Selasa, 20 Agustus 2013

PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI INDONESIA 2013


SEMINAR PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI INDONESIA
OLEH: Dr. AVILIANI (KOMISARIS INDEPENDEN BANK RAKYAT INDONESIA)
ASOSIASI MANAJEMEN INDONESIA CABANG MALANG
HOTEL TUGU MALANG, 18 APRIL 2013
DITULIS KEMBALI OLEH: DANIEL S. STEPHANUS

Perkembangan ekonomi dunia mengalami perlambatan yang berkelanjutan.  Setelah jatuh karena peristiwa pengeboman WTC 11 September 2001 perekonomian dunia mulai merambat naik tetapi kembali jatuh lebih dalam lagi karena krisis subprime mortgage di Amerika Serikat pada tahun 2008—2009.  Setelah itu pertumbuhan ekonomi dunia cenderung melambat karena berbagai krisis yang datang menghantam satu persatau, krisis naiknya harga minyak mentah, krisis keuangan global karena utang di Eropa, dan berbagai krisis yang bersifat regional.  Banyak Negara maju yang bahkan memprediksi pertumbuhan ekonominya pada tahun 2013—2014 dengan pertumbuhan negative (WEO, WB, IMF, Oktober 2012).
Hanya beberapa Negara maju baru seperti China, India, dan Indonesia yang diramalkan akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif.  Walau Indonesia diramalkan akan mengalami pertumbuhan ekonomi positif tetapi berbagai permasalahan akan menghadang.  Subsidi energy yang mencapai RP300Trilyun pertahun bukanlah angka yang kecil.  Distribusi subsidi energy tersebut Rp70Trilyun dipergunakan untuk mensubsidi Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Rp175Trilyun untuk mensubsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang distribusinya 43% untuk sepeda motor yang saat ini jumlahnya 90Juta unit dan 57% untuk mobil yang jumlahnya 11Juta unit.  Nilai subsidinya sebesar Rp5.000 perliter.  Inflasi di Indonesia saat ini sebesar 4%, bila harga BBM dinaikkan inflasi diperkirakan akan menjadi 5% atau paling tinggi sebesar 6% “saja”.


Tiga Masalah Uatama Negara Maju
Defisit Anggaran
Di Amerika Serikat ditandai dengan munculnya scenario Fiscal cliff (kombinasi antara pemotongan anggaran dan kenaikan pajak).  Sedangkan di Uni Eropa berkutat pada perbaikan manajemen utang Negara peripheral.  Berlanjutnya kebijakan akomodatif yaitu: (1) suku bunga rendah, (2) quantitative easing (Uni Eropa melalui outright monetary transaction (OMT) sedangkan Amerika Serikat dengan QE jilid III dan Jepang dengan asset purchase program).
  
Tingginya Tingkat Pengangguran
Di Amerika Serikat sampai dengan triwulan III-2012, TPT mencapai 7,8%.  Sinyal perbaikan diperkirakan akan bergerak lambat karena minimnya realisasi investasi swasta.  Sedangkan di Uni Eropa, belum membaiknya kinerja pertumbuhan ekonomi (bahkan negative) menjadikan TPT menjadi lebih tinggi.  Pada triwulan III-2013 angka TPT mencapai 11,6%.

Sektor Perbankan yang Rapuh
Sisi permodalan Negara-negara maju relative rendah, seperti Italia (9,5%); Portugal (9,1%); dan Austria (9,9%).  Non Performance Loans (NPL) menjadi masalah lain di sector keuangan Negara-negara maju, seeprti mesir (20,2%); Irlandia (19,1%); Italia (10,7%); Spanyol (5,6%); Austria (8,5%); Perancis (5,25%); Inggris (7,5%); Denmark (5,8%); dan Amerikas Serikat (4,8%).

Diperkirakan akan terjadi pergeseran Product Domestic Bruto (PDB), pada tahun 2012 negara-negara maju menyumbang 51,3% PDB dunia dan diperkirakan pada tahun 2025 nanti hanya akan menyumbang 48% PDB dunia.
Jalur Transmisi Kondisi Ekonomi Global ke Indonesia
1.       Jalur Perdagangan
Indikator: Defisit Neraca Transaksi berjalan dari akhir tahun 2011 sampai dengan akhir tahun 2012, deficit neraca perdagangan Indonesia di atas 1% dari PDB.  Pangsa pasar ekspor bersih terhadap PDB menjadi negative, pada awal 2011 sebesar 2,3% dan pada akhir menjadi 0,6%.  Perhatian harus diberikan pada perkembangan sector kredit ke sector berorientasi ekspor dan impor untuk mengantisipasi kredit macet. Kredit ekspor menurun sedangkan kredit impor meningkat.

2.       Jalur Penanaman Modal
Terdapat peluang untuk Usaha dan Bisnis bagi sector keuangan.  Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memroyeksikan target investas pada tahun 2013 sebesar Rp390Trilyun.  Realisasi target sebesar 81,09% atau sebesar 283,5Trilyun yang terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 72,95% atau sebesar Rp206,8Trilyun sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 27,05% atau sebesar Rp76,7Trilyun.

3.       Inflasi (Harga Minyak dan Harga-HArga BArang Pemerintah) dan Pengaruhnya terhadap Lingkungan Bisnis
Secara umum, pergerakan harga komoditas sepanjang 2013 relatif stabil dan tidak ada kejutan-kejutan yang berarti terutama dari harga minyak.  Namun potensi lonjakan masih memunginkan terutama gejolak politik maupun yang bersifat fundamental.  Kenaikan Tarif Dasar Relatif (TDL) pertiga bulan dengan kenaikan perbulan sebesar 4,3% lebih baik ketimbang menaikkannya langsung sebesar 15%.  Pilihan menaikkan TDL selama 3 bulan akan lebih kecil pengaruhnya terhadap kenaikan harga (inflasi) dibandingkan dengan kenaikan langsung sebesar 15%.  Inflasi akibat kenaikan TDL bertahap diharapkan maksimal sebesar 0,5% saja.

Perekonomian dunia (7Milyar orang) dikendalikan oleh hanya 6.000 orang saja semacam George Soros, Warren Buffet, dan lain-lainya.  Saat ini tidak terjadi spekulasi karena orang-orang tersebut sedang tiarap menanti perkembangan perekonomian dunia membaik.  Sedangkan Negara-negara G-20 menguasai 80% GDP dunia.
Zero Sum Game Theory: There is no free lunch.  Contoh REDD (Uni Eropa dan Amerika Serikat) dan JICA (Jepang) membantu Indonesia tetapi sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pasar bagi produk-produk mereka.


Memaksimalkan Potensi Ekonomi Indonesia
Perkembangan Ekonomi Indonesia Triwulan I – 2013
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1 – 2013
Sisi permintaan: Sektor konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang Utama perekonomian, diperkirakan tetap soild pada angka 50—55% terhadap PDB.  Beberapa factor pendorong pertumbuhan sector konsumsi adalah peningkatan upah buruh (penyesuaian).  Sektor ini diproyeksi tumbuh pada kisaran 5%.  Belanja pemerintah diperkirakan berkontribusi stabil pada level 6—7% dengan pertumbuhan di kisaran 5%.  Sektor PMDTB diproyeksi tumbuh solid sejalan dengan kinerja yang cukup baik sepanjang 2013 dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 12%.  Defisit neraca transaksi berjalan masih berlangsung sejak triwulan IV – 2012 dengan besaran 1,4% (IV-2011); -3,6% (1-2012); -2,4%(II-2012); -3,6%(III-2012); -2,8%(IV-2012).
Kinerja Ekspor: Ekspor total sepanjang Januari—Februari 2013 mencapai USD30,36Milyar, turun 2,88% dari perioda yang sama pada tahun sebelumnya.  Ekspor migas dan nonmigas masing-masing USD5,1Milyar dan USD24,171Milliar, keduanya menurun 4,29% dan 2,14% dari tahun sebelumnya.
Kinerja Impor:  Impor total sepanjang Januari—Februari 2013 mencapai USD30,76 Milliar turun 0,86% dari perioda yang sama pada tahun sebelumnya.  Impor Migas dan Nonmigas masing-masing sebesar USD7,5Milliar dan USD23,155Milliar.  Impro migas menurun 8,09% dan Nonmigas naik 1,63% dari perioda yang sama pada tahun sebelumnya.
  
Perkembangan Ekonomi Dunia
Sisi Penawaran: Pertumbuhan terutama ditopang oleh sector pengangkutan dan telekomunikasi.  Secara umum dapat dikatakan non tradable tumbuh rata-rata di atas 5% sepanjang triwulan 1 – 2013.  Sektor-sektor tradable tumbuh relative rendah.  Untuk sector pertanian terpengaruh cuaca, sedangkan sector manufaktur terkendala masalah lonjakan tariff dasar listrik.
China mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 7,5%.  Kelas menengah bertumbuh pesat, konsumsi tetap, sehingga tabungan meningkat.  Melakukan aktvitas mencegah nilai Yuan naik untuk menjaga ekspor (currency war).  Memiliki cadangan devisa sebesar USD3Trilyiun (terbesar di dunia) setelah Rusia dan Jepang.  Dominasi ekspor sedangkan konsumsi dalam negeri tetap.

Perkembangan Sektor Keuangan
IHSG naik secara terus menerus dan mencapai level tertinggi (5.000).  Mengalami penurunan ROA, BOPO, NIM, dan Rasio Aset Likuid kecuali ATMR, LLDR, dan Kredit dan DPK (Statistik Perbankan Indonesia).

Perkembangan Indeks Tendensi Bisnis
Perkembangan tendsendi bisnis sektoral berada pada level optimis.

Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I – 2013
Bertumbuh dari waktu ke waktu, tetapi tidak merata, tertinggi di Sulawsi Utara dan terendah di Nusa Tenggara Timur.

Indonesia Menjadi Salah Satu Negara Tujuan Utama Investasi
Indonesia merupakan Negara tujuan investasi ke $ setelah China, USA, dan India.  Naik dari perioda sebelumnya yang berada pada urutan ke enam menggeser Brasil dan Rusia (UNCTAD, World Investment Report, 2012)



Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2013
Internal: Perbaikan belanja pemerintah.  Pengendalian inflasi domestic terutama dari sector pangan, infrastuktur, dan energy.  Perbaikan iklim investasi.  Peningkatan peranan sector keuangan.  Peningkatan peranan fektor formal.  Diversifikasi Negara tujuan ekspor dan komoditas ekspor.  Impor illegal.
Eksternal: Antisipasi krisis Uni Eropa dan kegagalan fiscal cliff Amerika Serikat.  Perlambatan kinerja Negara-negara tujuan ekspor Indonesia seperti China, Jepang, dan ASEAN.  Risiko geopolitik di Negara eksportir minyal yang dapat memicu lonjakan harga minyak, inflasi, dan suku bunga.

Upaya Menjaga Keseimbangan Internal dan Eksternal
Economic Growth (Sustainable + Balanced) + Internal Balance (growth + inflation) + External Balance (current account + capital inflows) (Bank Indonesia, 2012).
Internal balance: keseimbangan terjaga, namun dengan alokasi sumberdaya yang tidak efisien.
External balance: alokasi sumberdaya tidak efisien menimbulkan beban ke neraca pembayaran.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sektoral
Sektor: (1) Agriculture; (2) Mining and Quarrying; (3) Manufacturing; (4) Electricity, Gas, and Clean Water; (5) Construction; (6) Trade, Hotel, and Restaurant; (7) Transportation and Communication; (8) Finance, Leasing, and Business Service; (9) Services.
Gross Domestic Bruto (GDP): (1) Consumption expenditure: Household; (2) Consumption expenditure: Government; (3) Gross fixed capital formation; (4) Export of goods and services; (5) Import of goods and services; (6) Total consumption; (7) Domestic Demand.
Catatan: 26% hutan di Indonesia dipergunakan untuk carbon trade.  Sehingga, tanah di luar Jawa adalah tanah ulayat sehingga sulit untuk ekspansi untuk industrialisasi sector pangan.  Lahan pertanian yang dimiliki oleh petani di Indonesia rata-rata seluas 0,3 hektar, padahal untuk mencapai skala ekonomi yang optimal seharusnya seorang petani mengelolah 5 hektar.
Kebijakan one village on product (OVOP) tidak berjalan dengan baik.  Di Thailand, setiap kecamatan (distrik) memiliki took (workshop and store) yang menampung produk-produk OVOP dari seluruh Thailand.  

Proyeksi Ekonomi Indonesia 2013
PDB diproyeksi tumbuh diatas 6%.
Sisi penawaran:  Peluang uasaha masih muncul dari sector-sektor nontradable, dengan pertumbuhan diatas 5% pertahun.  Sektor pengangkutan dan komunikasi masih penyumbang pertumbuhan Utama.  Indikasinya adalah lonjakan penumpang pesawat udara dan penjualan gajet.  Sektor perdagangan, hotel, dan restoran semakin menggeliat sejalan dengan peningkatan jumlah kelas menengah di Indonesia.  The role of tradable sector still dominates on Indonesia Economy but its role on GDP tends to decrease in last few years.
Sisi permintaan: Peluang investasi muncul dari proyek-proyek pemerintah baik yang terangkum dalam MP3EI maupun proyek dari departemen.  Tingkat kepercayaan konsumen Indonesia terbaik setelah India dan Saudi Arabia.  Sektor konsumsi masih menjadi penopang Utama perekonomian nasional, diikuti oleh sector PMDTB.  Private consumption and gross domestic capital formation are two big share on GDP.  Conrtubution of export becomes decrease of less external demand.
Gap Ratio (Gap antara si kaya dan si miskin) di Indonesia sebesar 0,41 sedangkan di Negara-negara maju hanya sebesar 0,30.  Hal ini terjadi karena di Indonesia sector pertanian tidak diperhatikan.  Saat ini Indonesia sedang membangun SDM berorientasi pada manufaktur, dilakukan dengan memperbanyak SMK dan sekolah Vokasi.  Undisbursed loans cenderung meningkat, hal ini menunjukkan iklim usaha belum membaik.

Pemantauan Konsentrasi Kredit
Selain perdagangan Besar dan Eceran, sector penyerap kredit terbesar adalah Bukan Lapangan Usaha dan Rumah Tangga.  NPL gross di bawah 5% dan CAR di atas 8% (Bank Indonesia, 2012).  Sektor informal di Indonesia sekitar 70% ekonomi Indonesia.  Kuat karena tidak berhubungan dengan valuta asing sehingga tidak terpengaruh oleh gejolak dunia.

Memanfaatkan Bonus Demografi dan Perkembangan Kelas Menengah Asia
Defisini Kelas Memengah (Anthony Giddens):  Memiliki akses dan mampu memiliki pendidikan tersier (minimal pendidikan tinggi).  Memiliki kemampuan atau keahlian professional seperti akademisi.  Percaya terhadap nilai-nilai kelas menengah yaitu tingkat keamanan ekonomi dan kepemilikan tempat tinggal permanen.  Gaya hidup dimana hal ini bervariasi berdasarakan budaya, akan tetapi secara umum Nampak dalam perilaku, hubungan antar teman, gaya bahasa, kemampuan intelektual, dan peduli pada urusan kesehatan.  Peluang usaha yang dapat digarap adalah pusat-pusat hiburan, kesehatan, pendidikan, dan pusat-pusat perbelanjaan.
Masalah pertanian selesai, kemiskinan akan selesai.  Permasalahan di pedesaan: waris tanah sehingga skala ekonomi turun.  Transmigrasi adalah salah satu cara untuk memutus kemiskinan di pedesaan dan meningkatkan produktivtas pangan.
International Monetary Fund (IMF): menolak stabilisasi harga pada sembako sehingga meminta Bulog di bubarkan atau hanya boleh menjadi stabilisator hanya untuk beras, minyak goring, dan gula.  Redefinisi pangan dan simetric information dan stabilisasi harga melalui tariff.
Menurut Asian Development Bank (ADB, 2011), pada tahun 2030 jumlah kelas menengah (middle class) di dunia akan mencapai 4,99Milyar orang.  Sebanyak 54% dari jumlah tersebut tersebar di Asia.  Sementara jumlah kelas atas (upper class) diperkirakan mencapai 580 orang yang 17%nya ada di Asia.  Pada tahun 2050 jumlah kelas atas di Asia Pasifik akan mencapi 50orang atau 35,33% dari total kelas atas dunia.

Masalah Utama Daya Saing Indonesia
Masalah-masalah yang menghambat daya saing Indonesiasesuai urutannya: (1) inefficient government bureaucracy; (2) corruption; (3) inadequate supply of infrastructure; (4) poor work ethic in national labor force; (5) restrictive labor regulative; (6) inflation; (7) access to financing; (8) policy instability; (9) foreign currency regulative; (10) tax regulations; (11) government instability; (12) crime and theft; (13) inadequately educated workforce; (14) tax rates; (15) insufficient capacity to innovative; (16) poor public health. (World Economic Forum, 2012).

Dukungan Infrastruktur  Dalam Perekonomian 
Elastisitas pembangunan infrastuktur terhadap pertumbuhan ekonomi (10% dari pertumbuhan stok)


Catatan:
1.       MP3EI, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diharapkan jadi motor penggerak.
2.       2015 ASEAN Economic Community akan diberlakukan, perjanjiannya ditandatangani pada tahun 2007.
3.       60% kepemilikan Bank Swasta di Indonesia dikuasai oleh Penanaman Modal Asing.
4.       Redemonimasi:
a.       Bukan sanering (pemotongan nilai).
b.      Hanya mengurangi jumlah 0 (nol) dari uang rupiah.
c.       Penyederhanaan jumlah digit tanpa menurunkan daya beli.
d.      Contoh: Rp10.000,- menjadi Rp10,-
e.      Bertujuan untuk meningkatkan aspek psikologis.
f.        Mempermudah aspek teknis baik penulisan maupun perhitungan (kalkulator).





Tidak ada komentar: