Senin, 28 April 2014

Menanam Bibit, Menyemai Kehidupan... Jambore Keadilan Iklim 3 - 2004

Jambore Keadilan Iklim kembali terseleggara untuk yang ketiga kalinya.  Kegiatan yang digagas oleh Laskar Hijau dan didukung oleh komunitas-komunitas pecinta alam se Lumajang Raya seperti Vabfas dan Gowa serta PA SMA/SMK se Lumajang serta berbagai komunitas peduli kelestarian hidup seperti Warga Wotgalih Menolak Tambang Pasir Besi dan berbagai Organisasi Masyarakat Madani lainnya.  Jambore kali ini bertempar di Pantai Wotgalih, di lokasi bekas tambang Pasir Besi milik PT Aneka Tambang (Antam) dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 26--27 April 2014.  Peserta yang hadir bukan saja dari Komunitas Pecinta Alam seperi Laskar Hijau, Vabfas, Gowa, Dippa Candra Wijaya, dan berbagai komunitas PA lainnya.  Peserta juga bertambah dengan datangnya rombongan dari Al Falah Islamic Course (FIC) Sidoarjo, Karang Taruna Desa Siwalan Panji Kabupaten Sidoarjo, serta Universitas Ma Chung Malang.  Serta tentu saja beberapa simpatisan dari berbagai kota yang salah satunya dari datang dari Kota Solo.  Pelaksanaan jambore kali ini mendapat dukungan dari Badan Nakotika Nasional (BNN) kabupaten Lumajang, yang pada kesempatan kali ini melakukan sosialisasi mengenai bahaya penyalagunaan narkoba.

Berbagi Pengalaman dan Diskusi
Kegiatan yang secara resmi dibuka arahan dari Pak Lurah Wotgalih dan dari Koramil dilanjutkan dengan sosialisasi BNN, menjadi hangat bukan karena pesan-pesan dari para petinggi dan petugas, tetapi karena berbagi pengalaman dari salah seorang anggota Dewan Penasehat Profauna, juga berbagi pengalaman dari salah seorang Yayasan Kota Kita Solo, dan antusiasme dari Pak Lurah Silawan Panji, Buduran, Sidoarjo.
Sesi berbagi diskusi diawali oleh Daniels dari Profauna yang menyoal arti kata Pecinta Alam yang sebenarnya.  Diakatannya, selama ini kawan-kawan Pecinta Alam hanya terjebak pada hobi berpetualang di alam ketimbang aktivitas kepecinta alaman yang sesungguhnya.  Kebanggan mengibarkan bendera di puncak gunung seperti menjadi puncak kebanggaan kawan-kawan penghobi kegiatan alam.  Seharusnya pecinta alam juga melakukan konservasi, bukan saja menikmati indahnya alam tetapi juga harus menjaga dan merawat alam dengan melakukan konservasi, baik hutan, lautan, dan segenap isinya.  Bahkan, seharusnya pecinta alam juga turut aktif melakukan kegiatan kebencanaan, karena keahlian dan kekuatan bertahan di kondisi yang terbatas ada pada kawan-kawan Pecinta Alam.  Layaknya seperti seseorang yang jatuh cinta pada kekasih hatinya, tidak akan hanya menikmati, melihat, membelai, atau bahkan mengecupnya saja tanpa memberikan perhatian.  Tidak akan ada pasangan yang mau hanya dijadikan obyek tanpa diperhatikan, entah diajak jalan, makan, nonton, atau ekspedisi bareng.  Juga kalau sakit atau kurang enak badan, masakan didiamkan saja tanpa diperhatikan, dirawat, dan berusaha setengah mati untuk kesembuhannya.  Demikian pula pecinta alam, seseorang yang cinta alam, tidak mungkin hanya menjadi penikmat indahnya alam atau kebanggan diri untuk menundukkan kerasnya alam.  Pecinta Alam sejati akan turut serta merawat keindahan dan kelestarian alam, bahkan saat terjadi bencana akan turut aktif berpartisipasi laksana merawat sang kekasih yang sakit.  Selain itu, disampaikan juga bahwa Profuna bukan hanya sekedar pecinta binatang tetapi merupakan organisasi yang peduli terhadap kelestarian satwa dan hutan sebagai habitatnya.  Dengan tajuk "lebih indah di alam", Profauna peduli terhadap kelestarian satwa dan habitat serta eskosistemnya, termasuk manusia yang ada di sekitar hutan dan bahkan seluruh penduduk bumi.  Profauna akan selalu menentang dan melawan perburuan dan perdagangan bahkan pemeliharaan satwa liar dan perusakan hutan baik pengambilan kayu maupun perubahan fungsi hutan untuk pertambangan dan perkebunan kelapa sawit.  Bahkan Profauna juga menentang pemeliharaan satwa dilindungi ataupun satwa peliharaan tetapi tidak memenuhi syarat kesejahteraan satwa, apalagi eksploitasi satwa untuk tontonan seperti sirkus satwa dan bahkan topeng monyet.
Sesi selanjutnya disampaikan oleh Ian dari YKKS tentang bagaimana penataan Kota Solo yang menuju kota hijau.  Solo melakukan penghijauan masif di berbagai pelosok sekaligus menata ulang kota menjadi ramah lingkungan dan hidup selaras dengan alam.  Dengan visi menjadikan Solo Kota ditengah Hutan, Pemkot Solo dan masyarakat Solo berjuang untuk menjadikan Kota Solo menjadi kota yang hijau, lestari, dan selaras dengan alam.  Pembangunan kota yang sejalan dengan konservasi alam.  Setelah itu, Pak Lurah Siwalan Panji, Sidoarjo menceritakan tenatang desanya yang terkepung oleh pabrik dan banyanya sekolah.  Bukan hanya masalah macet dan kecelakaan, tetapi juga perubahan fungsi lahan besar-besaran, serta tentu ada pengaruh sedikit terhadap perubahan perilaku warga setempat.  Pak Lurah bekerja bersama dengan Karang Taruna dan didukung oleh Al Falah Islamic Course (FIC) berusaha menghijaukan kembali desanya dengan gerakan kerja bakti dan penghijauan, serta melakukan teronosan lain seperti mendukung FIC yang akan menjadikan Siwalan Panji sebagai Kampung Sinau serta menggagas Festival Kampung.  Terobosan yang dilakukan bukan saja melakukan konservasi lingkungan tetapi juga konservasi budaya.
Diskusi berlanjut sampai dini hari, terutama kehausan kawan2 Gowa Gucialit untuk menjaga lestarinya perkebunan teh dan juga 3 air terjun yang ada di dalamnya.  Bukan semata untuk perkebunan, tetapi untuk kehidupan rakyat Gucialit untuk menjadikan desanya menjadi desa mandiri, hidup selaras dengan alam dan mendapat manfaat ekonomi karena alam memberikan hasilnya untuk manusia-manusia yang menjaga lestarinya bumi.  Disepakati, Gucialit bukan menjadi desa wisata tetapi desa mandiri yang tidak perlu merubah apapun baik secara fisik maupun perilaku warga, tetapi menjaga kelestarian kearifan lokalnya, bahkkan membangkitkan kembali budaya dan kearifan lokal yang sudah nyarsi hilang untuk menjadi kekuatan dan nilai luhur rakyat.  Bila alam lestari, kearifan lokal lestari, budaya dan adat istiadat terpelihara, bukan rakyat menjadi obyek dan etalase wisata, tetapi orang datang untuk belajar dan warga Gucialit akan menjadi guru-guru kehidupan bagi banyak orang lain.  Wisata alam akan berubah menjadi wisata budaya dan wisata belajar, bukan saja menjual kecantikan alam tetapi menyajikan nilai dan mengajarkan keluruhan pada banyak orang.  Bukan tujuan ekonomi yang diutamakan tetapi menjaga lestarinya bumi dan nilai yang terutama, dan bumi yang akan memelihara, bukan sekedar cukup bahkan berlebih.

Menanam Bibit, Menyemai Lestarinya Hidup
Acara puncak dari Jambore Keadilan Iklim adalah menanam bibit pohon, karena menanam bibit sama dengan menanam harapan untuk kehidupan yang lebih baik.  Sekitar 200an orang peserta Jambore memulai menanam bibit pada pukul 09.00, pada saat matahari lumayan tinggi yang panas terasa cukup menyengat.  Sekitasr 200 bibit ditanam di seputaran pantai Wotgalih untuk menjadikan kawasan bekas tambang menjadi hijau.  Bukan saja secara simbolis tanda perlawanan dan penolakan terhadap tambang, tetapi kembali menghijaukan kawasan tersebut sebagai kawasan air payau, kawasan tempat ikan berkembang biak juga kepiting hidup, bahkan sesekali menjadi tempat mendarat penyu bertelur.  Pantai Wotgalih akan dikembalikan menjadi habitat air payau yang dulu pernah ada dan dirindukan kembali oleh rakyat Wotgalih.  Konservasi alam yang sebenarnya bukan semata tujuan ekonomi, tetapi konservasi bagi kehidupan lestari desa, yang tanpa harus dieksploitasi dan dipaksa dengan dirusak dan diperkosa untuk menghasilkan gemerincing recehan rupiah, sedangkan gebokan uang menjadi milik investor atau bahkan negara sekalipun.
Setelah menanam acarapun selesai, dan setelah beberapa evaluasi kecil, disepakati pada tahun depan, tahun 2015 mendatang, Jambore keadilan iklim kelima akan dilaksanakan di Candipuro, diharapkan dapat dilaksanakan di Hutan Bambu, dengan panitia lokal dari kawan-kawaan DIPPA Candra Wijaya.
Dengan bersalam satu dengan yang lain, para peserta berpisah satu dengan yang lain dengan harapan untuk kembali berjumpa di tahun depan dan bekerja bersama, berkarya bersama untuk bumi yang lebih baik.  Kawan bertambah, jaringan meluas, semoga semakin banyak orang sadar pentingnya lestari bumi untuk kehidupan yang lebih baik. Selamat berjuang dan bekerja kawan-kawan semua.

Salam Hirua Hidup Hijau
Malang, 28 April 2014
  

1 komentar:

puncakpetualang mengatakan...

Anda butuh peralatan hiking dan camping....?
Tak perlu susah untuk membelinya, cukup sewa saja di Puncak Petualang persewaan alat hiking dan camping terlengkap dan murah di sidoarjo.

Perlengkapan Petualang :

1. Carrier 80lt ---------------------> Rp 20.000 /hari
2. Tenda dome ( 4-5 Orang ) ---------> Rp 15.000 /hari
3. Sleping Bag ( dacron ) -----------> Rp 5.000 /hari
4. Sleping Bag ( Polar ) ------------> Rp 5.000 /hari
5. Kompor ( Gasmate ) ---------------> Rp 5000 /hari
6. Nesting --------------------------> Rp 5.000 /hari
7. Matras ---------------------------> Rp 3.000 /hari
8. Headlamp -------------------------> Rp 5.000 /hari
9. Lentera Tenda --------------------> Rp 5.000 /hari
10. Tenda Pramuka ----------------> Rp 30.000 /hari

Alamat Petualang :

Lokasi : P. Sidokare Asri QQ.2 Sidoarjo
telepone : 08563430171
PIN : 74CF6F40
website : www.puncakpetualang.com