Kamis, 21 Juli 2016

Perang Melawan Kemiskinan: Harmonisasi Hati dan Pikiran



Pengantar

Pengantar diawali berdasar sambutan Rekor Universitas Brawijaya yang menyampaikan tujuan dari semiloka kali ini adalah untuk meneguhkan komitmen pemerintah, perguruan tinggi, pengusaha, dan masyarakat sipil untuk berpihak pada keluarga miskin, khususnya untuk rumah tangga sangat miskin (RTSM).  Dikatakan pula, pendefinisian dan pengukuran keluarga miskin harus tepat untuk menentukan pendekatan yang tepat dalampengentasan kemiskinan.  Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Jatim atas nama Gubernur Jatim.  Disampaikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jawa Timur berpihak pada si miskin (pro poor).  Pembangunan berbasis peran serta masyarakat atau keterlibatan subyek menjadi prioritas (partisipative based development).  Selain itu, pembangunan di Jatim berbasis pada sumber daya manusia (human resources based development).  Pada saat tahun 2011 ini di Jawa Timur jumlah keluarga miskin sejumlah 3.079.822 dan yang sangat miskin berjumlah 439.004 yang perlu campur tangan pemerintah serta fokus bantuan yang tepat sasaran.  Identifikasi berdasar nama (by name), berdasar alamat (by address), berdasar foto (by picture), dan berdasar karakter (by chareacter) menjadi dasar penentuan keluarga miskin dan sangat miskin.  Keluarga miskin seharusnya dikelola oleh Pemerintah Daerah baik Kota maupun Kabupaten, sedangkan keluarga sangat miskin dikelola oleh Pemerintah Provinsi.  Program kerja yang mulai dijalankan sejak November 2010.  Pada bulan Maret 2011 terjadi penurunan keluarga miskin dari 15% menjadi 14,32% di Jawa Timur.  Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) akan memperoleh bantuan langsung (direct cash transfer) sedangkan Rumah Tangga Miskin (RTM) akan mendapat bantuan akses permodalan dengan bunga ringan dari Bank Jatim.  Sampai saat ini masih butuh pendampingan, sehingga keterlibatan perguruan tinggi dan masyarakat sipil masih sangat diperlukan.

Kajian dari Tim Perumus
Selanjutnya, disajikan kajian dari tim perumus yang terdiri dari (1) Prof. Hotman Siahaan (Universitas Airlangga); (2) Prof. Murjito (Universitas Gajah Mada); (3) Prof. Sumarno (Universitas Brawijaya); dan (4) Win Himawan (Biro Pusat Statitistik Pusat).
Sajian kajian pertama disampaikan oleh Win Himawan (Deputi Statistik Sosial BPS Pusat) yang menyajikan bahwa pada tahun 2011 kondisi riil Rumah Tangga Miskin di Indonesia adalah 12,5% atau 30,02 juta jiwa. Disparitas tertinggi ada di Indonesia Timur.  Padahal target dari Millenium Development Goals adalah sebesar 11,5%.  Data untuk Rumah Tangga Miskn di Jawa Timur pada tahun 2005 sebesar 7,4 juta jiwa (19,9% jumlah penduduk), sedangkan pada tahun 2011 turun menjadi 5,35 juta jiwa (14,2% jumlah penduduk).  Disparitas di Jawa Timur ada di wilayah tapal kuda, sedangkan Kota Malang, Kota Batu, dan Kota Madiun disparitas rendah.  Kemiskinan adalah tidak terpenuhinya hak-hak dasar seeorang.  Pemenuhan Hak Dasar seperti (1) pangan; (2) kesehatan; (3) perumahan; (4) pendidikan; dan (5) air bersih.  Sedangkan keamanan dan beberapa hak lainnya belum dimasukkan dalam menghitung pemenuhan hak dasar.  Pengukuran kemiskinan ada yang berdasar data kemiskinan makro (basic need approach) dan data kemiskinan mikro.  Sedagkan garis kemiskinan ada yang bersifar absolut dan relatif (chronic or hardcore, relative, and transient).  Garis kemiskinan meupakan ukuran berdasar pengeluaran rata-rata rumah tangga untuk menbayar kebutuhan dasar.  Garis kemiskinan relatif bila pengeluaran untuk kebutuhan dasar lebih dari 70% pendapatan (cost > 70% pendaptan).   Metoda untuk mengukur kemiskinan yang dipergunakan oleh BPS berbeda dengan yang dipergunakan oleh Bank Dunia.  Data sama tetapi metoda berbeda.  Bank Dunia menggunakan Daya Beli (purchasing power parity) berdasar Dollar Amerika Serikat (USD).  Garis kemiskinan yang ditetapkan oleh Bank Dunia pada tahun 2006 PPP sebesar 6,481/USD, sedangkan BPS sebesar 5,071/USD.  Pada tahun 2005, di Indonesia Rumah Tangga Miskin (hampir miskin, miskin, dan sangat miskin) yang mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT) sejumlah 19,1 juta.. pada tahun 2008 turun menjadi 17,5 juta rumah tangga.  Pada tahun 2011, Rumah Tangga Miskin di sektor informal mendapat bantuan Perlindungan Sosial.  Sejak tahun 2009—2010 telah terentas kurang lebih 2,5 juta RTS tetapi yang jatuh miskin sebanyak kurang lebih 1 juta RTS sehingga yang benar-benar terentas sebanyak 1,5 juta RTM.  20% pengentasan kemiskinan di Indonesia disumbang oleh Jawa Timur.
Paparan kedua disampaikan oleh Prof. Hotman Siahaan, Akademisi dari Universitas Airlangga dengan paparan mengenai “Implementasi Program Jalin Kesra”.  Beliau mengawali pemaparan dengan menyatakan bahwa kemiskinan bukan masalah ketidakmampuan ekonomi tetapi kegagalan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.  Program Jalin Kesra, bukan berdasar apa yang tidak dimilik oleh si miskin, tetai berdasar apa yang dimiliki oleh si miskin.  Orang Miskin di dorong untuk mengatasi masalah kemiskinannya, sedangkan pemerintah berlaku sebagai fasilitator saja (partisipatory approach).  Selain itu, adalah beberapa permasalahan yang dihadapai masyarakat.  Pertama, permasalahan Budaya Jawa yang selalu memposisikan diri pada kondisi cukup dan menerima apa adanya (nrimo ing pandum). Kedua, permasalahan birokratis terkait anggaran antar satuan kerja pemerintah daerah. Ketiga, permasalahan paradigma si miskin untuk mengatasi kemiskinan seperti pengajuan bantun berupa kambing di hampir seluruh kelompok masyarakat baik ladang, gunung, maupun pantai.  Keempat, permasalahan keenganan akademisi untuk terlibat dalam permasalahan pengentasan kemiskinan, terbukti tidak adanya pusat kajian kemiskinan di perguruan tinggi negeri maupun swasta di Jawa Timur.  Kajian akademis dan filosofis mutlak diperlukan untuk mengatasi masalah kemiskinan.  Tidak ada kurikulum dan mata kuliah tentang kemiskinan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan bukan hanya di Fakultas Ilmu Sosial Saja.  Munculnya ilmu-limu baru tentang penanggulangan kemiskinan dengan konteks Indonesia dan perdaerah.  Jalin Kesra, membongkar masalah kemiskinan struktural dengan mempertemukan birokrat dengan orang miskin.  Akademisi bertugas untuk membongkar kemiskinan struktural.
Paparan ketiga disampaikan oleh Prof. Gatot Murjito, seorang akademisi dari Universitas Gajah Mada.  Paparan yang berjudul “Sinergi Pemberdayaan Masyarakat (Sibermas) Menuju Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru”.  Sinergi antara Perguruan Tinggi (Akademisi) dengan Pemerintah Daerah (Birokrasi) dan dengan masyarakat (Community) menjadi singeri ABC yang berdaya.  Merubah paradigma masyarakat (miskin) dari sebagai obyek (program kerja perguruan tinggi dan pemerintah daerah) menjadi subyek, dari top down menjadi partisipatory harus dilakukan.  Dibutuhkan (1) keterlibatan intensif masyarakat; (2) profil yang akurat dan komunikatif; (3) spesifikasi potensi dan kerentanan; (4) sinergi dari berbagai pihak untuk pemberdayaan; (5) langkah strategis kawasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.  Pembangunan harus berbasis kearifan lokal dan sinergi dari para pemangku kepentingan (stakeholders).  Tujuan pembangunan harus berbasis identifikasi kondisi, potensi, situasi, dan permasalahan sumberdaya baik manusia maupun alam.  Pembangunan harus mampu melakukan pembentukan kawasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.  Metoda Partisipatory Rural Appraisal (PRA) dengan peran serta korporasi melalui Corporate Social Responsibility (CSR) dengan dukungan pemerintah daerah dan perguruan tinggi.
Pemaparan keempat disampaikan oleh Prof. Soemarno, Akadem isi dari Universitas Brawijaya dengan judul “Strategi Penanggulangan Kemiskinan”.  Pemaparan yang menjelaskan mengenai pengentasan kemiskinan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.  Penanggulangan kemiskinan dengan pendekatan yang beragam tetapi komprehensif.  Penanganan bersifat lokal dan kedaerahan (spesifik lokasi).  Dengan mengedepankan (1) pertumbuhan ekonomi; (2) layanan sosial; (3) pengeluaran pemerintah yang bermanfaat bagi si miskin.  Dengan tujuan peningkatan produktifitas.  Akademisi berperan dengan melakukan kajian-kajian, sebagai contoh di Universitas Brawiajaya telah dibuka Program Pascasarja Magister Kajian Pengelolaan Kemiskinan sejak pada tahun 2012/2013.  Kajian tentang penanggulangan kemiskinan dengan pendekatan sosiologis, ekologis, dan ekonomi untuk pemberdayaan masyarakat.  Pendidikan berbasis knowledge based poverty allevation.

Perspektik Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan Jawa Timur
Pada kesempatan kali ini dipaparkan kebijakan-kebijakan yang telah diambil dan akan dilakukan oleh Pemerintah Jawa Timur untuk mengatasi kemiskinan di Jawa Timur.  Tampil sebagai penyaji adalah Menteri Koordinator Perekonomian yang diwakili oleh Asisten Ahli, Gubernus Jawa Timur Soekarwo, dan Rektor Universitas Brawijaya.
Pemaparan pertama dilakukan oleh Soekarwo, Gubernur Jawa Timur.  Pemaparan dengan judul “People Centered Poverty Reduction” memaparkan tentang pola kebijakan Pemprov Jatim dalam mengatasi kemiskinan.  Pola yang berbebentuk matriks ini tergambar sebagai berikut:
Can
Option
Psycological Depriciation
Sociological Depreciation
Income or Consumption Approach
Basic Human Need Approach
Human Poverty Approach
Social Exclusion Approach
Partisipatory Approach
Bascih Human Rights Approach
Intervensions






Govermance Approach
Sustainable Livelihood Approach



Human Capital Approach
Production Function Approach
Inclusive
Lawfullness
Accountability
·   Education
·   Health
·   Nutrition
·   Water
·   Sanitation
· Land
· Labour
· Capital
· Technology










Human Capital
Economic Capital
Social Capital
Political Approach
Cultural Approach
Coersive Capital
Environment Capital
  
Membangun ekonomi dengan memperkuat produksi dan pasar dalam negeri dengan memperkuat industri kecil (IKM dan UKM).  Melakukan bantuan ekonomi produktif untuk orang miskin.  Membangun masyarakat sosial yang kuat.  Bertujuan untuk membangun harga diri orang miskin.  Sebagai catatan, uang diam di Jawa Timur sebesar 59 Trilyun yang tidak bisa dicairkan karena masalah regulasi.
Pemaparan kedua disampaikan oleh Prof. Yogi Sugito, Rektor Universitas Brawijaya dengan judul “Program Pasca Sarjana Studi Kajian Penanggulangan Kemiskinan”.  kerjasama strategis antara Pemprov Jatim dan Pemda Sejatim dengan perguruan tinggi sangatlah penting.  Perguruan tinggi melaksanakan Tri Dharma (1) Proses Belajar dan Mengajar untuk meluluskan sarjana yang terdidik; (2) Riset untuk pengembangan Ipteks untuk pembangunan; (3) Pengabdian Masyarakat untuk memberdayakan dan membangun masyarakat.  Universitas Brawijaya selalu menjadi pelopor  penanggulangan kemiskinan.  Sebagai contoh, Sumbangan Pembiayaan Pendidikan (SPP) bersifat proporsional sesuai dengan kemampuan orangtua mahasiswa, SPP dari 0 rupiah sampai 3 juta persemester ter, alokasi beasiswa sebesar 20 Milyar pertahun.  Universitas Brawjaya merupaka Koordinator dari ASEAN Entrepreneursial University.  Universtas yang mencetak sarjana yang mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan orang lain.  Hasil dari penelitian dosen dan mahasiswa diarahkan untuk mampu menciptakan usaha-usaha baru.  Praktik Kerja Lapangan dan Kuliah Kerja Nyata diarahkan untuk membantu masyarakat memperkuat usahanya seperti akses modal, inovasi produksi, dan akses pasar.  Masalah kemiskinan terjadi karena (1) daya dukung wilayah (tandus); (2) kepadatan jumlah penduduk; (3) pendapatan rendah karena faktor pendidikan yang kurang; dan (4) budaya konsumtif.  Universitas Brawijaya memelopori dengan Program Studi dan Pusat Studi Penanggulangan Kemiskinan setingkat Pascasarjana.  Universitas Brawijaya merupakan universitas terbesar di Indonesia (1) penerimaan mahasiswa baru terbanyak (16.000 Maba); (2) program studi terbanyak; (3) bidang ilmu yang diampu (fakultas) terbanyak.
Pemaparan ketiga dilakukan oleh Ir. W. Budi Santoso, Staf ahli Menko Ekonomi dengan judul paparan “Mendorong Pertumbuhan Ekonomi yang Pro Poor”.  Sebagai latar belakang adalah pembukaan UUD45 paragraf keempat.  Gross Domestic Production (GDP) Indonesia  hanya 7% dengan Purchasing Power Parity (PPP) sebesar 4.000USD/kapita/tahun dengan tingkat unemployment sebesar 2%.  Profil kemiskinan pada tahun 2011 adalah 12,4% atau 30,02 juta penduduk dengan jumlah orang miskin terbanyak ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.  Sedangkan untuk DKI Jakarta jumlah penggangguran lebih sedikit ketimbang orang miskin.  Banyak penduduk Jakarta yang menganggur tetapi tidak miskin karena bekerja di sektor informal dengan pendapat yang relatif tinggi.  Penduduk miskin banyak tersebar di pedesaan dan bekerja di sektor pertanian.  Stategi pembangunan nasional harus (1) pro pembangunan; (2) pro pertumbuhan; (3) pro poor.  Pada saat ini kurang lebih ada 50 program penanggulan kemiskinan di berbagai kementerian.  Masih perlu koordinsi yang efektif dan efisien.  PP No. 15/2011 menampilan klastering penaggulangan kemiskinan yang terbagi dalam 3 klaster.  Juga ada 6 program pro rakyat yang atara lain adalah (1) peningkatan kehidupan nelayan; (2) peningkatan kehidupan masyarakat; (3) air murah; (4) transportasi murah.  Tingkat PDP paling tinggi ada di Kalimantan Timur dan Riau sedangkan yang paling rendah di Papua Barat, 30 provinsi lain rata-rata.  Indonesia memiiliki akumulasi Sumberdaya Alam terbesar di Dunia.  Ekspor hanya didominasi barang mentah dan barang setengah jadi.  Master Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI) diberlakukan untuk (1) meningkatkan daya saing; (2) konektivitas antar wilayah atau koridor ekonomi (Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Maluku).  Tager GDP pada tahun 2015 adalah 25.000USD/tahun dan pada tahun 2045 sebesar 45.000/tahun.   


Disarikan dari:
Semiloka Penanggulangan Kemiskinan Pemprov Jawa Timur dan Universitas Brawijaya
Universitas Brawiajaya, 06 Oktober 2011

Tidak ada komentar: