uang.
5)      Modal fisik: sarana (hardware) dan prasarana (software).
5.       Menyusun Rencana Strategi berdasar Analisis Pentagonal:
Pengorganisasian: seseorang atau sekelompok orang yang melakukan proses atau kerja-kerja untuk menggerakkan orang lain.
Kegagalan seringkali terjadi karena rencana strategis dikerjakan sendiri.  Keberhasilan hanya bisa dicapai dengan bantuan orang lain atau sinergi atau gotong royong.  Pengorganisasian sosial mengaruskan adanya organisator sebagai pemicu dan panggerak.
Pembangunan adalah proses merubah potensi menjadi aset dengan menutup kesenjangan (gap) menuju ideal.  Pengorganisasian merupakan proses awal dari pembangunan.
6.       Anallisis Pendekatan Penghidupan Lestari (SLA)
Akan dilakukan pelatihan PPA/SLA untuk Angkatan Ketiga Seri 1—5 pada tanggal 17—23 Februari 2020 dan Angkatan Kedua Seri 4—5 pada tanggal 20—23 Februari 2020.

Berbagi Pembelajaran Baik (Lesson Learn):  Belajar tentang Potensi Wisata Minat Khusus (Extreme Sport)
Moderator: Agus Wiyono
Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI)
Salah satu aktivitas minat khusus yang sedang booming pada saat ini.  Tetapi, bukan sekadar kegiatan mendaku gunung saja.  Ada risiko yang harus diperhitungkan untuk dimitigasi dan diantisipasi.
APGI menyusun standar keselamatan, kelayakan, dan kenyamanan pendakian seperti menyusun SOP dan tahapan-tahapan pendakian.  Tetapi perlu penyamaan persepsi, karena setiap gunung berbeda risikonya dan kebutuhannya satu dengan yang lain.
Cakupan geografis: disebut gunung bila ketinggian lebih dari 600 mdpl. Dengan beberapa macam bentuk, salah satunya adalah yang lancip (strato).  Disebut pegunungan bila ada beberapa puncak.
Nilai etika yang dipegang adalah: 1) prinsip konservasi alam, 2) penghormatan pada budaya lokal, dan 3) menghargai masyarakat setempat.
Sebagai asosiasi APGI telah dilengkapi dengan syarat-syarat kelembagaan seperti visi, misi, standar kompetensi, standar keamanan, dan lain sebagainya.  Tujuan didirikannya APGI adalah: 1) keamanan dan keselamatan, 2) interpertasi, 3) pengalaman, dan 4) interaksi dengan alam dan budaya.  SOP yang telah disusun, antara lain: 1) perencanaan, 2) saat pendakian, 3) pasca pendakian.
Strategi sebelum dam selama pendakian: disiplin dan menjaga kebugaran.  Tentu saja selain itu harus memastikan daftar kebutuhan pribadi (peralatan, makanan, dan minuman).  Selan itu harus mampu mengantisipasi perubahan cuaca dan mencegah kecelakaan.
Tugas utama Pemandu Gunung adalah memastikan klien selamat sampai di rumah dengan selamat.  Karena berkerja secara profesional dengan memastikan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan klien.  Dengan syarat kompetensi: sikap (attitudei), keahlian (skilli), & pengetahuan (knowledge).
Berdiri sejak 1996 dan melaksanakan Musyawarah Nasional pertama pada Maret 2016.  Saat ini telah mendapat pengakuan dari Badan Nasional Settifikasi Profesi (BNSP) dan Kementerian.  Dengan anggota kurang  lebih 1.000 anggota.
Sedangkan pemangku kepentinganya terdiri dari Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat, Masyarakat lokal, dan Lembaga Swadaya Masyarakat.
Catatan Moderator:
Peran APGI sangat penting karena mengangkat citra pendakian gunung.  Selain itu, menanamkan arti penting dari pendakian yaitu persahabatan.  Ada asosiasi dan ada sertifikasinya.
Asosiasi Penelusur Ngarai Indonesia (APNI) (Fahad)
Aktivitas di ngarai dengan merayap, menyelam, dan berbagai aktivitas lain.
Masih jarang di Indonesia, padahal potensi besar dan peluang usaha yang menguntungkan.  Rata-rata harga paket 1,2 juta perorang untuk wisatawan domestik dan 1,5 juta perorang untuk wisatawan manca negara.  Invetasi cukup mahal untuk peratan dan keselamatan.
Catatan moderator:
Memanfaatkan alam tanpa harus merusak bahkan memberikan nilai tambah. Ada asosiasi tetapi belum ada sertifikasi.
Komunitas Pengelola Via Ferrata (Eko Agus)
Artinya: Jalur besi (Italia).  Salah satu strategi perang saat perang dunia kedua dari tentara Italia menghadapi sekutu.  Di Indonesia pertama kali ada di Kabupaten Purwakarta – Jawa Barat, sedangkan yang saat ini dikelola di Bukit Sepikul – Desa Watu Agung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek – Jawa Timur adalah yang kedua.
Belum ada sertifikasi, sehingga standar keselamatan menggunakan standar keselamatan kerja (K3) ketinggian.  Selain menjadi potensi pariwisata baru, efektif untuk menggusir penambang liar Galian C dari loksi kelola.
Sedang dikembangkan di Kabupaten Tegal – Jawa Tengah.  Dengan kelebihan berjalan di atas tebing dan dikolela oleh BUMDes setempat. 
Salah satu manfaatnya adalah menghilangkan phobia ketinggian.  Harga paket sebesar 225.000 perorang dengan standar 1 pemandu maksimal memandu 5 orang.  Dengan lama waktu tempu rata-rata 2 jam.
Catatan Moderator:
Mengombinasikan beberapa keahlian antara panjat tebing dan pendakian.  Belum ada asosiasi, apalagi sertifikasi.
Lembaga Sertifikasi Profesi Pariwisata Nasional (LSP Parnas)
Berdiri sejak tahun 2010 daengan memperoleh lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).  Bertujuan untuk memenuhi  kebutuhan sertifikasi profesi yang relatih tinggi.  Telah bekerja sama dengan EJEF sejaj tahun 2012.
Diskusi
1.       Pak Timbut (Ngadas)
Adakah sertifikasi untuk sopir?
2.       Ari (WWF Lanscape Mahakam)
Di Sungai Mahakam (Kalimantan Timur) akan diselenggarakan pertemuan penggelola pariwisata sepanjang aliran Sungai Mahakam.  Bahkan akan dibentuk Jaringan Ekowisata Kalimantan Timur.
Bagaimana menghadapi wisata masal (mass tourism) dan menggantinya dengan ekowisata?
Bagaimana merubah potensi wisata menjadi produk wisata? 

Standar Destinasi: Menilai Potensi dan Capaian Diri Sendiri (Self Assessment) (Fajar)
Aalat ukur potensi dan capaian pariwisata yang dikembangkan oleh Prof. Lukman Hakim Guru Besar UB yang juga adalah Pembina EJEF.
Kepentingannga adalah klasifikasi desitinasi: 1) Rintisah, 2) Berkembang, 3) Maju, 4) Mandiri.  Selain untuk mengukur capaian destinasinya sendiri (monev), juga sebagai alat perencanaan intervensi yang dapat dilakukan oleh jaringan (EJEF) atau pihak-pihak lain sebagai alat Rencana Tindak Lanjut (RTL).


Beberapa hal yang dinilai:
1.       Kelembagaan.
2.       Keberlanjutan.
3.       Atraksi.
4.       Aksestabilitas.
5.       Fasilitas.
Catatan: Standar Ekowisata jauh lebih detail dan jaub lebih rumit ketimbang standar pariwisata.

Hari Ketiga, Minggu 19 Januari 2020
Evaluasi
Moderator: Masukan untuk Pokdarwis Sabuk Semeru, Wisata Alam Hutan Bambu Desa Sumber Mujur
1.       Wira (Bangka Tengah – Bangka Belitung)
Penjelasan mengenai kegempaan dilayani oleh Pak Siswanto sebagai petugas seorang diri, perlu diberikan bekal pengetahuan pada para pemandu untuk menguasai informasi tersebut.  Sehingga wisatawan juga memperoleh informasi dan pengetahuan mengenai pemutakhiran informasi erupsi gunung berapi aktif.
Peliang untuk membuat paket perjalanan wisata dari Hutan Bambu Sumber Mujur dan perjalanan ke Gunung Sawur dan Gunung Wayang.  Serta eksplotasi lebih lagi produk-produk dari bambu seperti tumbler dari bambu serta interaksi wisatawan untuk membuat souvenir-nya sendiri .  Manaikkan kelas destinasi dan cindera mata.
2.       Mukhlis (Lenggoksono – Malang Selatan)
Paket Jelajah Desa dengan menghidupkan kembali alat transportasi Cikar atau Dokar serta aktivitas membajak sawah dengan kerbau.  Sehingga, perjanan (tracking) lebih jauh lagi.
3.       Sri Wahuni (Kota Batu)
Pemandangan bagus, khususnya efek matahari terbit (sun rise) tetapi waktu perlu diperjangan dengan bangun lebih pagi.  Atraksi bisa ditambah dengan Aktivitas Angon Bebek.
4.       Supo (Tanoker – Jember)
Bambu yang ditanam dan dibibitkan mencapai 18 jenis, tetapi masih perlu pengayaan jenis bambu yang dibibit, khususnya bambu yang langka.  Untuk rombongan yang naik ke Gunung Sawur dan menerima penjelasan dari Petugas perlu ada pembatasan atau kuota.  Maksimal cukup 2 rombongan saja dan ditambah interepreter dari Pokdarwis Sabuk Gunung.
Atraksi ditambah dengan Paket Edukasi Pembibitan Bambu. Serta memperkaya produk kerajinan olahan bambu.
5.       Yoni (Surabaya)
Membawa alat sapit sampah dari Bali, ternyata bisa diproduksi di Sumber Mujur dengan setengah harga saja.  Bisa menjadi produk baru sekaligus alat untuk melakukan bebersih sampah di lokasi.
6.       Da’im (Ranu Pani – Lumajang)
Atraksi ditambah dengan memperkaya informasi mengenai Gunung Semeru dan erupsinya.  Selain itu juga diperkaya dengan pengamatan burung serta ketersediaan alatnya (binocular dan monocular).  Pemandu lokal untuk pengamatan burung harus ada, memiliki bekal informasi yang memadai tentang keanekaragaman hayati setempat.
Simpulan Moderator
Wisata berkelanjutan adalah aktivitas wisata yang tahu untuk berkata cukup demi menjamin keberlanjutan penghiduan dan kelestarian alam.
Masukan
1.       Pak Baidowi (Bondowoso)
Hasil analisis kondisi destinasi yang diolah oleh Mas Fajar sebaiknya dikembalikan ke masing-masing pengelola destinasi.
2.       Wira (Bangka Tengah – Babel)
Ada banyak kesempatan untuk belajar.  Penting bagi peserta untuk ikut berkontibusi dalam kegiatan, seperti ikut mencuci piring sendiri bukan sekadar menyerahkannya pada panitia lokal.  Sehingga, terbangun relasi yang akrab antar peserta dan dengan panitia lokal.  Selain itu, acara diperkaya dengan lokakaya (workshop) untuk berbagi kemampuan teknis.
3.       Agus Wiyono (Koordinator EJEF)
EJEF berdiri untuk berbagi kepentingan bersama dalam pengembangan ekoiwsata dan pariwisata di Jawa Timur.  Keanggotaan bersifat terbuka dan tanpa syarat, tidak dibatasi oleh latar belakang profesi (mutipihak dan pentahelix).  Tujuan utama EJEF adalah:
1)      Membantu menyusun Rencana Strategis destinasi.
2)      Membantu pengembangan kapasitas dan potensi.
3)      Penguatan kelembagaan berbasis CBT.
4)      Kepemimpinan.
5)      Pengembangan produk.
6)      Pengembangan pasar.
7)      Menjalin kerjasama multipihak dengan:  pengelola destinasi, pemerintah, industri pariwisata, asosiasi profesi, akademisi, dan lain-lainnya.
Struktur organisasi: Pendiri Agus Wiyono dan Agus Sugiarto, dengan basecamp di Jalan Sunan Muria II/5 Kota Malang.

Penutupan
Agus Wiyono (Koordinator EJEF)
Setelah TJE 2020 sekalian dengan ulang tahun EJEF yang ke 10, tahun ini akan berlangsung Temu Jaringan Indecon (TJI) 2020 yang sekaligus berbarengan dengan ulang tahun Indecon yang ke 25.  Telah disepakati, lokasi pelaksanaan TJI 2020 akan dilaksanakan di Kabupaten Lumajang.  Sebagai bentuk apresiasi pada Bupati dan Pemkab Lumajang yang serius memperhatikan pengembangan pariwisata berbasis komunitas.
Trisno Sudigdo (Pembina EJEF)
TJE 2020 terlaksana dengan persiapan yang hanya 2 minggu, tetapi berjalan dengan baik dan sukses.  Hasil audiensi dengan Bupati Lumajang, EJEF ditunjuk sebagai Pendamping Pengembangan Pariwisata se Kabupaten Lumajang.
Keunikan EJEF adalah karena EJEF dimiliki dan dikelola dari, oleh, dan untuk EJEFers sendiri.  Komunikasi dan kemauan berbagi antar EJEFers untuk pengembangan ekowisata di Jawa Timur untuk menjadikan Jawa Timur sebagai barometer ekowisata di Indonesia.  Dengan berpegang pada prinsip peningkatan kesejahteraan masyawakat, menjaga kelestarian alam melalui pariwisata di Jawa Timur.
Pak Syafi’i (Kepala Desa Sumber Mujur)
Terima kasih telajh berbagi informasi, pengetahuan, dan pengalaman tentang produk-produk pariwisata. Sekaligus mempromosikan Wisata Alam Hutan Bambu Sumber Mujur, Desa Sumber Mujur, Kecamatan Candi Puro, Kabupaten Lumajang.
Akan terus belajar untuk pengembangan pariwisata desa sehingga cita-cita menjadi Desa Wisata akan terwujud. Khususnya akan belajar (1) Padi Organik ke Pak Baidowi di Bondowoso dan (2) Sapi Perah dan Olahan Susu.  Akan segera melakukan studi banding dan belajar bersama.  Jangan tinggalkan dan terus rangkul Pemerintah Desa dan Pemerintah Daerah untuk pengembangan pariwisata demi kesejahteraan masyarakat.   
Sampai bertemu lagi di agenda-agenda EJEF yang lain dan sampai berjumpa di Temu Jaringan EJEF selanjutnya...!!!