Selasa, 26 November 2013

Etos Kerja Jepang yg Memukul Balik (Majalah Intisari No. 602)

Negara Jepang terkenal dengan etos kerja kerasnya, tetapi saat ini etos kerja Jepang menjadi pukulan balik bagi perusahaan2 besar yg telah meraksaksa selama beberapa dekade.  Serangan dari Korea dan China tak tertahankan menjadi perongrong kekuatan ekonomi Jepang.  Sony mulai mengurangi ribuan pekerjanya, Sharp akan menutup divisi TV dan AC, Toshiba penjualan TVnya menurun demikian pula dengan Notebooknya, Panasonic dan Sanyo mengalami kerugian besar.  Sistem senioritas dan lambannya pengambilan keputusan menjadi penyebab kelemahan dalam persaingn menghadapi Korea dan China.
Menurut Bob Widyahartono, pengamat ekonomi dan bisnis Asia Timur mengatakan bahwa Jepang, Korea, dan China memiliki etos kerja keras yang hampir sama, pekerja keras dan tak kenal lelah.  Khusus Jepang ada 5 (lima) prinsip kerja keras.  Prinsip imitation, improvement, inovation, improvement again, dan invention menjadi bekal dalam membangun ekonominya.  Nilai2 tersebut diajarkan pada anak2 sejak usia dini, selain tentu saja kemandirian dan bekerja dalam team.  Selanjutnya, snak2 Jepang diajari untuk membangun karakter "wa", karakter ketenengan, keharmonisan, dan kesahajaan.  Semangat "bushido", karakter disiplin, kerja keras, dan pantang mrnyerah menjadi nilai selanjutnya yg ditanamkan.  Selanjutnya, karakter "fukoku kyohei", prinsip bernegara menjadi karakter yg ditanamkan.  Prinsip negara yg makmur dan militer yang kuat menjadi prinsip anak2 muda Jepang.  Kemudian, prinsip pemikiran "wakon yosoi" dan "onko chisin" yairu pemikiran konservatif-modern yang berbasis pada penghormatan pada ajaran lama tetapi terbuka dengan pemikiran baru menjadi modal kaum muda Jepang, prinsip yang menjadikan orang2 muda Jepang memiliki otak barat tetapi berhati timur.
Takao Watanabe, penulis buku tentang perusahaan2 di Jepang menjelaskan tentang sifat2 perusahaan jepang dengan nilai2nya masing2.  Hitachi memiliki sifat "ronin", laksana samurai tak bertuan, hidup spt warga awam yang bebas tidak terikat hukum kebangsawanan yang rumit.  Toshiba laksana "samurai" yang hidup tunduk di bawah perintah penguasa, terjamin hidup tetapi tidak bebas merdeka.  Mitsubishi laksana "tonosama", layaknya aristrokrat yang gila kekuasaan dan diktaktor, berkuasa karena kaya raya dan pengambilan keputusan yang terpusat pada "keluarga", prinsip atasan tidak perku hebat tetapi bawahan harus hebat dan taat mengabdi menjadi nilai dasarnya.  Matsushita laksana "chonin", seperti pedagang yang pandai dalam melayani kebutuhan masyarakat.
Jeffrey K. Linger (2004) menuturkan kekuatan perusahaan otomotif Jepang dalam buku "the toyota way" menjelaskan ada 14 prinsip kerja yang menjadi keunggulan Toyota sebagai perusahaan otomotif raksaksa yang mampu menggeser hegemoni Ford.  Kesetiaan menjaga visi jangka panjang, bila perlu dengan mengorbanksn visi jangks pendek, belajar dan refleksi terus menerus (hansei), dan perbaikan terus menerus (kaizen) menjadi kekuatan utama Toyota.
Tetapi, pada akhir2 ini serangan Korea yang dimotori oleh Samsung dan LG menghajar perusahaan2 elektronik Jepang.  Menurut Yodhia Antariksa (2012) ada beberapa kesalahan yg menjadi penyebab kegagapan perusahaan2 Jepang menghadapi gempuran perussahaan2 Korea dan China.  Pertama, budaya mengagungkan "harmoni" yg mementingkan konsensus, menyusun rencana dg lambat, sehingga pengambilan keputusan menjadi lama dan lambannya eksekusi ide2 kreatif dan tidak adanya ide2 radikal menjadikan ketakfleksibelan dalam menghadapi perubahan.  Kedua, budaya "senioritas", budaya urut kacang dalam kepemimpinan menjadikan kecepatsn inovasi dan kompabilitas menjadi mandeg.  Ketiga, regenerasi yang lambat menjadikan kepekaan pada perubahan dan kecepatsn inovasi menjadi lamban.  Jepang telah menjadi negara tua, bukan hanya karena senioritas tetapi juga karena lambannya regenerasi.
Belajar dari kondisi di atas, Indonesia bisa belajar dari etos dan kerja keras dari Jepang.  Sekaligus kita juga belajar untuk mengelaborasi kejeniusan lokal serta nilai-nilai luhur negeri sendiri untuk menjadi negara makmur dan berdaulat.  Indonesia adalah negara kaya raya, tetapi belum termaksi alkan karena  etos kerja keras, semangat berkarya, dan kesadaran komunal untuk menjaga kedaulatan masih belum sekuat sebagaimana yg seharusnya dilakukan.  Bahkan, kekayaan alam tergadaikan pada penguasa modal asing.  Semestinya, sebagai negara besar yang juga punya sejarah besar dan semestinya punya etos dan nilai2 luhur serta kejeniusan yang melimpah nan adiluhung mampu untuk menjadi negara dan bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur......

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)